Perludem Nilai Hoaks Ancaman Serius di Pemilu 2019
Sabtu, 22 September 2018 - 14:49 WIB
Perludem Nilai Hoaks Ancaman Serius di Pemilu 2019
A
A
A
JAKARTA - Peredaran berita bohong alias hoaks di media sosial dinilai menjadi ancaman serius bagi jalannya Pemilu 2019. Pembuatan hoaks bahkan diprediksi bisa mendeligitimasi proses Pemilu.
Hal itu seperti disampaikan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perlludem) Titi Anggraini dalam diskusi Polemik Radio MNC Trijaya bertajuk Kampanye Asik, Damai dan Anti Hoaks di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018).
"Kalau dibiarkan, hoaks itu membuat Pemilu kita tidak legitimate. Padahal Dalam pemilu yang lebih penting legitimasi," kata Titi.
Perludem mencatat, hoaks telah muncul sejak Pemilu 2014. Yang menjadi pembeda dengan Pemilu 2019, saat ini hoaks tak hanya berupa ujaran kebencian. Hoaks juga diproduksi masing-masing kubu capres-cawapres dengan membeberkan data yang belum tentu valid.
"Aspek hoaksnya masih tetap ada, terutama terkait ujaran kebencian. Ujaran kebencian paling efektif kalau ketemu dengan hoaks," kata Titi.
Agar tidak menimbulkan konflik horizontal, Titi mendorong agar adanya literasi terhadap publik. Titi mendorong agar masyarakat mengubah cara bermedia sosial. Hal itu, lanjut Titi, perlu dilakukan untuk menangkal penyebaran hoaks selama tuju bulan masa kampanye.
Hal itu seperti disampaikan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perlludem) Titi Anggraini dalam diskusi Polemik Radio MNC Trijaya bertajuk Kampanye Asik, Damai dan Anti Hoaks di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018).
"Kalau dibiarkan, hoaks itu membuat Pemilu kita tidak legitimate. Padahal Dalam pemilu yang lebih penting legitimasi," kata Titi.
Perludem mencatat, hoaks telah muncul sejak Pemilu 2014. Yang menjadi pembeda dengan Pemilu 2019, saat ini hoaks tak hanya berupa ujaran kebencian. Hoaks juga diproduksi masing-masing kubu capres-cawapres dengan membeberkan data yang belum tentu valid.
"Aspek hoaksnya masih tetap ada, terutama terkait ujaran kebencian. Ujaran kebencian paling efektif kalau ketemu dengan hoaks," kata Titi.
Agar tidak menimbulkan konflik horizontal, Titi mendorong agar adanya literasi terhadap publik. Titi mendorong agar masyarakat mengubah cara bermedia sosial. Hal itu, lanjut Titi, perlu dilakukan untuk menangkal penyebaran hoaks selama tuju bulan masa kampanye.
(maf)