Cerita Dokter Sri Menangani Jamaah Haji yang Meninggal di Pesawat
Selasa, 09 Juli 2019 - 03:25 WIB
Cerita Dokter Sri Menangani Jamaah Haji yang Meninggal di Pesawat
A
A
A
MADINAH - Suasana di dalam pesawat sepi. Sebagian besar jamaah haji asal Embarkasi Solo (SOC) 2 tertidur. Sebagian kecil lain melihat film atau mendengarkan lagu sebagai hiburan. Perjalanan panjang hampir selama 9 jam cukup menguras tenaga 359 jamaah haji yang berada di Pesawat Garuda bernomor penerbangan GA6102.
Dokter Sri Mulyani, Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang duduk di bagian depan kursi penumpang langsung bergegas. Dia mendapat laporan ada salah satu jamaah haji di bagian tengah kursi penumpang mual dan muntah-muntah. Namanya Sumiyatun Sawi Krama. Dokter Sri dibantu petugas TKHI lainnya kemudian melakukan tindakan medis sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan darurat.
"Tapi tensinya terus menurun," kata dokter Sri menceritakan kronologi jamaah haji yang meninggal dunia di pesawat kepada wartawan, Senin (8/7/2019) siang waktu Arab Saudi.
Beragam tindakan darurat kemudian dilakukan dokter Sri untuk mengembalikan kondisi tubuh Sumiyatun. Namun, kondisi kesehatannya terus menurun. Dalam kondisi kritis itu, tiba-tiba terjadi henti napas dan henti jantung. Petugas TKHI pun segera melakukan resusitasi jantung paru (RJP), sebuah pertolongan medis untuk mengembalikan fungsi napas dan atau sirkulasi darah di dalam tubuh yang terhenti.
"Kami telah melakukan penanganan maksimal, tapi tidak tertolong," tuturnya dengan raut muka sedih.
Menurut dokter Sri, proses penanganan Sumiyatun tidak terlalu mencolok meski tindakan medis dilakukan di tempat duduk. Banyak jamaah yang tetap tidur karena sudah malam dan capek. Sumiyatun juga tidak bersuara sebagaimana orang yang kesakitan. Sepatah kata juga tidak diucapkan.
Setelah jamaah haji asal Desa Godog, RT 02/RW 4, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah itu dinyatakan meninggal dunia, TKHI lalu melaporkannya kepada kru maskapai Garuda. Evakuasi jenazah dilakukan terakhir setelah seluruh penumpang turun.
"Sebelumnya, tim kesehatan Bandara Madinah juga melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan jamaah haji telah meninggal dunia," katanya.
Ketua Kloter 2 Embarkasi Solo (SOC), Lasimin menceritakan, Sumiyatun masuk asrama haji dalam keadaan sehat. Namun setelah diperiksa dokter baru ketahuan bahwa Sumiyatun mengidap penyakit diabetes.
"Saat diperiksa juga biasa, cuma dokter menemukan adanya penyakit gula," kata Lasimin.
Saat masuk pesawat, kata Lasimin, Sumiyatun juga sehat. Waktu diberikan makan pertama di pesawat juga dikonsumsi. Namun untuk makan kedua sudah tidak mau.
Setelah itu, kira-kira 50 menit sebelum mendarat, tiba-tiba Sumiyatun muntah. Dia kemudian diperiksa dokter di pesawat. Namun kondisinya langsung drop. "Lemes, setelah itu meninggal dunia. Prosesnya cepet banget nggak sampai 10 menit," kata Lasimin.
Lasimin mengatakan, kejadian ini telah disampaikan kepada keluarga Sumiyatun di Sukoharjo. Rencananya, jenazah Sumiyatun akan dikuburkan di Madinah setelah dokumen kematian diterbitkan.
Dokter Sri Mulyani, Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang duduk di bagian depan kursi penumpang langsung bergegas. Dia mendapat laporan ada salah satu jamaah haji di bagian tengah kursi penumpang mual dan muntah-muntah. Namanya Sumiyatun Sawi Krama. Dokter Sri dibantu petugas TKHI lainnya kemudian melakukan tindakan medis sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan darurat.
"Tapi tensinya terus menurun," kata dokter Sri menceritakan kronologi jamaah haji yang meninggal dunia di pesawat kepada wartawan, Senin (8/7/2019) siang waktu Arab Saudi.
Beragam tindakan darurat kemudian dilakukan dokter Sri untuk mengembalikan kondisi tubuh Sumiyatun. Namun, kondisi kesehatannya terus menurun. Dalam kondisi kritis itu, tiba-tiba terjadi henti napas dan henti jantung. Petugas TKHI pun segera melakukan resusitasi jantung paru (RJP), sebuah pertolongan medis untuk mengembalikan fungsi napas dan atau sirkulasi darah di dalam tubuh yang terhenti.
"Kami telah melakukan penanganan maksimal, tapi tidak tertolong," tuturnya dengan raut muka sedih.
Menurut dokter Sri, proses penanganan Sumiyatun tidak terlalu mencolok meski tindakan medis dilakukan di tempat duduk. Banyak jamaah yang tetap tidur karena sudah malam dan capek. Sumiyatun juga tidak bersuara sebagaimana orang yang kesakitan. Sepatah kata juga tidak diucapkan.
Setelah jamaah haji asal Desa Godog, RT 02/RW 4, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah itu dinyatakan meninggal dunia, TKHI lalu melaporkannya kepada kru maskapai Garuda. Evakuasi jenazah dilakukan terakhir setelah seluruh penumpang turun.
"Sebelumnya, tim kesehatan Bandara Madinah juga melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan jamaah haji telah meninggal dunia," katanya.
Ketua Kloter 2 Embarkasi Solo (SOC), Lasimin menceritakan, Sumiyatun masuk asrama haji dalam keadaan sehat. Namun setelah diperiksa dokter baru ketahuan bahwa Sumiyatun mengidap penyakit diabetes.
"Saat diperiksa juga biasa, cuma dokter menemukan adanya penyakit gula," kata Lasimin.
Saat masuk pesawat, kata Lasimin, Sumiyatun juga sehat. Waktu diberikan makan pertama di pesawat juga dikonsumsi. Namun untuk makan kedua sudah tidak mau.
Setelah itu, kira-kira 50 menit sebelum mendarat, tiba-tiba Sumiyatun muntah. Dia kemudian diperiksa dokter di pesawat. Namun kondisinya langsung drop. "Lemes, setelah itu meninggal dunia. Prosesnya cepet banget nggak sampai 10 menit," kata Lasimin.
Lasimin mengatakan, kejadian ini telah disampaikan kepada keluarga Sumiyatun di Sukoharjo. Rencananya, jenazah Sumiyatun akan dikuburkan di Madinah setelah dokumen kematian diterbitkan.
(amm)