Soroti Berbagai Isu, Hendardi Cium Upaya Pelemahan KPK

Jum'at, 19 Oktober 2018 - 16:29 WIB
Soroti Berbagai Isu,...
Soroti Berbagai Isu, Hendardi Cium Upaya Pelemahan KPK
A A A
JAKARTA - Setara Institute menyoroti berbagai isu mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satunya, kontroversi pertemuan Deputi Penindakan KPK Brigadir Jenderal Polisi Firli dan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).

Seperti diketahui, KPK pernah memeriksa TGB dalam pengusutan kasus dugaan korupsi proses divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara.

Ketua Setara institut, Hendardi mengatakan, dalam peraturan KPK, pertemuan dibenarkan jika diketahui pimpinan.
Menurut dia, ada relativitas mengenai makna pertemuan. Pertemuan di tempat umum atau publik area seperti pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, acara pernikahan, pusat olah raga yang tidak disengaja dinilainya merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan.
"Sepanjang jejak rekam yang bisa ditelusuri, Brigjen Pol Firli adalah perwira tinggi Polri yang berintegritas dan karenanya pula dipilih menjadi Deputi Penindakan KPK," kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/10/2018).

Selain kontroversi pertemuan Firli dan TGB, Hendardi juga menyoroti dugaan pelanggaran etik Deputi Pencegahan KPK, dan dugaan perusakan 'buku merah' yang nyaring diisuarakan pihak luar dan telah dibantah oleh pimpinan KPK.

Dia menduga persoalan-persoalan internal yang dibawa ke luar KPK sehingga menimbulkan kontroversi publik merupakan rangkaian bagian kerja dari elemen tertentu yang bermaksud mengusik KPK dan atau terus menerus mempertentangkan faksi-faksi di tubuh KPK berseteru.

"Ujung dari upaya ini adalah pelemahan KPK," tandas Hendardi. (Baca juga: Pakar Hukum: Pertemuan TGB dan Deputi KPK Tak Langgar Aturan )

Dia mengatakan, advokasi persoalan-persoalan di tubuh KPK dalam kerangka penguatan lembaga tersebut adalah kebutuhan untuk menjaga lembaga ini terus dipercaya rakyat.

"Tetapi amplifying berlebihan dan membiarkannya menjadi kontroversi jelas disayangkan karena menjadikan KPK rentan dipolitisasi oleh berbagai pihak. Fokus pemberantasan korupsi dan perkuat manajemen organisasi KPK adalah prioritas utama KPK saat ini dan tidak ikut dalam politik," tutur Hendardi.
(dam)
Berita Terkait
KPK Gaet 4 Kementerian...
KPK Gaet 4 Kementerian dan KSP Teken Komitmen Pencegahan Korupsi
KPK Kembali Dipimpin...
KPK Kembali Dipimpin oleh Jenderal Polisi
Pegawai KPK Tolak Pelatihan...
Pegawai KPK Tolak Pelatihan Bela Negara di Kemenhan
Ditangkap KPK, Ini Tiga...
Ditangkap KPK, Ini Tiga Kontroversi Bupati Penajam Paser Utara
Ahok Sambangi KPK, Diperiksa...
Ahok Sambangi KPK, Diperiksa Terkait Kasus LNG Pertamina
KPK Tetapkan Wali Kota...
KPK Tetapkan Wali Kota Tanjungbalai sebagai Tersangka
Berita Terkini
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved