Pengamat: Munaslub Harus Jadi Momentum Evaluasi Golkar
Rabu, 20 Desember 2017 - 11:47 WIB
Pengamat: Munaslub Harus Jadi Momentum Evaluasi Golkar
A
A
A
JAKARTA - Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menilai Partai Golkar harus menjadikan momentum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sebagai evaluasi dan proyeksi untuk menata partai berlambang beringin pada masa mendatang.
"Pertama, saya kira jadikan munaslub ini sebagai bagian dari ajang evaluasi yang mendasar di tubuh Golkar, karena Golkar bertubi-tubi atau berkali-kali ada problem yang serius yang kemudian berdampak pada citra Golkar," ujar Ubedilah saat dihubungi, Jakarta, Selasa (19/12/2017).
Menurut dia, langkah penting yang perlu dilakukan Airlangga Hartarto adalah image restorestion. "Jadi memulikan citra," katanya.
Isu korupsi juga menjadi tantangan Ketua Umum baru Golkar. Menurut dia, Ketum baru, harus memperlihatkan ketegasanya untuk memerangi isu korupsi yang menjadi perhatian publik.
"Caranya adalah ketegasan dari Airlangga Hartarto terhadap praktik koruktif, sistemik yang melanda di tubuh partai. Saya kira sikap tegas Airlangga Hartarto terhadap sikap tegas ini akan mengubah cara pandang publik terhadap Golkar," tandasnya.
Selain itu menurut Ubedilah, juga diperlukan restrukturisasi dalam kepengurusan sebagai bagian dari mewujudkan harapan publik sesuai dengan taglinenya, yakni Golkar bersih.
"Revitalisasi struktur partai, dari orang-orang (pengurus lama) yang cenderung bagian dari praktik korupsi diganti oleh orang-orang baru atau kader Golkar yang belum terkontaminasi oleh orang-orang lama," ujarnya.
Sementara untuk jabatan Sekjen, Ubedilah menyarankan Golkar untuk menunjuk sosok muda, visioner, dan punya sikap terhadap praktik korupsi.
Ditanya terkait salah satu hasil survei Indodata yang memunculkan nama Ahmad Doli Kurnia sebagai sosok berpeluang menjadi calon Sekjen, dia menilai Doli layak menduduki jabatan itu.
"Saya kira kalau lihat dari track record-nya cukup layak untuk jadi Sekjen. Pertama dia (Doli Kurnia-red) punya pengalaman jadi aktivis. Yang kedua, punya sikap terhadap praktik korupsi," ujar pengamat politik ini.
Menurut dia, Golkar memerlukan figur baru yang muda, visioner, yang punya loyalitas pada politik adiluhungnya Golkar. "Jadi, sebetulnya kalau Doli mendapatkan suara tinggi pada sebuah survei untuk menduduki Sekjen Golkar saya kira wajar saja. Dia kritis dalam hal-hal koruptif," tandasnya.
Menurut dia, tantangan Golkar mendatang di depan mata dan harus dijawab dengan tepat. Golkar dikatakannya harus fokus kembali pada program strategisnya sebagai upaya menghadapi tahun politik mendatang.
Pertama, kata dia, Airlangga harus mampu melakukan konsolidasi di tubuh Golkar secara baik. Kedua, sambung dia, Fokus pada program-program strategis untuk menghadapi tahun politik tahun politik dari 2018-2019.
"Kalau kemudian tidak mampu membuat langkah-langkah strategis akhirnya berdampak berat, perkiraan saya nantinya suaranya bisa turun jika tak mampu menghadapi itu," ujar Ubedilah.
"Pertama, saya kira jadikan munaslub ini sebagai bagian dari ajang evaluasi yang mendasar di tubuh Golkar, karena Golkar bertubi-tubi atau berkali-kali ada problem yang serius yang kemudian berdampak pada citra Golkar," ujar Ubedilah saat dihubungi, Jakarta, Selasa (19/12/2017).
Menurut dia, langkah penting yang perlu dilakukan Airlangga Hartarto adalah image restorestion. "Jadi memulikan citra," katanya.
Isu korupsi juga menjadi tantangan Ketua Umum baru Golkar. Menurut dia, Ketum baru, harus memperlihatkan ketegasanya untuk memerangi isu korupsi yang menjadi perhatian publik.
"Caranya adalah ketegasan dari Airlangga Hartarto terhadap praktik koruktif, sistemik yang melanda di tubuh partai. Saya kira sikap tegas Airlangga Hartarto terhadap sikap tegas ini akan mengubah cara pandang publik terhadap Golkar," tandasnya.
Selain itu menurut Ubedilah, juga diperlukan restrukturisasi dalam kepengurusan sebagai bagian dari mewujudkan harapan publik sesuai dengan taglinenya, yakni Golkar bersih.
"Revitalisasi struktur partai, dari orang-orang (pengurus lama) yang cenderung bagian dari praktik korupsi diganti oleh orang-orang baru atau kader Golkar yang belum terkontaminasi oleh orang-orang lama," ujarnya.
Sementara untuk jabatan Sekjen, Ubedilah menyarankan Golkar untuk menunjuk sosok muda, visioner, dan punya sikap terhadap praktik korupsi.
Ditanya terkait salah satu hasil survei Indodata yang memunculkan nama Ahmad Doli Kurnia sebagai sosok berpeluang menjadi calon Sekjen, dia menilai Doli layak menduduki jabatan itu.
"Saya kira kalau lihat dari track record-nya cukup layak untuk jadi Sekjen. Pertama dia (Doli Kurnia-red) punya pengalaman jadi aktivis. Yang kedua, punya sikap terhadap praktik korupsi," ujar pengamat politik ini.
Menurut dia, Golkar memerlukan figur baru yang muda, visioner, yang punya loyalitas pada politik adiluhungnya Golkar. "Jadi, sebetulnya kalau Doli mendapatkan suara tinggi pada sebuah survei untuk menduduki Sekjen Golkar saya kira wajar saja. Dia kritis dalam hal-hal koruptif," tandasnya.
Menurut dia, tantangan Golkar mendatang di depan mata dan harus dijawab dengan tepat. Golkar dikatakannya harus fokus kembali pada program strategisnya sebagai upaya menghadapi tahun politik mendatang.
Pertama, kata dia, Airlangga harus mampu melakukan konsolidasi di tubuh Golkar secara baik. Kedua, sambung dia, Fokus pada program-program strategis untuk menghadapi tahun politik tahun politik dari 2018-2019.
"Kalau kemudian tidak mampu membuat langkah-langkah strategis akhirnya berdampak berat, perkiraan saya nantinya suaranya bisa turun jika tak mampu menghadapi itu," ujar Ubedilah.
(dam)