Elektabilitas Golkar Dinilai Tak Lepas dari Jokowi Effect
Kamis, 25 Januari 2018 - 14:26 WIB
Elektabilitas Golkar Dinilai Tak Lepas dari Jokowi Effect
A
A
A
JAKARTA - Elektabilitas Partai Golkar yang menunjukkan tren positif, meskipun baru saja diguncang kasus dugaan korupsi Setya Novanto dianggap sebagai hal lurah.
Tren positif itu tercermin dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan partai ini di nomor dua dan diprediksi akan bersaing dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2019. (Baca juga: LSI Prediksi PDIP dan Golkar Bersaing di Pemilu 2019 ).
Menurut Diraktur Politik dan Hukum Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus, tren positif Golkar mungkin saja terjadi mengingat semangat pengurusan baru di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto yang sedang fokus pada peningkatan elektabilitas partai yang sempat anjlok setelah kasus hukum kadernya.
"Namun hal ini harus dilihat juga dari faktor Jokowi Effect, pernyataan dukungan Golkar kepada Jokowi ikut menggiring pendukung setia Jokowi untuk memilih Partai Golkar," ujar Sulthan saat dihubungi SINDOnews, Kamis (25/1/2018).
Sulthan menilai, di mata publik, ada yang ingin melihat Jokowi lepas dari bayang-bayang PDIP. Apalagi, kata dia, PDIP selalu mengulang-ulang pernyataan bahwa Jokowi adalah petugas partai.
Menurut dia, pernyataan tersebut mengakibatkan seolah-olah Presiden Jokowi disetir dan terbelenggu oleh politik PDIP. Ini ancaman terhadap PDIP selaku partai pengusung utama Jokowi.
Dia menganggap tingkat kepuasan publik yang cukup tinggi terhadap kinerja Jokowi berefek pada partai-partai pendukung.
"Namun partai mana yang paling diuntungkan tentu harus disurvei kembali. Oleh karena itu, PDIP selaku partai tempat Jokowi bernaung harus lebih waspada terhadap pergeseran suara pendukung Jokowi ke partai lain," tuturnya.
Tren positif itu tercermin dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan partai ini di nomor dua dan diprediksi akan bersaing dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2019. (Baca juga: LSI Prediksi PDIP dan Golkar Bersaing di Pemilu 2019 ).
Menurut Diraktur Politik dan Hukum Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus, tren positif Golkar mungkin saja terjadi mengingat semangat pengurusan baru di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto yang sedang fokus pada peningkatan elektabilitas partai yang sempat anjlok setelah kasus hukum kadernya.
"Namun hal ini harus dilihat juga dari faktor Jokowi Effect, pernyataan dukungan Golkar kepada Jokowi ikut menggiring pendukung setia Jokowi untuk memilih Partai Golkar," ujar Sulthan saat dihubungi SINDOnews, Kamis (25/1/2018).
Sulthan menilai, di mata publik, ada yang ingin melihat Jokowi lepas dari bayang-bayang PDIP. Apalagi, kata dia, PDIP selalu mengulang-ulang pernyataan bahwa Jokowi adalah petugas partai.
Menurut dia, pernyataan tersebut mengakibatkan seolah-olah Presiden Jokowi disetir dan terbelenggu oleh politik PDIP. Ini ancaman terhadap PDIP selaku partai pengusung utama Jokowi.
Dia menganggap tingkat kepuasan publik yang cukup tinggi terhadap kinerja Jokowi berefek pada partai-partai pendukung.
"Namun partai mana yang paling diuntungkan tentu harus disurvei kembali. Oleh karena itu, PDIP selaku partai tempat Jokowi bernaung harus lebih waspada terhadap pergeseran suara pendukung Jokowi ke partai lain," tuturnya.
(dam)