KPAI Sarankan Isu Rokok Dibahas dalam Debat Ketiga Pilpres
Sabtu, 09 Maret 2019 - 16:09 WIB
KPAI Sarankan Isu Rokok Dibahas dalam Debat Ketiga Pilpres
A
A
A
JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Kesehatan, Sitti Hikmawatty menyebut bahaya rokok menjadi permasalahan serius bagi masa depan generasi muda Indonesia.
Oleh karena itu, kata dia, rokok menjadi isu yang bagus diangkat oleh kedua tim pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres). Apalagi menjelang debat ketiga pilpres yang akan digelar 17 Maret mendatang.
Sekadar informasi, debat ketiga akan membahas tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta Sosial dan kebudayaan.
"Jadi sangat tepat sekali hal ini diangkat para tim sukses," ujar Sitti saat diskusi Polemik MNC Trijaya bertema Menuju Debat III Menakar Visi Kesehatan, di d'Consulate Resto, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019).
Sitti menjelaskan dari data yang dimilikinya menunjukan terdapat korelatif stunting dengan kemiskinan. Jika dilihat dari tumbuh kembang anak merokok dibanding anak tidak merokok terdapat perbedaan signifikan pertumbuhan berat badan (BN) dan tinggi badan (TB).
"Anak-anak kelompok perokok berat badannya lebih ringan antara 1-2 kg tumbuh tinggi badan lebih rendah 0,34 cm pada satu generasi tapi ketika itu menyangkut generasi berikutnya hal-hal yang awalnya tidak dominan tidak jadi dominan nah yang kami khawatirkan angka kejadian perokok usia muda bergeser semakin lebih muda," tuturnya.
Sitti mengungkapkan, ada sebagian masyarakat yang lebih memilih membelanjakan sebagian uangnya untuk merokok daripada membeli bahan pokok kebutuhan sehari-hari. (Baca juga: BPS: Angka Kemiskinan Rokok Turun jika Kebiasaan Rokok Dihilangkan )
Oleh karena itu, kata dia, rokok menjadi isu yang bagus diangkat oleh kedua tim pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres). Apalagi menjelang debat ketiga pilpres yang akan digelar 17 Maret mendatang.
Sekadar informasi, debat ketiga akan membahas tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta Sosial dan kebudayaan.
"Jadi sangat tepat sekali hal ini diangkat para tim sukses," ujar Sitti saat diskusi Polemik MNC Trijaya bertema Menuju Debat III Menakar Visi Kesehatan, di d'Consulate Resto, Jakarta Pusat, Sabtu (9/3/2019).
Sitti menjelaskan dari data yang dimilikinya menunjukan terdapat korelatif stunting dengan kemiskinan. Jika dilihat dari tumbuh kembang anak merokok dibanding anak tidak merokok terdapat perbedaan signifikan pertumbuhan berat badan (BN) dan tinggi badan (TB).
"Anak-anak kelompok perokok berat badannya lebih ringan antara 1-2 kg tumbuh tinggi badan lebih rendah 0,34 cm pada satu generasi tapi ketika itu menyangkut generasi berikutnya hal-hal yang awalnya tidak dominan tidak jadi dominan nah yang kami khawatirkan angka kejadian perokok usia muda bergeser semakin lebih muda," tuturnya.
Sitti mengungkapkan, ada sebagian masyarakat yang lebih memilih membelanjakan sebagian uangnya untuk merokok daripada membeli bahan pokok kebutuhan sehari-hari. (Baca juga: BPS: Angka Kemiskinan Rokok Turun jika Kebiasaan Rokok Dihilangkan )
(dam)