Pesan Ketua APPRI untuk Para Humas: Jangan Gunakan Hoax Membangun!

Sabtu, 06 Januari 2018 - 16:26 WIB
Pesan Ketua APPRI untuk...
Pesan Ketua APPRI untuk Para Humas: Jangan Gunakan Hoax Membangun!
A A A
JAKARTA - Para praktisi public relations atau hubungan masyarakat (humas) diminta tidak menggunakan istilah hoax membangun untuk melegalkan berita bohong demi pencitraan perusahaan atau klien.

“Istilah hoax membangun tidak ada dalam kamus kehumasan di negara manapun. Mau dikemas untuk pencitraan siapa pun, hoax adalah berita bohong dan itu melanggar kode etik kehumasan,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) Suharjo Nugroho dalam siaran persnya kepada SINDOnews, Sabtu (6/1/2018).

Dia menyayangkan pernyataan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi yang seolah menguatkan hoax sebagai satu kegiatan yang bisa menjadi positif.

“Fenomena hoax di Indonesia ini saja masih sulit sekali untuk bisa diredam, dan menjadi PR (pekerjaan rumah-red) berat bagi praktisi humas, eh dengan pernyataan Kepala BSSN, meski sudah diklarifikasi sekarang malah menjadi seolah dilegalkan dengan istilah hoax membangun,” tutur pria yang biasa disapa Jojo ini. (Baca juga: Soal Hoax Membangun, Kepala Badan Siber Bilang Itu Pancingan )

Dia memaparkan tanda pegar (tagar) #hoaxmembangun, menurut Spredfast, sudah dicuitkan lebih dari 42.000 kali dan mengundang tanggapan ramai sekali bukan hanya dari warganet, namun juga dari politisi.

Menurut dia, pemerintah seharusnya menghindari kegaduhan dan membahas hal ini secara internal terlebih dahulu dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti Asosiasi Kehumasan seperti APPRI dan Perhumas. “Jangan sampai masyarakat melihat istilah hoax membangun memang sengaja dimunculkan untuk membungkus pencitraan pemerintah,” kata Jojo.

Jojo mengatakan, menjelang tahun politik di tahun ini, pencitraan politikus melalui hoax disinyalir akan semakin banyak. Dia mengingatkan para konsultan PR atau humas yang terjun membela kandidat politik tertentu agar memiliki etika profesi yang membatasi sepak terjangnya agar tidak kebablasan membuat hoax untuk pencitraan.

“Mulai tahun ini sudah mulai panas pilkada, praktisi atau konsultan humas ada yang bela satu pihak, yang lain bela pihak lawan, ini perlu berpedoman pada etika PR yang membatasi, jika tidak kita akan saling perang hoax dengan segala jurus tanpa ada batasan,” tutur wakil Indonesia untuk Public Relations Organisation Internatinal (PROI), organisasi konsultan humas terbesar di dunia ini.
(dam)
Berita Terkait
Jadi Alat Propaganda,...
Jadi Alat Propaganda, DPD: Hoaks Ancam Persatuan Bangsa
Percepatan Teknologi...
Percepatan Teknologi Dorong Transformasi Media Sosial
Media Punya Peran Penting...
Media Punya Peran Penting Menjaga Kredibilitas Informasi
Peran IT dan Media Sosial...
Peran IT dan Media Sosial di Bidang Hukum di Mata Advokat Senior Stefanus Gunawan
Hoax dan Ujaran Kebencian...
Hoax dan Ujaran Kebencian di Media Sosial Jadi Ancaman Demokrasi
Pengamat Sebut Influencer...
Pengamat Sebut Influencer Dibutuhkan untuk Sampaikan Informasi
Berita Terkini
Libatkan Publik Pilih...
Libatkan Publik Pilih Logo HUT ke-81 RI, Mensesneg: Simbol Kebangsaan Milik Bersama
Boni Hargens Sebut Presisi...
Boni Hargens Sebut Presisi Jadi Fondasi Transformasi Menyeluruh di Tubuh Polri
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Uang dan Rumah, Total Rp4,8 M
Menkes Ungkap Ada Gap...
Menkes Ungkap Ada Gap Tinggi Penghasilan Dokter Spesialis: di Bone Rp3 Juta, di Mahakam Ulu Rp80 Juta
Istri Gus Yaqut Apresiasi...
Istri Gus Yaqut Apresiasi KPK Bantarkan Suaminya
Projo Ungkap Pesan Jokowi...
Projo Ungkap Pesan Jokowi di Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa, Apa Itu?
Infografis
Arab Saudi Gunakan AI...
Arab Saudi Gunakan AI untuk Cetak Penghafal Al-Quran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved