Tempat Publik Menggantungkan Harapan, Pers Tak Boleh Antikritik

Kamis, 06 Desember 2018 - 16:44 WIB
Tempat Publik Menggantungkan...
Tempat Publik Menggantungkan Harapan, Pers Tak Boleh Antikritik
A A A
JAKARTA - Insan pers di Indonesia harus menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi. Tugas pers adalah melakukan pengembangan atau meningkatkan kompetensi supaya tidak seperti yang dituduhkan.

“Pers Indonesia, dalam hal ini IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), tidak boleh cengeng atau marah dengan kritik,” kata Ketua Umum IJTI, Yadi Hendriana dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Kamis (6/12/2018).

Yadi mengatakan, pers harus tetap memiliki sikap fairness, berintegritas, dan terus menjunjung tunggi kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, pers hanya punya satu orientasi yaitu kepentingan publik.

“Diakui atau tidak kita memang masih banyak lemahnya. Semua anggota IJTI harus terus mengembangkan diri untuk menyongsong masa depan. Juga membuktikan bahwa kita bisa berkarya untuk kebaikan masyarakat luas, bukan kepentingan sesaat atau satu kelompok,” lanjutnya.

Lebih lanjut Yadi mencontohkan kasus di Amerika Serikat (AS). Saat Pilpres AS yang lalu, Donald Trump melemparkan kritik keras (banyak yang mengatakan menghina) terhadap pers AS.

Terhadap kritik tersebut, pers negara Paman Sam tidak marah. Mereka sadar betul profesi jurnalis itu tempatnya orang-orang profesional bekerja. Tempatnya public menggantungkan harapan. “Media-media terkenal seperti CNN, Fox, Washington Post, dan lain-lain menyadari betul waktu itu bahwa pers di AS sempat terlampar situasi yang cukup buruk,” jelasnya.

Indeks kebebasan pers mereka turun ke peringkat 41. Hal itu dampak dari Gedung putih sebelum era Trump yang sempat “menutup diri” terhadap pers karena dianggap banyak mengecam kebijakan ekonomi Obama. Kondisi lain juga tak jauh beda dengan negara-negara maju lainnya. Pers selalu menjadi lemparan kritik.

Namun, ujar Yadi, kritik itu menjadi cambuk dan obat untuk autoktritik. Pers merupakan profesi yang setiap hari butuh pengembangan diri. Pers itu seperti perahu dan insan pers penumpangnya. Jika rusak atau bocor maka insan pers akan tenggelam bersama. “Apalagi praktik-praktik tidak profesional banyak dilakukan sebagian pers,” lanjutnya.

Dengan demikian, terkait kritik, pers harus bangkit dan memperbaiki diri. “IJTI, organisasi tempat berkumpulnya orang-orang profesional bertugas mengembangkan kemampuan anggotanya,” tuturnya.
(poe)
Berita Terkait
Media Massa Harus Pikirkan...
Media Massa Harus Pikirkan Efek Pemberitaan
Media Harus Tanamkan...
Media Harus Tanamkan Kode Etik Jurnalistik dalam Pemberitaan
Kebakaran Jakarta Islamic...
Kebakaran Jakarta Islamic Center Jadi Pemberitaan Media Asing
Kunjungi iNews Media...
Kunjungi iNews Media Group, Kadispenad Perkuat Silaturahmi dan Kerja Sama Pemberitaan
IJTI Imbau Media Tidak...
IJTI Imbau Media Tidak Mengeksploitasi Pemberitaan Kasus Anak
iNews Media Group Temui...
iNews Media Group Temui Mensos Risma Perkuat Silaturahmi dan Kerja Sama Pemberitaan
Berita Terkini
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
5 Berita Hukum Pekan...
5 Berita Hukum Pekan Ini: Dadan Hindayana dan Silmy Karim Tersangka Korupsi, Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Tata Kelola Saja Tidak...
Tata Kelola Saja Tidak Cukup, Gus Mashum: NU juga Butuh Tata Krama
Infografis
10 Pesawat Tempur Paling...
10 Pesawat Tempur Paling Laku di Pasaran, Juaranya Tak Terduga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved