DPR Ingin agar Dugaan Impor Senjata Ilegal Dituntaskan

Senin, 25 September 2017 - 06:51 WIB
DPR Ingin agar Dugaan...
DPR Ingin agar Dugaan Impor Senjata Ilegal Dituntaskan
A A A
JAKARTA - Berbagai pihak, terutama DPR mendorong institusi penegak hukum dan juga Panglima TNI untuk mengusut tuntas isu impor 5.000 pucuk senjata ilegal tanpa Intrik politik.

Informasi diungkapkan dalam acara 'Silaturahim Panglima TNI dengan Purnawirawan TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat 22 September 2017, Jenderal Gatot Nurmantyo menyampaikan ada institusi yang berencana mendatangkan 5.000 pucuk senjata secara ilegal dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Indonesia.

Namun, Panglima TNI tidak memberikan info secara rinci mengenai institusi yang dimaksud dan jenis senjata yang akan didatangkan. Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menegaskan agar pengusutan harus dilakukan dengan kepala dingin agar terlepas dari intrik politik.

Menurutnya, di satu sisi tidak boleh ada yang paranoid bahwa isu tersebut digoreng untuk memperburuk citra pemerintah tapi di sisi lain harus diwaspadai juga adanya pihak-pihak yang mengadu domba antarinstansi resmi negara.

"Sebelum ada keterangan yang jelas dari Panglima TNI soal institusi mana yang pernah berencana mengimpor senjata, baiknya kita semua tidak berasumsi. Masalah ini adalah masalah hukum, jadi kita hanya boleh memberikan penilaian berdasarkan bukti-bukti dan fakta hukum," kata Sufmi Dasco dalam keterangan tertulis, Minggu 24 September 2017.

Dasco mengatakan, agar masyarakat atau pihak lain tidak brdpekulasi atas informasi yang beredar. Munculnya spekulasi bahwa institusi tersebut adalah Badan Intelejen Negara (BIN), sambungny, spekulasi tersebut sangat tidak berdasar.

"Berdasarkan tugas dan wewenang di bidang intelejen tidak ada kepentingan BIN untuk mengimpor senjata dengan jumlah begitu besar. Fungsi intelejen, BIN mengumpulkan informasi berdasarkan fakta untuk mendeteksi dan melakukan peringatan dini dalam rangka pencegahan, penangkalan, dan penanggulangan setiap ancaman terhadap keamanan nasional. Jika mengacu pada tugas dan wewenang tersebut, sepertinya sudah jelas bahwa yang dimaksud Panglima TNI bukan BIN," jelasnya.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi TB Hasanudin menyatakan Panglima harus segera berkordinasi dengan institusi penegakan hukum lain untuk mengusut kasus tersebut. Menurutnya, isu impor senjata dikhawatirkan menimbulkan keresahan di masyarakat.

"5.000 pucuk senjata api itu sama dengan kekuatan 4-5 batalyon tempur. Jadi, ucapan Panglima TNI dapat menciptakan rasa tidak aman di masyarakat. Kalau pengadaan senjata untuk TNI atau Polri itu legal dan jelas tercatat dalam anggaran Negara (APBN). Nah, ini 5 ribu pucuk senjata api ilegal, siapa yang memesan? Untuk siapa? Dan untuk apa?," ucapnya saat dihubungi.

(Baca juga: Penjelasan Menko Polhukam soal Isu Impor 5.000 Senjata Ilegal)

Politikus PDIP tersebut mengira, bisa jadi informasi yang disampaikan Panglima TNI akurat. Namun sambungnya, Pamglima sebaiknya langsung berkoordinasi dengan aparat kemanan dan institusi lainnya yang terkait dengan masalah keamanan negara.

"Menurut prosedur yang saya tahu, kalau memang benar bahwa ada indikasi akan masuk 5 ribu pucuk senjata secara ilegal dengan mencatut nama Presiden Jokowi, sebaiknya dikoordinasikan dulu dan di kroscek dengan aparat lain, seperti, Menhan, Kapolri, Kepala BIN, dan Menkopolhukam. Kalau perlu dilaporkan langsung kepada Presiden untuk diambil tindakan pencegahan atau kalau perlu diambil tindakan hukum," ungkapnya.

Begitupun dengan, anggota Komisi I DPR Arwani Thomafi yang mengatakan, pihaknya akan meminta keterangan Panglima TNI Gatot Nurmantyo tentang pernyataannya bahwa ada pihak yang mencatut Presiden Joko Widodo untuk membeli 5.000 senjata api (senpi) ilegal.

"Keterangan Panglima diperlukan agar tidak ada informasi yang simpang-siur. Untuk konfirmasi terkait pernyataan Panglima TNI ini, saya mengusulkan sebaiknya Komisi I DPR segera mengundang pihak terkait, baik Panglima TNI maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan secara lebih komprehensif," ucapnya.

Menurutnya, langkah tersebut untuk membuat terang informasi karena menyangkut pertahanan NKRI. "Di samping juga agar masalah ini tidak menjadi desas desus di publik secara liar," tambahnya.
(maf)
Berita Terkait
Propam Gelar Pemeriksaan...
Propam Gelar Pemeriksaan Senjata Api Polisi di Polres Tegal
Pemusnahan 432 Puncuk...
Pemusnahan 432 Puncuk Senjata Api Rakitan Hasil Operasi Senpi di Sumsel
Polda Sumsel Musnahkan...
Polda Sumsel Musnahkan 532 Senjata Api Rakitan Laras Panjang dan Pendek
Jadi Perakit Senjata...
Jadi Perakit Senjata Api Sejak 2014 Tahun, Sabtudin Baru Ditangkap
Kesal Selalu Campuri...
Kesal Selalu Campuri Urusan Rumah Tangganya, Menantu Letuskan Senpi ke Mertua
Rakit Senpi Ilegal,...
Rakit Senpi Ilegal, Guru SMP Swasta di Malang Diamankan Polda Jatim
Berita Terkini
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
5 Berita Hukum Pekan...
5 Berita Hukum Pekan Ini: Dadan Hindayana dan Silmy Karim Tersangka Korupsi, Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Infografis
Para Guru Besar Desak...
Para Guru Besar Desak DPR Usut Dugaan Penyalahgunaan Kekuasaan Eksekutif
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved