Marak OTT Kepala Daerah, Pengamat Sebut karena Biaya Politik Mahal

Rabu, 06 Juni 2018 - 14:48 WIB
Marak OTT Kepala Daerah,...
Marak OTT Kepala Daerah, Pengamat Sebut karena Biaya Politik Mahal
A A A
JAKARTA - Terlepas dari kasus Bupati Purbalingga, Tasdi, pengamat komunikasi politik, Emrus Sihombing mengira Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan berlanjut, karena substansi persoalan politik di Indonesia belum diperbaiki.

Menurut Emrus, proses politik di Indonesia masih high cost atau berbiaya tinggi. Kalau dihitung-hitung biaya kampanye hingga menjadi calon bisa mencapai puluhan miliar. Sementara gaji para calon kepala daerah tidak sebanding dengan itu semua.

"Dia (Tasdi) sebulan itu take home pay sebulan paling tinggi enggak sampai Rp100 juta.
Presiden saja gajinya Rp60 sekian juta," kata Emrus, di Jakarta, Rabu (6/6/2018).

"Nah kalau dihitung-hitung biaya kampanye biaya politik yang puluhan miliar itu kali lima tahun di kali 15 bulan tidak tertutupi. Sehingga sangat besar mendorong perilaku korupsi karena pengeluaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan," tambahnya.

Emrus menyarankan, agar Pemerintah dapat menekan biaya politik untuk menjadi pejabat publik ditekan sekecil mungkin. Selain itu menurutnya, cara lainnya bisa dilakukan dengan tidak melakukan seleksi tertutup, karena akan terjadi transaksi berlebih.

"Lebih baik seleksi dilakukan secara terbuka dan melibatkan universitas setempat dan lembaga yang bersangkutan. Dari itu nanti perguran tinggi atau lembaga dapat memutuskan calon terbaik dari penilaian elektabilitas, kapabilitas, dan integritas yang baik. Seperti CPNS gitu," ungkap Emrus.

Selain itu menurut Emrus, seharusnya kampanye saat ini tidak harus dengan tatap muka namun dapat menggunakan kecanggihan media sosial (Medsos) karena dinilai efektif dan efisien.

"Kalau menggunakan sosial media janji politiknya terekam. Jadi kalau omongannya tidak diterapkan sebagai bupati, rakyat bisa menagih janji itu dan yang bersangkutan tidak bisa mengelak," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Ditangkap KPK, Ini Tiga...
Ditangkap KPK, Ini Tiga Kontroversi Bupati Penajam Paser Utara
Ini Sejumlah Pihak yang...
Ini Sejumlah Pihak yang Terjerat OTT KPK di Semarang dan Jakarta
OTT Hanya Dua Kali dalam...
OTT Hanya Dua Kali dalam 6 Bulan, KPK: Penjahatnya Lebih Pintar
KPK Gelar OTT di Medan...
KPK Gelar OTT di Medan Sumatera Utara
Breaking News: KPK Gelar...
Breaking News: KPK Gelar OTT Jakarta dan Bekasi, Pejabat Negara Ditangkap
OTT di Jakarta dan Semarang,...
OTT di Jakarta dan Semarang, KPK Amankan Pejabat Perkeretaapian
Berita Terkini
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Glory Harimas Sihombing...
Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG
Sony Sanjaya Beberkan...
Sony Sanjaya Beberkan Ada Pengadaan Fiktif CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar di Program MBG
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Infografis
Biaya Kelewat Mahal,...
Biaya Kelewat Mahal, Proyek Kapal Perang Siluman Rusia Dibatalkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved