Bongkar Hoaks Ratna Sarumpaet, Polisi Redam Gejolak di Masyarakat
Rabu, 03 Oktober 2018 - 18:40 WIB
Bongkar Hoaks Ratna Sarumpaet, Polisi Redam Gejolak di Masyarakat
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengapresiasi Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya yang cepat membongkar kebohongan kasus dugaan penganiayaan Ratna Sarumpaet.
Sahroni menilai Polri telah meredam potensi munculnya gejolak di tengah masyarakat akibat berita bohong.
“Cerita penganiayaan itu membuat banyak pihak, baik politikus hingga aktivis akhirnya mengeluarkan suara karena menganggap apa yang disampaikan Ratna Sarumapet adalah benar. Kebohongan ini tentunya bisa berdampak luas lantaran banyaknya pihak yang ikut membela karena menganggap benar,” tutur Sahroni, Rabu (3/10/2018).
Dia menilai polisi telah aktif membaca dinamika dan kegelisahan yang berpotensi lebih luas di masyarakat, terlebih menjelang Pemilu serentak 2019 mendatang.
Sahroni kembali mengingatkan masyarakat, termasuk koleganya di parlemen untuk tidak serta merta menelan informasi. (Baca juga: Ratna Sarumpaet: Kali Ini Saya Pencipta Hoaks Terbaik )
Dua kubu pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden ditekankannya harus arif menggunakan materi yang dikampanyekan dengan tak menyerang atau memfitnah satu sama lain.
“Jangan gunakan cara kotor dengan menyebar kebencian ataupun fitnah yang membuat kegelisahan di masyarakat. Ayo kampanyekan program, bukan dengan menjelekkan kubu lawan,” kata politikus Nasdem yang kembali maju sebagai calon legislator dari daerah pemilihan III Jakarta ini.
Dia meminta para penebar hoaks untuk menghentikan aksinya. Apalagi, Indonesia tengah berduka dengan berbagai rentetan bencana gempa bumi dan tsunami.
“Duka akibat bencana gempa di NTB, Donggala hingga Palu yang disertai tsunami masih dirasakan masyarakat. Jangan lagi tambah kedukaan itu dengan keresahan akibat pernyataan ataupun infomasi menyesatkan yang dapat membuat masyarakat Indonesia saling curiga satu sama lain,” tuturnya.
Sahroni menilai Polri telah meredam potensi munculnya gejolak di tengah masyarakat akibat berita bohong.
“Cerita penganiayaan itu membuat banyak pihak, baik politikus hingga aktivis akhirnya mengeluarkan suara karena menganggap apa yang disampaikan Ratna Sarumapet adalah benar. Kebohongan ini tentunya bisa berdampak luas lantaran banyaknya pihak yang ikut membela karena menganggap benar,” tutur Sahroni, Rabu (3/10/2018).
Dia menilai polisi telah aktif membaca dinamika dan kegelisahan yang berpotensi lebih luas di masyarakat, terlebih menjelang Pemilu serentak 2019 mendatang.
Sahroni kembali mengingatkan masyarakat, termasuk koleganya di parlemen untuk tidak serta merta menelan informasi. (Baca juga: Ratna Sarumpaet: Kali Ini Saya Pencipta Hoaks Terbaik )
Dua kubu pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden ditekankannya harus arif menggunakan materi yang dikampanyekan dengan tak menyerang atau memfitnah satu sama lain.
“Jangan gunakan cara kotor dengan menyebar kebencian ataupun fitnah yang membuat kegelisahan di masyarakat. Ayo kampanyekan program, bukan dengan menjelekkan kubu lawan,” kata politikus Nasdem yang kembali maju sebagai calon legislator dari daerah pemilihan III Jakarta ini.
Dia meminta para penebar hoaks untuk menghentikan aksinya. Apalagi, Indonesia tengah berduka dengan berbagai rentetan bencana gempa bumi dan tsunami.
“Duka akibat bencana gempa di NTB, Donggala hingga Palu yang disertai tsunami masih dirasakan masyarakat. Jangan lagi tambah kedukaan itu dengan keresahan akibat pernyataan ataupun infomasi menyesatkan yang dapat membuat masyarakat Indonesia saling curiga satu sama lain,” tuturnya.
(dam)