Butuh Relawan Milenial untuk Sejukkan Dinamika Pilpres
Jum'at, 07 Desember 2018 - 15:55 WIB
Butuh Relawan Milenial untuk Sejukkan Dinamika Pilpres
A
A
A
JAKARTA - Pemilu 2019 semakin dekat. Seiring dengan itu, suasana politik Tanah Air kian menghangat. Tim sukses dua kubu saling melancarkan "serangan".
Situasi itu terlihat di dunia maya. Cara dan tindakan para tim sukses (timses) dan pendukung saling serang, saling ejek, saling hina, saling caci, dan saling benci.
“Harusnya timses dan pendukung ‘saling jual’ program dan keunggulan calonnya ke masyarakat, bukan malah memprovokasi pendukungnya untuk saling menjelekkan dan menyerang lawan,” kata pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio di Jakarta, Kamis 6 Desember 2018.
Berdasarkan teori, kata Hendri, proses demokrasi akan langgeng dan damai dilaksanakan bila tercapai tiga hal, yakni ekonomi merata, hukum yang tidak tebang pilih, kedewasaan berpolitik termasuk di dalamnya toleransi.
Menurut Hendri, kultur masyarakat Indonesia masih mengikuti tokoh dan panutannya. Kalau panutannya menyejukkan, maka mereka juga sejuk.Meski saat ini panutannya belum debat, belum berdiskusi, belum berpolemik di ranah yang substantif tapi masih ranahnya kampanye sudah saling serang, saling tuding sehingga memunculkan kata-kata seperti saya tabok, wajah boyolali, lulusan SMA hanya jadi ojek, dan lain-lain.
Dia juga menyoroti perbedaan kampanye pilpres lima tahun lalu dengan Pilpres 2019. Pada 2014 silan, masa kampanye relatif sebentar, sementara sekarang waktunya sekitar enam bulan.
Menurut dia, dinamika dua bulan kampanye dinamikanya sudah seperti ini. Padahal masih ada waktu empat bulan lagi menuju masa pemiihan.
“Tanpa disadari, akibat waktu kampanye terlalu lama, masyarakat jadi terjebak dengan lamanya waktu kampanye. Itu membuat mereka terjebak juga dalam lingkaran media sosial (medsos). Ironisnya mereka tidak sadar medsos makin penuh dengan berbagai hal negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam, adu domba, dan lain-lain,” tutur Hendri.
Dia menyarankan harus ada kerja sama menyeluruh antara badan dan lembaga negara untuk mendinginkan suasana. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), TNI, Polri melalui bidang siber tidak boleh berhenti menyampaikan pesan damai melalui medsos.
“Rangkulah ulama dan tokoh agama yang memiliki kharisma, sehingga masyarakat bisa lebih tertata dan terjaga,” tukasnya.
Selain itu, kata Hendri, perlu ada relawan masyarakat yang berperan melawan upaya-upaya perpecahan, baik di alam nyata maupun maya. Ini akan menjadi langkah pemberdayaan masyarakat yang kesannya kecil, tapi akan berdampak sangat besar bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Saya kira perlu ada gerakan relawan milenial tapi gerakannya akan seperti apa yang dan bisa mencakup pendukung capres 01 dan capres 02 dan dimengerti masyarakat secara cepat. Saya yakin pasti sebagian bahkan seluruh rakyat indonesia tidak ingin pecah apalagi cuma gara-gara medsos,” tuturnya.
Hendri yakin bila gerakan relawan milenial mulai bergerak, para anak muda Indonesia akan bersatu. Dia juga mengajak seluruh pihak agar tidak khawatir dengan adanya kubu-kubuan menjelang pilpres.
“Kubu-kubuan tidak perlu dikhawatirkan, biar kubu-kubuan itu diselesaikan pada saat Pilpres 2019. Pada saat anda mencoblos silakan mencoblos, tapi begitu keluar TPS selesai. Toh setelah nyoblos kita tetap sama yaitu rakyat Indonesia," tuturnya.
Situasi itu terlihat di dunia maya. Cara dan tindakan para tim sukses (timses) dan pendukung saling serang, saling ejek, saling hina, saling caci, dan saling benci.
“Harusnya timses dan pendukung ‘saling jual’ program dan keunggulan calonnya ke masyarakat, bukan malah memprovokasi pendukungnya untuk saling menjelekkan dan menyerang lawan,” kata pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio di Jakarta, Kamis 6 Desember 2018.
Berdasarkan teori, kata Hendri, proses demokrasi akan langgeng dan damai dilaksanakan bila tercapai tiga hal, yakni ekonomi merata, hukum yang tidak tebang pilih, kedewasaan berpolitik termasuk di dalamnya toleransi.
Menurut Hendri, kultur masyarakat Indonesia masih mengikuti tokoh dan panutannya. Kalau panutannya menyejukkan, maka mereka juga sejuk.Meski saat ini panutannya belum debat, belum berdiskusi, belum berpolemik di ranah yang substantif tapi masih ranahnya kampanye sudah saling serang, saling tuding sehingga memunculkan kata-kata seperti saya tabok, wajah boyolali, lulusan SMA hanya jadi ojek, dan lain-lain.
Dia juga menyoroti perbedaan kampanye pilpres lima tahun lalu dengan Pilpres 2019. Pada 2014 silan, masa kampanye relatif sebentar, sementara sekarang waktunya sekitar enam bulan.
Menurut dia, dinamika dua bulan kampanye dinamikanya sudah seperti ini. Padahal masih ada waktu empat bulan lagi menuju masa pemiihan.
“Tanpa disadari, akibat waktu kampanye terlalu lama, masyarakat jadi terjebak dengan lamanya waktu kampanye. Itu membuat mereka terjebak juga dalam lingkaran media sosial (medsos). Ironisnya mereka tidak sadar medsos makin penuh dengan berbagai hal negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, kampanye hitam, adu domba, dan lain-lain,” tutur Hendri.
Dia menyarankan harus ada kerja sama menyeluruh antara badan dan lembaga negara untuk mendinginkan suasana. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), TNI, Polri melalui bidang siber tidak boleh berhenti menyampaikan pesan damai melalui medsos.
“Rangkulah ulama dan tokoh agama yang memiliki kharisma, sehingga masyarakat bisa lebih tertata dan terjaga,” tukasnya.
Selain itu, kata Hendri, perlu ada relawan masyarakat yang berperan melawan upaya-upaya perpecahan, baik di alam nyata maupun maya. Ini akan menjadi langkah pemberdayaan masyarakat yang kesannya kecil, tapi akan berdampak sangat besar bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Saya kira perlu ada gerakan relawan milenial tapi gerakannya akan seperti apa yang dan bisa mencakup pendukung capres 01 dan capres 02 dan dimengerti masyarakat secara cepat. Saya yakin pasti sebagian bahkan seluruh rakyat indonesia tidak ingin pecah apalagi cuma gara-gara medsos,” tuturnya.
Hendri yakin bila gerakan relawan milenial mulai bergerak, para anak muda Indonesia akan bersatu. Dia juga mengajak seluruh pihak agar tidak khawatir dengan adanya kubu-kubuan menjelang pilpres.
“Kubu-kubuan tidak perlu dikhawatirkan, biar kubu-kubuan itu diselesaikan pada saat Pilpres 2019. Pada saat anda mencoblos silakan mencoblos, tapi begitu keluar TPS selesai. Toh setelah nyoblos kita tetap sama yaitu rakyat Indonesia," tuturnya.
(dam)