NU-AS Diskusikan Radikalisme

Rabu, 23 Mei 2018 - 11:17 WIB
NU-AS Diskusikan Radikalisme
NU-AS Diskusikan Radikalisme
A A A
JAKARTA - Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dan Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) Mike Pence menegaskan komitmen untuk kebebasan beragama dan melawan radikalisme.

Komitmen itu diungkapkan saat pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (17/5) siang waktu setempat. Pertemuan itu terjadi setelah berbagai serangan teror di Indonesia. Pertemuan itu pun menegaskan solidaritas dan komitmen untuk mendorong kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai di tengah berbagai ancaman teror.

Dua tokoh itu pun berdiskusi tentang upaya mendorong perdamaian dan komitmen bersama memerangi ekstremisme. ”Sangat luar biasa menyaksikan wakil presiden Amerika Serikat dan pemimpin organisasi muslim terbesar di dunia yang sangat intensif mempromosikan kebebasan beragama dan memerangi ekstremisme,” ungkap Johnnie Moore, eksekutif komunikasi evangelis dan advokat kebebasan beragama internasional yang mengikuti pertemuan tersebut, pada The Christian Post.

Pertemuan dua tokoh berlangsung selama 20 menit dan melibatkan Moore, Wapres AS Pence, Yahya, dan seorang penasihat senior Pence. Pertemuan sebelumnya termasuk dengan staf lain. Moore menyatakan, Pence menyambut Yahya dengan ucapan selamat Ramadan Karim.

Moore merupakan juru bicara untuk kelompok pemimpin evangelis konservatif yang menjadi penasihat informal pemerintahan Donald Trump. Moore menjelaskan, pertemuan itu berlangsung saat Yahya berkunjung ke AS untuk sejumlah pertemuan. Pertemuan dengan Pence awalnya tidak ada dalam rencana perjalanan.

”Wapres mengetahui dia di kota dan meminta bertemu dia. Pence tahu Yahya dari acara multikeyakinan yang dihadiri keduanya di Indonesia tahun lalu.” tutur Moore. Dalam pertemuan itu, Pence mengungkapkan duka citanya kepada Yahya atas tragedi teror di Indonesia.

Meski umat Kristiani menjadi target dalam serangan itu, dia menyatakan bahwa mayoritas muslim juga menjadi target serangan.

”Sangat jelas dukungan Wapres (Mike Pence) dan Yahya untuk kebebasan religius dimulai di Ruang Oval. Ini prioritas bagi Presiden (Donald Trump). Dan, AS menjadi teman bagi organisasi ini dan upayanya memerangi ekstremisme,” papar Moore. (Syarifudin)
(nfl)
Berita Terkait
Selamat untuk Nahdlatul...
Selamat untuk Nahdlatul Ulama!
Jembatan Peradaban Nahdlatul...
Jembatan Peradaban Nahdlatul Ulama
Visi Nahdlatul Ulama...
Visi Nahdlatul Ulama Abad Kedua
Kemesraan Muhammadiyah-Nahdlatul...
Kemesraan Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama, Bagaimana Memahaminya?
Nahdlatul Ulama Akan...
Nahdlatul Ulama Akan Bangun Peradaban dari Lautan
Semua Wilayah Siap Menyukseskan...
Semua Wilayah Siap Menyukseskan Porseni Nahdlatul Ulama
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved