Kasus BLBI Buka Penyelidikan Baru, KPK Cari Bukti Tambahan

Selasa, 18 September 2018 - 10:55 WIB
Kasus BLBI Buka Penyelidikan...
Kasus BLBI Buka Penyelidikan Baru, KPK Cari Bukti Tambahan
A A A
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka penyelidikan baru kasus dugaan korupsi ‎penerbitan dan pemberian surat keterangan lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). ‎

Wakil Ketua KPK Thony Saut Situmorang menyatakan, penanganan perkara dugaan korupsi penerbitan dan pemberian Surat Pemenuhan Kewajiban Pemegang Saham (SPKPS) atau SKL kepada obligor Sjamsul Nursalim selaku pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) pada 2004 tidak akan berhenti pada mantan kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsjad Temenggung.

Saut mengakui, setelah men‎cermati fakta-fakta persidangan terdakwa Syafruddin dan mendengar laporan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemudian KPK melakukan gelar perkara (ekspose).

Akhirnya diputuskan dibuka penyelidikan baru dengan disusul permintaan keterangan sejumlah pihak sebagai terperiksa. Saut menggariskan, KPK berkomitmen melanjutkan penyelidikan baru ini secara serius.

"Kalau memang KUHAP dipenuhi seperti bukti awal dan lain-lain, ya KPK harus lanjut penyelidikan baru SKL BLBI. Normatif ya penyelidikan baru SKL BLBI ini dilanjutkan di antaranya dengan cara menemukan bukti-bukti tambahan. Seperti itu. Semoga bisa cepat," tegas Saut saat dihubungi Koran SINDO, kemarin.

Mantan staf ahli kepala BIN ini membenarkan, dalam proses penyelidikan ini ada beberapa pihak yang sudah dimintai keterangan. Di antaranya mantan Kepala BPPN I Putu Gede Ary Suta dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Gotong-Royong 2001-2004 merangkap Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) saat itu Dorodjatun Kuntjoro Jakti.

Menurut Saut, dari keterangan para pihak yang sudah dimintai keterangan maka penyelidik akan mendalami kembali saat permintaan keterangan pihak lain. "Nanti dilihat dulu sejauh apa penyelidik bisa mengembangkan hal itu," ujar.

Saut menggariskan, berdasarkan pembuktian KPK melalui JPU di persidangan dan sudah dituangkan dalam surat tuntutan atas nama Syafruddin bahwa perbuatan Syafruddin ‎dilakukan bersama-sama dengan tiga pihak lainnya.

Pertama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Gotong-Royong 2001-2004 merangkap Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) saat itu Dorodjatun Kuntjoro Jakti.

Kedua, Sjamsul Nursalim selaku pemegang saham pengendali BDNI. Ketiga, Itjih S Nursalim selaku pemegang saham BDNI.‎ Hanya saja Saut belum mau menyimpulkan siapa di antara tiga orang tersebut.

"Jangan disebutkan dulu namanya, nanti saja kalau lengkap (dan sudah ditetapkan tersangka) akan diumumkan," ucapnya.
(maf)
Berita Terkait
Enggan Keluar Duit,...
Enggan Keluar Duit, KPK Tak Lagi Urus Perkara Kecil
Sepanjang 2021, KPK...
Sepanjang 2021, KPK Tangani 101 Perkara dengan 116 Pelaku Korupsi
Berkas Perkara Lengkap,...
Berkas Perkara Lengkap, Bupati Nonaktif Langkat Segera Disidang
KPK Gaet 4 Kementerian...
KPK Gaet 4 Kementerian dan KSP Teken Komitmen Pencegahan Korupsi
KPK Kembali Dipimpin...
KPK Kembali Dipimpin oleh Jenderal Polisi
Perkara Simulator SIM...
Perkara Simulator SIM Korlantas Polri, KPK Sita 2 Rumah Rp85 Miliar
Berita Terkini
KPK Konfirmasi Hasil...
KPK Konfirmasi Hasil Penggeledahan dalam Pemeriksaan Perdana Silmy Karim sebagai Tersangka
Buku Presiden Solusi...
Buku Presiden Solusi Catat 108 Kebijakan, Qodari: Prabowo Menyasar Akar Persoalan Bangsa
Profesor Ahli Gizi dan...
Profesor Ahli Gizi dan Dokter Anak Bakal Direkrut sebagai Dewan Pengarah BGN
10 Orang Termasuk Bupati...
10 Orang Termasuk Bupati Edison Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Disita
5 Jenderal dengan Karier...
5 Jenderal dengan Karier Paling Moncer hingga Menjadi Panglima TNI
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved