Megawati: Riset Sangat Penting Dalam Suatu Negara

Kamis, 10 Mei 2018 - 07:00 WIB
Megawati: Riset Sangat...
Megawati: Riset Sangat Penting Dalam Suatu Negara
A A A
JAKARTA - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri menghadiri dialog nasional dengan tema 'Meningkatkan Inovasi Iptek Untuk Mendorong Industri Dalam Negeri Mewujudkan Ekonomi Pancasila di Gedung BPPT Jakarta.

Megawati mengatakan kehormatan baginya dapat berbicara di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Saya selalu memandang bahwa BPPT adalah suatu institusi penting. Sudah sepantasnya BPPT mendapatkan penguatan dalam melakukan tugas pengkajian dan penerapan teknologi untuk meningkatkan daya saing menuju kemandirian bangsa," ujarnya.

Dijelaskanya, pertemuan hari ini merupakan momen berharga, di tengah bergulirnya kehendak kuat dari Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri.

"Saya mendukung keinginan Presiden tersebut. Karena itu, saya terus menyuarakan di berbagai kesempatan tentang pentingnya riset. Tidak ada satu negara pun dapat menjadi negara industri yang kuat, tanpa riset. Tidak ada satu negara pun dapat menjadi sebuah negara maju, tanpa riset yang kuat," katanya.

Menurutnya, ada dua hal yang beberapa waktu terakhir ini ia suarakan terkait riset. Pertama, anggaran riset yang masih minim. Data UNESCO 2016 menunjukkan Indonesia baru mengalokasikan 0,25% PDB, yaitu 25,8 Triliun. "Ini setara dengan 1,23% dari total Rp2.095 Triliun APBN 2016. Terdiri dari, modal 6,65%, operasional 30,68%, diklat 5,77%, jasa iptek 13,17%," jelasnya.

Sementara yang fokus untuk penelitian dan pengembangan, sebesar 43,74%. Jadi, sebenarnya anggaran yang murni untuk riset hanya sebesar Rp11,28 Triliun atau hanya 0,54% dari total APBN 2016.

Sementara untuk tahun 2018, anggaran riset yang tersebar di seluruh Kementerian dan Lembaga adalah Rp24,9 Triliun dari total Rp2.221 Triliun APBN 2018. "Jika diasumsikan prosentase anggaran yang murni untuk riset, tetap pada angka 43,7%, maka setara dengan Rp10,89 Triliun atau hanya 0,49% dari total APBN 2018. Turun 0,05% dari APBN dua tahun lalu," katanya.

Kedua, kata Mega, terkait Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Riset. Sampai hari ini dirinya terus menyuarakan pentingnya regulasi yang berpihak pada SDM Riset, terutama peneliti dan perekayasa.

"Saya ambil contoh konkret yaitu peraturan yang memutuskan usia pensiun 60 tahun bagi peneliti dan perekayasa. Akibat aturan tersebut ada 556 orang peneliti madya yang dipensiunkan. Artinya, Indonesia kehilangan 20% dari total peneliti madya atau 6% dari total peneliti secara nasional. Padahal, tidak mudah bagi bangsa ini melahirkan peneliti madya," pungkasnya.
(nag)
Berita Terkait
25 Peneliti Ikut Pelatihan...
25 Peneliti Ikut Pelatihan dan Sertifikasi Peneliti Kuantitatif Internasional
Menristek Sampaikan...
Menristek Sampaikan Fokus Prioritas Riset Nasional pada Rakornas PRN
Pemerintah Perlu Benahi...
Pemerintah Perlu Benahi Ekosistem PeĀ­neĀ­litian di Dalam Negeri
Wakil Kepala BRIN Amarulla...
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian Kukuhkan 4 Profesor Riset
Sajikan Sains dari Sudut...
Sajikan Sains dari Sudut Berbeda, SINDO Media Kunjungi Menristek
Didukung Dana Rp3 triliun,...
Didukung Dana Rp3 triliun, Program Riset Prioritas 2026 Diluncurkan
Berita Terkini
Panitia Mubes Kosgoro...
Panitia Mubes Kosgoro 1957 Terima Dokumen Lengkap Caketum La Ode Safiul Akbar
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Penunjukan Kepala BGN...
Penunjukan Kepala BGN Baru Dinilai Tepat untuk Membenahi MBG
KPK Lelang 106 Lot Barang...
KPK Lelang 106 Lot Barang Rampasan Korupsi dari 26 Perkara, Ada Handphone hingga Bidang Tanah
Geledah Rumah Silmy...
Geledah Rumah Silmy Karim, KPK Yakin Ada Bukti Tambahan
Infografis
Megawati Hangestri Gabung...
Megawati Hangestri Gabung Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea Selatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved