Dibanding Gempa dan Tsunami, Cuaca Ekstrem Lebih Banyak Makan Korban
Jum'at, 26 April 2019 - 14:29 WIB
Dibanding Gempa dan Tsunami, Cuaca Ekstrem Lebih Banyak Makan Korban
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan tren bencana hidrometeorologi di Indonesia mengalami peningkatan.
Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang hujan lebat, dan gelombang tinggi.
"Jadi dibandingkan dengan gempa dan tsunami, korbannya jauh lebih besar. Tapi gempa dan tsunami jarang. Sementara bencana hidrometeologi, korbannya tidak sebanyak gempa tsunami tetapi kejadiannya sering sekali sehingga jumlahnya melampaui gempa dan tsunami," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat acara Zurich Global Risk Forum: Global Fragilities, Risk Mitigation and Impact to Today's Interconnected World, di Hotel Westin, Jakarta, Jumat (26/4/2019).
Dwikorta menjelaskan, dampak bencana tahun 2018 telah menelan 4.000 korban jiwa. Lebih dari 10 juta mengungsi.
Menurut dia, jumlah korban yang banyak itu ternyata banyak diakibatkan bencana gempa dan tsunami tetapi dari berbagai bencana akibat cuaca ekstrem atau hidrometeorologi yang berkibat pada banjir, banjir bandang, longsor, puting beliung.
"Bencana di Indonesia justru yang paling besar adalah banjir, khusus untuk bencana akibat cuaca, iklim. Tadi, menurut BNPB justru malah banjir," tuturnya.
Untuk mengantisipasi itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Geologi mengedepankan early warning system atau sistem peringatan dini. Peringatan dini tersebut akan diharapkan dapat membantu masyarakat dan seluruh instansi untuk bisa mengantisipasi dan mencegah terjadinya bencana.
Dengan sinkronisasi sistem antara BMKG dan PUPR serta Badan Geologi juga dapat menjadi pertimbangan pihak asuransi untuk mengatur premi asuransi.
"Kami hadirkan sistem untuk mitigasi atau untuk beradaptasi ini tentunya penting menjadi pertimbangan dalam hal asuransi. Apabila sudah ada sistem tentu asuransinya, preminya akan berbeda dengan sama sekali tidak ada sistem di sana, tidak ada regulasi di sana," tuturnya
Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang hujan lebat, dan gelombang tinggi.
"Jadi dibandingkan dengan gempa dan tsunami, korbannya jauh lebih besar. Tapi gempa dan tsunami jarang. Sementara bencana hidrometeologi, korbannya tidak sebanyak gempa tsunami tetapi kejadiannya sering sekali sehingga jumlahnya melampaui gempa dan tsunami," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat acara Zurich Global Risk Forum: Global Fragilities, Risk Mitigation and Impact to Today's Interconnected World, di Hotel Westin, Jakarta, Jumat (26/4/2019).
Dwikorta menjelaskan, dampak bencana tahun 2018 telah menelan 4.000 korban jiwa. Lebih dari 10 juta mengungsi.
Menurut dia, jumlah korban yang banyak itu ternyata banyak diakibatkan bencana gempa dan tsunami tetapi dari berbagai bencana akibat cuaca ekstrem atau hidrometeorologi yang berkibat pada banjir, banjir bandang, longsor, puting beliung.
"Bencana di Indonesia justru yang paling besar adalah banjir, khusus untuk bencana akibat cuaca, iklim. Tadi, menurut BNPB justru malah banjir," tuturnya.
Untuk mengantisipasi itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Geologi mengedepankan early warning system atau sistem peringatan dini. Peringatan dini tersebut akan diharapkan dapat membantu masyarakat dan seluruh instansi untuk bisa mengantisipasi dan mencegah terjadinya bencana.
Dengan sinkronisasi sistem antara BMKG dan PUPR serta Badan Geologi juga dapat menjadi pertimbangan pihak asuransi untuk mengatur premi asuransi.
"Kami hadirkan sistem untuk mitigasi atau untuk beradaptasi ini tentunya penting menjadi pertimbangan dalam hal asuransi. Apabila sudah ada sistem tentu asuransinya, preminya akan berbeda dengan sama sekali tidak ada sistem di sana, tidak ada regulasi di sana," tuturnya
(dam)