Soal Pertahanan, Jokowi Dinilai Punya Visi yang Konkret Dibanding Prabowo
Senin, 01 April 2019 - 19:30 WIB
Soal Pertahanan, Jokowi Dinilai Punya Visi yang Konkret Dibanding Prabowo
A
A
A
JAKARTA - Debat keempat yang membahas tentang ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional masih menyisakan perdebatan publik. Termasuk soal pertahanan yang memang menjadi perdebatan serius antara Capres Jokowi dan Capres Prabowo Subianto.
Ketua Lembaga Kajian Reformasi Keamanan dan Pertahanan Pokja8, Edy Prasetyono menganggap, jika dicermati lebih mendalam, visi Jokowi tentang pertahanan lebih konkret dibanding penantangnya, Prabowo.
"Kalau saya melihat Pak Jokowi punya visi ke depan. Jadi punya pemahaman yang lebih baik," kata Edy, Senin (1/4/2019).
Menurut Edy, rencana pertahanan yang disampaikan calon petahana itu dianggap sejalan dengan rencana strategi pertahanan. Sebab, selama ini pertahanan masih bergantung kepada luar negeri.
Lebih lanjut, Edy mengatakan kebergantungan Indonesia atas alat utama sistem pertahanan (Alutsista) berdampak negatif bagi keuangan negara. Sehingga, ia menyebut pembangunan industri pertanahan merupakan solusi atas hal itu.
Dengan membangun industri pertahanan, ia meyakini banyak negara akan menjalin kerjasama investasi dengan Indonesia dalam bidang pertahanan.
"Kalau melihat gagasannya kemarin itu tampaknya Pak Jokowi ingin merubah cara pikir kita jangan hanya melihat pengadaan Alutsista atau modernisasi (pertahanan) itu dari sekedar spending, tapi bisa menjadi investasi," pungkasnya.
Ketua Lembaga Kajian Reformasi Keamanan dan Pertahanan Pokja8, Edy Prasetyono menganggap, jika dicermati lebih mendalam, visi Jokowi tentang pertahanan lebih konkret dibanding penantangnya, Prabowo.
"Kalau saya melihat Pak Jokowi punya visi ke depan. Jadi punya pemahaman yang lebih baik," kata Edy, Senin (1/4/2019).
Menurut Edy, rencana pertahanan yang disampaikan calon petahana itu dianggap sejalan dengan rencana strategi pertahanan. Sebab, selama ini pertahanan masih bergantung kepada luar negeri.
Lebih lanjut, Edy mengatakan kebergantungan Indonesia atas alat utama sistem pertahanan (Alutsista) berdampak negatif bagi keuangan negara. Sehingga, ia menyebut pembangunan industri pertanahan merupakan solusi atas hal itu.
Dengan membangun industri pertahanan, ia meyakini banyak negara akan menjalin kerjasama investasi dengan Indonesia dalam bidang pertahanan.
"Kalau melihat gagasannya kemarin itu tampaknya Pak Jokowi ingin merubah cara pikir kita jangan hanya melihat pengadaan Alutsista atau modernisasi (pertahanan) itu dari sekedar spending, tapi bisa menjadi investasi," pungkasnya.
(pur)