Tokoh Agama Diminta Beri Kesejukan di Pemilu dan Pilpres 2019
Jum'at, 16 November 2018 - 18:52 WIB
Tokoh Agama Diminta Beri Kesejukan di Pemilu dan Pilpres 2019
A
A
A
JAKARTA - Tokoh lintas agama diminta memberikan kesejukan dan rasa aman kepada masyarakat di tengah berlangsung Pemilu 2019. Semua elemen masyarakat juga diminta bersatu untuk menghindari black campaign, berita bohong atau hoaks.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Satgas Nusantara Irjen Pol Gatot Edi Pramono saat membuka Seminar dan Deklarasi Pemilu Damai "Peran Tokoh Lintas Agama di Tahun Politik" yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Kamis 15 November 2018.
"Kami yakin jika semua elemen masyarakat termasuk tokoh lintas agama bersatu kerawanan kambtibmas, konflik sosial terkait SARA, radikal, khilafah dan komunisme, dan berita hoaks tidak akan terjadi," kata Gatot Edi.
Menurut Gatot, Indonesia merupakan negara dan bangsa yang majemuk. Ini harus disyukuri karena Indonesia merupakan negara yang toleran dan saling menghormati keberagaman antarumat beragama.
Kata dia, meskipun berbeda suku, bahasa dan agama, namun semuanya satu. "Indonesia memiliki kesadaran untuk menjaga keberagaman. Pancasila sangat jelas, ideologi Indonesia. Dalam sila satu, Ketuhanan yang Maha Esa," ungkap jenderal bintang dua ini.
Gatot Edi menegaskan, peran tokoh agama menjadi colling system di dalam pemilu, ketika terjadi kontestasi politik. Polri kata dia bersikap netral dan tidak memihak kepada siapapun.
"Polri tidak bisa bekerja sendiri, harus bersinergi bersama sama dengan seluruh elemen agar tercipta Pemilu damai dan adil," tandasnya.
Ketua MUI Yusnar Yusuf menambahkan, untuk menciptakan Pemilu aman dan damai peran tokoh agama sangat penting dan dibutuhkan. Tokoh agama diharapkan bisa meredam konflik sehingga tidak terjadi perpecahan.
"Konflik ini kan muncul dari bawah. Ada yang mengosok gosok sehingga ribut. Kalau di tingkat atas atau pengurus tidak ada dan baik baik saja. Makanya tokoh agama harus turun dengan pendekatan agama agar konflik tersebut tidak pecah," kata Yusnar.
Menurut dia, konflik yang sebenarnya justru terjadi media sosial (medsos). Orang mudah terprovokasi atau terhasut dengan berita hohong padahal berita tersebut belum tentu benar.
Bahkan kata dia berita tersebut cenderung menjelek jelekan kelompok atau orang lain sehingga muncul kemarahan dan kebencian. "Hoaks ini sangat berbahaya dan musuh kita bersama," terangnya.
Yusnar mengimbau, agar benar benar menyampaikan ceramah yang sejuk jangan memprovokasi apalagi membuat masyarakat terpecah. Artinya jangan hanya beda partai, caleg dan presiden masyarakat terpecah belah.
"Jangan memprovokasi dengan menjelek jelekan orang lain. Ceramah lah yang sejuk dan damai," pungkasnya.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Satgas Nusantara Irjen Pol Gatot Edi Pramono saat membuka Seminar dan Deklarasi Pemilu Damai "Peran Tokoh Lintas Agama di Tahun Politik" yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Kamis 15 November 2018.
"Kami yakin jika semua elemen masyarakat termasuk tokoh lintas agama bersatu kerawanan kambtibmas, konflik sosial terkait SARA, radikal, khilafah dan komunisme, dan berita hoaks tidak akan terjadi," kata Gatot Edi.
Menurut Gatot, Indonesia merupakan negara dan bangsa yang majemuk. Ini harus disyukuri karena Indonesia merupakan negara yang toleran dan saling menghormati keberagaman antarumat beragama.
Kata dia, meskipun berbeda suku, bahasa dan agama, namun semuanya satu. "Indonesia memiliki kesadaran untuk menjaga keberagaman. Pancasila sangat jelas, ideologi Indonesia. Dalam sila satu, Ketuhanan yang Maha Esa," ungkap jenderal bintang dua ini.
Gatot Edi menegaskan, peran tokoh agama menjadi colling system di dalam pemilu, ketika terjadi kontestasi politik. Polri kata dia bersikap netral dan tidak memihak kepada siapapun.
"Polri tidak bisa bekerja sendiri, harus bersinergi bersama sama dengan seluruh elemen agar tercipta Pemilu damai dan adil," tandasnya.
Ketua MUI Yusnar Yusuf menambahkan, untuk menciptakan Pemilu aman dan damai peran tokoh agama sangat penting dan dibutuhkan. Tokoh agama diharapkan bisa meredam konflik sehingga tidak terjadi perpecahan.
"Konflik ini kan muncul dari bawah. Ada yang mengosok gosok sehingga ribut. Kalau di tingkat atas atau pengurus tidak ada dan baik baik saja. Makanya tokoh agama harus turun dengan pendekatan agama agar konflik tersebut tidak pecah," kata Yusnar.
Menurut dia, konflik yang sebenarnya justru terjadi media sosial (medsos). Orang mudah terprovokasi atau terhasut dengan berita hohong padahal berita tersebut belum tentu benar.
Bahkan kata dia berita tersebut cenderung menjelek jelekan kelompok atau orang lain sehingga muncul kemarahan dan kebencian. "Hoaks ini sangat berbahaya dan musuh kita bersama," terangnya.
Yusnar mengimbau, agar benar benar menyampaikan ceramah yang sejuk jangan memprovokasi apalagi membuat masyarakat terpecah. Artinya jangan hanya beda partai, caleg dan presiden masyarakat terpecah belah.
"Jangan memprovokasi dengan menjelek jelekan orang lain. Ceramah lah yang sejuk dan damai," pungkasnya.
(maf)