Jokowi–Prabowo Akhiri Polarisasi yang Terjadi di Masyarakat

Senin, 15 Juli 2019 - 07:34 WIB
Jokowi–Prabowo Akhiri...
Jokowi–Prabowo Akhiri Polarisasi yang Terjadi di Masyarakat
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah mengakhiri rivalitas mereka dengan cara yang sangat elegan. Pertemuan keduanya dinilai membawa pesan damai dan mendorong semua komunitas untuk menyudahi polarisasi di tengah masyarakat. Setelah periode ketegangan yang cukup menyita waktu, Jokowi dan Prabowo akhirnya menunjukan ketulusan dan niat baik pada Sabtu (13/7) lalu.

Memenuhi harapan masyarakat, dua negarawan itu telah bertemu, berjabat tangan, dan saling memberi hormat di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. “Saya yakin dan percaya, pertemuan Jokowi-Prabowo dilandasi semangat persaudaraan sebangsa dan Satu Tanah Air Indonesia,” ungkap Ketua DPR Bambang Soesatyo di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, peristiwa pertemuan di Stasiun MRT Lebak Bulus itu mengandung ragam makna. Sebagian masyarakat akan menerjemahkan pertemuan itu sebagai bukti nyata berdamainya dua tokoh yang sebelumnya bersaing di ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pun menjadi menjadi penanda telah berakhirnya rivalitas kedua sosok tersebut.

“Tetapi, makna utama dari peristiwa itu adalah sebuah pesan damai kepada seluruh elemen rakyat Indonesia tentang urgensi merajut lagi persatuan dan kesatuan putra-putri ibu pertiwi. Pesan yang disampaikan dua negarawan itu tak lain bahwa polarisasi masyarakat akibat beda pilihan politik sudah harus diakhiri,” ujarnya.

Cepat atau lambat, kata Bambang, harmonisasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat harus segera dipulihkan. Saatnya bagi semua elemen bangsa melihat ke depan. Diakuinya, Pilpres 2019 telah menghadirkan ketegangan yang cukup menggelisahkan banyak orang, terutama karena terjadinya polarisasi masyarakat.

Ragam eksesnya sudah menjadi pengetahuan bersama, termasuk akar persoalannya. Semua peristiwa itu hendaknya menjadi pembelajaran bagi semua komunitas agar di kemudian hari tak berulang. “Pasca Piplres, semua berharap polarisasi itu diakhiri. Dan inisiatif mengakhiri polarisasi itu idealnya diambil dan diprakarsai oleh para tokoh.

Harapan masyarakat itu sudah dikabulkan karena baik Jokowi maupun Prabowo sudah mengambil prakarsa itu dengan menyuarakan pesan damai dari Stasiun MRT Lebak Bulus,” ungkapnya. Persoalan berikutnya, kata politikus Partai Golkar ini, adalah seberapa kuat pesan damai yang disampaikan Jokowi-Prabowo itu akan bertransmisi ke akar rumput. Hal ini menurut dia, sangat bergantung pada niat baik dan ketulusan semua komunitas menanggapi pesan itu.

“Memang, ada saja kelompok yang menunjukan sikap tidak senang dengan pertemuan Jokowi-Prabowo itu,” katanya. Tetapi, diyakininya bahwa sebagian besar komunitas mendukung dan mengapresiasi pesan damai dari kedua tokoh itu. Pertemuan itu setidaknya bisa menghilangkan kegelisahan sejumlah elemen masyarakat yang mendambakan terwujudnya harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina Jakarta Hendri Satrio berpendapat bahwa pertemuan rekonsiliasi antara Jokowi dan kompetitor politiknya Prabowo Subianto ingin menujukkan beberapa sinyal. Salah satunya bahwa mereka memiliki tujuan yang sama dalam membangun Indonesia. “(Lokasi pertemuan) MRT itu bagus artinya, Jokowi dan Prabowo kan di gerbong yang sama dan arahnya sama, MRT kan nggak mungkin beda arah jadi, satu arah tujuan,” tandasnya.

Hendri mengatakan, satu tujuan di sini adalah untuk membangun Indonesia bersama-sama yang diawali dengan rekonsiliasi. Karena, kalau membahas soal membangun koalisi bersama itu masih terlalu jauh. “(Tujuannya) Membangun Indonesia, kalo gerbong koalisi masih jauh,” paparnya.

Kedua, lanjutnya, karena Stasiun MRT ini merupakan area publik, maka yang menjadi saksi dari pertemuan dua tokoh ini adalah masyarakat dan banyak kalangan turut menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Dan terakhir, karena MRT merupakan moda transportasi umum, baik Jokowi maupun Prabowo hendak menunjukkan kepada masyarakat bahwa meskipun mereka adalah pemimpin dan tokoh besar, mereka tidak ingin berjarak dengan rakyat.

“Dua pemimpin ini mau menampilkan bahwa mereka ini satu hati lah dengan rakyat, tidak ada jarak dengan rakyat,” ujar Direktur Eksekutif KedaKOPI ini. Anggota Komisi I dari Fraksi PDI Perjuangan DPR Charles Honoris mengatakan, rekonsiliasi keduanya telah melampaui kepentingan politik praktis, seperti keputusan koalisi atau oposisi sekalipun.

“Mereka hanya ingin rakyat Indonesia kembali bersatu, tidak ada lagi cebong dan kampret, pasca-polarisasi yang tajam dalam Pilpres 2019,” ujarnya. Karena itu, menurut dia jika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan rekonsiliasi dua negarawan tersebut berarti mereka antipersatuan Indonesia dan anti-Pancasila. “Dengan kata lain, mereka hanyalah orang-orang yang ingin dan senang kalau Indonesia rusak dan terus terbelah agar kepentingan jangka pendek mereka tercapai,” tandasnya.

Patut dicurigai juga, lanjutnya, ada ideologi trans-nasional yang bermain di balik pihak-pihak yang tidak suka dengan rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo. “Sebab, siapapun yang masih mencintai Indonesia dengan segala kebinekaannya, pastilah setuju dengan semangat persatuan Indonesia yang diserukan Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ujarnya.

Pada akhirnya, dirinya mengajak segenap anak bangsa agar tidak pernah lelah untuk mencintai Indonesia dengan terus bekerja dan bergotong-royong membangun bangsa. “Sebaliknya, kita harus terus waspada terhadap kekuatan-kekuatan yang ingin merongrong dan merusak NKRI. Indonesia tidak boleh kalah dengan kekuatan-kekuatan anti-Pancasila dalam bentuk apapun,” tandasnya.

Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mengungkapkan bahwa pertemuan Prabowo dengan Jokowi merupakan amanat dari kader Gerindra baik elite maupun akar rumput. “Pertemuan Prabowo dan Joko Widodo merupakan amanat dari kader Partai Gerindra di akar rumput. Jadi, Pak Prabowo harus menjalankan amanat Partai Gerindra untuk mengadakan pertemuan dengan Pak Joko Widodo,” kata Arief.

Menurut Arief, semua kader Gerindra baik itu elite hingga akar rumput sudah menyetujui dan mendukung Prabowo untuk menyambut baik permintaan Jokowi untuk bertemu pascaputusan sengketa Perselisihan Hasil Pilpres (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK). Karena itu, bagi pihak-pihak yang merasa kecewa pada Prabowo, baiknya tidak berpikiran negatif.

“Jadi bagi yang masih kesal dan kecewa jangan pada Pak Prabowo dong karena ini adalah keputusan dari para simpatisan dan kader Gerindra yang memang menginginkan adanya suasana persatuan kembali di masyarakat pascapilpres. Karena, banyak di masyarakat sesama keluarga saja bisa terjadi perpecahan akibat Pilpres 2019 tentu saja ini tidak baik tentunya,” tandasnya.

Menurut Arief, yang terpenting adalah silahturahmi ini hanyalah bertujuan untuk bangsa Indonesia, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan karena pertemuan ini bertujuan untuk rekonsiliasi antarkedua belah pihak di tengah polarisasi masyarakat pascapilpres. “Senyum, senyum dong untuk Indonesia! Jadi hilang rasa kecewa dan kesal akibat pertemuan Prabowo dan Joko Widodo,” pintanya.
(don)
Berita Terkait
Istana Benarkan Presiden...
Istana Benarkan Presiden Jokowi Dinner Bareng Prabowo Subianto
Tiba di Indonesia, Jokowi...
Tiba di Indonesia, Jokowi Disambut Prabowo Subianto di Bandara Soetta
Jokowi: Buat Saya Prabowo...
Jokowi: Buat Saya Prabowo Subianto Itu Sangat Spesial
Momen Prabowo Dampingi...
Momen Prabowo Dampingi Jokowi Salurkan Bansos, Resmikan Jembatan hingga Temui Nelayan
Jokowi Temui Presiden...
Jokowi Temui Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Ada Apa?
Penampakan Prabowo Subianto...
Penampakan Prabowo Subianto Tinggalkan Istana Kepresidenan
Berita Terkini
Minta Maaf ke Presiden,...
Minta Maaf ke Presiden, Febrie Adriansyah Akan Buktikan Kebenaran Sesuai Fakta Hukum
Londo Ireng di Republik...
Londo Ireng di Republik Antikritik
KPK Geledah Rumah Kadis...
KPK Geledah Rumah Kadis PUPR Bengkulu, Sita Uang Rp4 Miliar
Royal Dinner UKSW, Sultan...
Royal Dinner UKSW, Sultan Ternate ke-49 Desak Sahkan RUU Masyarakat Adat
Presiden Prabowo Dijadwalkan...
Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
Febrie Adriansyah Tidak...
Febrie Adriansyah Tidak Diborgol, Boyamin Saiman: Kejaksaan Agung Ceroboh
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved