Pemerintah Siapkan Hujan Buatan di Sejumlah Daerah

Selasa, 16 Juli 2019 - 06:35 WIB
Pemerintah Siapkan Hujan...
Pemerintah Siapkan Hujan Buatan di Sejumlah Daerah
A A A
JAKARTA - Pemerintah memutuskan menyiapkan hujan buatan dalam menghadapi bencana kekeringan di sejumlah daerah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) Letjen (TNI) Doni Monardo mengungkapkan, telah masuk permohonan dari beberapa kepala daerah untuk dilakukan hujan buatan.

“Dan tadi sesuai dengan arahan bapak presiden, BNPB untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan. Oleh karenanya, BNPB tentu tidak bisa sendirian, perlu bekerja sama dengan beberapa lembaga khususnya BMKG, BPPT, dan markas besar TNI,” kata Doni seusai ratas di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, ada kriteria tertentu untuk dapat dilakukan hujan buatan. Salah satunya kondisi awan. “Ini juga tergantung dari keadaan awan. Sehingga apabila awannya masih tersedia sangat mungkin hujan buatan masih bisa dilakukan,” paparnya. Dari data yang dikumpulkan BNPB sampai kemarin, jumlah wilayah yang terdampak kekeringan sebanyak 1.963 desa di 556 kecamatan dan di 79 kabupaten.

Di mana itu tersebar di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Meski demikian, menurut dia, hujan buatan ini hanya merupakan solusi jangka pendek semata. Sedangkan untuk solusi jangka panjang dan menengah dalam menghadapi kekeringan adalah dengan penyiapan bibit pohon. Ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber air.

“Dari beberapa pengalaman yang ada, jenis pohon tertentu itu memiliki kemampuan menyimpan air. Antara lain adalah sukun. Jadi kalau tiap desa punya sukun yang cukup banyak, maka sangat mungkin akar sukun itu bisa mengikat air, sehingga ketika musim kemarau panjang sumber air di desa itu masih bisa terjaga termasuk juga pohon aren,” ungkapnya.

Saat membuka ratas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku telah mendapat laporan bahwa musim kemarau 2019 akan lebih kering dan titik puncaknya adalah di bulan Agustus sampai September. “Beberapa daerah di negara kita sudah mengalami keadaan 21 hari tanpa hujan berarti statusnya waspada. 31 hari tanpa hujan berarti status siaga dan juga 61 hari tanpa hujan ini statusnya sudah awas. Ini yang terjadi di beberapa provinsi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT,” ungkapnya.

Jokowi pun meminta jajaran menteri, kepala lembaga, dan kepala daerah untuk langsung ke lapangan melakukan antisipasi. Dia meminta agar suplai air bersih maupun air pertanian terjaga. “Sehingga risiko terjadinya gagal panen bisa kita hindari. Kalau perlu kita lakukan modifikasi cuaca, pembangunan sungai bor, dan saya minta menteri LHK memantau, mengendalikan potensi titik panas hotspot yang ada dan kita harapkan kebakaran hutan dan lahan gambut bisa kita antisipasi dan kita hindari,” katanya.

Kepala BMKG Dwi Korita Karnawati mengatakan, puncak musim kemarau tidak akan terjadi serempak. Untuk wilayah selatan garis khatulistiwa, puncak kemarau terjadi di bulan Agustus dan dampak kekeringan sampai September. Sementara itu masuk bulan Oktober sampai Desember akan bergerak ke arah utara.

“Jadi tidak serempak. Cuma yang paling luas itu di bulan Agustus-September. Paling luas puncak musim kemaraunya itu di bulan Agustus, mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua bagian selatan. Kemudian masuk bulan Oktober, daerah selatan ini sudah mulai makin basah ke arah musim hujan. Keringnya berjalan menyebrang khatulistiwa, jadi ke arah utara. Itu sampai Desember masih ada kekeringan di Kalimantan Utara, masih ada,” paparnya.

Dia menyebut beberapa daerah sudah masuk pada status awas. Di antaranya Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao, Kupang, Belu, Bima, Dompu, Kota Bima, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, dan Buleleng. Lalu di Pulau Jawa antara lain Gresik, Magetan, Madiun, Ponorogo, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Bantul, Gunung Kidul, Sleman, Kulon Progo, Semarang, Blora, Boyolali, Demak, Cilacap, Bekasi, Karawang, Sumedang, Tangerang, dan Jakarta Utara.

“Justru itu tidak seragam dan mumpung ini masih awal Juli, jadi kan perlu ada antisipasi. Karena nanti ketersediaan air akan mengalami defisit terutama di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua itu akan defisit air juga, kering,” tandasnya. Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kekeringan saat ini masih terkendali dan belum masuk bencana.

Meski begitu, Agus memastikan bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) telah siap menangani hal tersebut. “Kekeringan yang sudah jadi bencana tentu kita harus lihat. Apakah cadangan berasnya cukup. Kita juga bisa membantu pengadaan air dan mengirimkan tanki-tanki atau truk-truk air. Tapi yang tadi dibahas ya mitigasinya dulu. Jadi jangan sampai bencananya. Misalnya dengan kita dorong dnegan hujan buatan dan lain sebagainya,” paparnya.
(don)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
Sejumlah Pabrik di China...
Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi Akibat Tarif AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved