Bursah Zarnubi: Elite Harus Duduk Bersama Selesaikan Masalah Bangsa
Sabtu, 27 Oktober 2018 - 02:12 WIB
Bursah Zarnubi: Elite Harus Duduk Bersama Selesaikan Masalah Bangsa
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Perkumpulan Alumni Organisasi Pelajar Pemuda Mahasiswa Islam (PAPMI) Bursah Zarnubi mengungkapkan tentang kondisi bangsa ini yang kian menghawatirkan. Ini tidak lain disebabkan munculnya gejolak-gejolak politik dan sosial yang belakangan terjadi.Bursah mencontohkan peristiwa yang terbaru yaitu aksi oknum anggota organisasi Banser yang membakar bendera bertuliskan kalimat "Lailahaillallah Muhammadurrasulullah" beberapa hari lalu.
Menurut Bursah, persoalan tersebut mesti disikapi dengan kepala dingin dan jika ia menyangkut masalah hukum, maka harus dikembalikan kepada penegak hukum.
"Masalah Banser itu harus disikapi dengan kepala dingin saja. Apa yang menjadi masalah hukum, kembalikan kepada hukum. Jadi sikapi dengan baik dan kepala dingin," kata Bursah kepada wartawan di sela-sela Diskusi Publik yang digelar PAPMI di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, kemarin.
Diskusi publik bertema "Peran Pemuda Islam dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan" ini dihadiri beberapa tokoh. Di antaranya Pakar Politik Yudi Latif, Danang Girindrawardana, dan Mantan Ketua Umum PB HMI Mulyadi P. Tamsir.
Selain itu, jelas Bursah, para elite politik hingga pemimpin-pemimpin organisasi kemasyarakatan (Ormas) juga harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga tidak membuat bangsa ini terpecah belah.
"Kemudian yang juga sangat penting para elite harus duduk bersama, ngopi bersama, sehingga dalam merespons masalah bangsa, bisa satu persepsi," jelasnya.
Menurut Bursah, kondisi demikian jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin maka akan mengancam NKRI.
"Ini mengancam negara kita yang sedang giat melaksanan pembangun nasional. Pembangunan perlu stabilitas. Dalam mewujudkan bangunan nasional ini, angkatan muda islam dapat mengambil bagian untuk sama-sama menjaga bangsa ini agar tetap kuat dan bersatu," jelasnya.
Langkah tersebut kata dia, sangat penting mengingat kondisi bangsa yang kian mengkhawatirkan. Apalagi belakangan fenomena politik semakin tidak menentu arah, seperti menguatnya politik identitas dan politik aliran.Sementara itu, ketika menyampaikan pidato politik dalam diskusi publik ini, Bursah Zarnubi mengingatkan kembali tentang peristiwabersatunya para pemuda dari berbagai suku bangsa dan agama saat mengumandangkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Menurutnya, para pemuda saat ini harus mengambil refleksi dari peristiwa tersebut. Salah satu yang perlu dijadikan bahan refleksi kata dia, adalah tentang pentingnya pemuda dalam merawat kebhinekaan dan keanekaragaman, baik keanekaragaman suku, budaya, maupun agama."Keanekaragaman adalah aset kita yang mesti kita jaga. Caranya kita harus bisa memenej, mengelola dengan baik perbedaan-perbedaan tersebut. Menjaga ini inti dalam keanekaragaman yang terdapat dalam payung Pancasila. Jadi kita mesti merawat secara kokoh keanekaragamaan dan memperkuat dengan fondasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober," jelasnya.
Menurut Bursah, persoalan tersebut mesti disikapi dengan kepala dingin dan jika ia menyangkut masalah hukum, maka harus dikembalikan kepada penegak hukum.
"Masalah Banser itu harus disikapi dengan kepala dingin saja. Apa yang menjadi masalah hukum, kembalikan kepada hukum. Jadi sikapi dengan baik dan kepala dingin," kata Bursah kepada wartawan di sela-sela Diskusi Publik yang digelar PAPMI di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, kemarin.
Diskusi publik bertema "Peran Pemuda Islam dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan" ini dihadiri beberapa tokoh. Di antaranya Pakar Politik Yudi Latif, Danang Girindrawardana, dan Mantan Ketua Umum PB HMI Mulyadi P. Tamsir.
Selain itu, jelas Bursah, para elite politik hingga pemimpin-pemimpin organisasi kemasyarakatan (Ormas) juga harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga tidak membuat bangsa ini terpecah belah.
"Kemudian yang juga sangat penting para elite harus duduk bersama, ngopi bersama, sehingga dalam merespons masalah bangsa, bisa satu persepsi," jelasnya.
Menurut Bursah, kondisi demikian jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin maka akan mengancam NKRI.
"Ini mengancam negara kita yang sedang giat melaksanan pembangun nasional. Pembangunan perlu stabilitas. Dalam mewujudkan bangunan nasional ini, angkatan muda islam dapat mengambil bagian untuk sama-sama menjaga bangsa ini agar tetap kuat dan bersatu," jelasnya.
Langkah tersebut kata dia, sangat penting mengingat kondisi bangsa yang kian mengkhawatirkan. Apalagi belakangan fenomena politik semakin tidak menentu arah, seperti menguatnya politik identitas dan politik aliran.Sementara itu, ketika menyampaikan pidato politik dalam diskusi publik ini, Bursah Zarnubi mengingatkan kembali tentang peristiwabersatunya para pemuda dari berbagai suku bangsa dan agama saat mengumandangkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Menurutnya, para pemuda saat ini harus mengambil refleksi dari peristiwa tersebut. Salah satu yang perlu dijadikan bahan refleksi kata dia, adalah tentang pentingnya pemuda dalam merawat kebhinekaan dan keanekaragaman, baik keanekaragaman suku, budaya, maupun agama."Keanekaragaman adalah aset kita yang mesti kita jaga. Caranya kita harus bisa memenej, mengelola dengan baik perbedaan-perbedaan tersebut. Menjaga ini inti dalam keanekaragaman yang terdapat dalam payung Pancasila. Jadi kita mesti merawat secara kokoh keanekaragamaan dan memperkuat dengan fondasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober," jelasnya.
(maf)