Akbar Tanjung Ungkap di Balik Cara Setnov Pimpin Golkar
Jum'at, 08 Desember 2017 - 22:18 WIB
Akbar Tanjung Ungkap di Balik Cara Setnov Pimpin Golkar
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar Akbar Tanjung mengungkapkan, Setya Novanto bisa terpilih sebagai ketua umum partainya karena transaksional.
Diketahui, Setya Novanto (Setnov) memperoleh 277 suara dalam musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) Partai Golkar di Bali pada Mei 2016 lalu.
Pada Munaslub itu, Akbar mengaku memberikan dukungan kepada Airlangga Hartarto. "Tapi karena waktu proses transaksional terlalu kuat, sehingga terjadilah Novanto terpilih secara otomatis pada waktu itu," kata Akbar Tanjung di Kawasan Menteng Jakarta Pusat, Jumat (8/12/2017).
Karena itu, Akbar meminta agar tidak ada lagi praktek transaksional jika Munaslub digelar akhir tahun ini untuk memilih pengganti Setya Novanto yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus dugaan korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP).
Sebab, jika demikian, ketua umum Partai Golkar pengganti Setya Novanto nantinya tidak terikat balas budi. Sehingga, dapat berkonsentrasi memperbaiki elektabilitas Golkar.
"Dengan harapan Golkar bisa mendapat suara yang melebihi dari pemilu lalu," bebernya. Menurut dia, ketua umum Partai Golkar pengganti Setya Novanto nantinya harus sosok yang all out memimpin partai.
"Tidak boleh separuh atau setengah untuk membawa partai menghadapi agenda politik yang penting," katanya. Adapun sosok yang layak memimpin Partai Golkar dimaksudnya adalah Airlangga Hartarto.
Diketahui, Setya Novanto (Setnov) memperoleh 277 suara dalam musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) Partai Golkar di Bali pada Mei 2016 lalu.
Pada Munaslub itu, Akbar mengaku memberikan dukungan kepada Airlangga Hartarto. "Tapi karena waktu proses transaksional terlalu kuat, sehingga terjadilah Novanto terpilih secara otomatis pada waktu itu," kata Akbar Tanjung di Kawasan Menteng Jakarta Pusat, Jumat (8/12/2017).
Karena itu, Akbar meminta agar tidak ada lagi praktek transaksional jika Munaslub digelar akhir tahun ini untuk memilih pengganti Setya Novanto yang kini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus dugaan korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP).
Sebab, jika demikian, ketua umum Partai Golkar pengganti Setya Novanto nantinya tidak terikat balas budi. Sehingga, dapat berkonsentrasi memperbaiki elektabilitas Golkar.
"Dengan harapan Golkar bisa mendapat suara yang melebihi dari pemilu lalu," bebernya. Menurut dia, ketua umum Partai Golkar pengganti Setya Novanto nantinya harus sosok yang all out memimpin partai.
"Tidak boleh separuh atau setengah untuk membawa partai menghadapi agenda politik yang penting," katanya. Adapun sosok yang layak memimpin Partai Golkar dimaksudnya adalah Airlangga Hartarto.
(maf)