Fahri Hamzah Prihatin Kondisi Negeri dan Minta Pemerintah Waspada
Minggu, 13 November 2016 - 18:22 WIB
Fahri Hamzah Prihatin Kondisi Negeri dan Minta Pemerintah Waspada
A
A
A
JAKARTA - Bahwasanya Islam dan Indonesia adalah dua hal yang tidak pernah bisa dipisahkan. Islam menjadi denyut nadi dari kehidupan bangsa Indonesia, jauh sebelum Indonesia menemukan kemerdekaannya.
Setelah Indonesia lahir dan menjadi bangsa, religiusitas Islam menjadi pengisi relung pikiran dan renungan para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia.
Presiden Keluarga Alumni (KA) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Fahri Hamzah mengatakan, Islam juga menjadi warna dalam laku aktivitas kebangsaan, menuju perikehidupan yang paling ideal.
"Pancasila sebagai sebuah manifestasi dari religiusitas agama," kata Fahri Hamzah saat menutup kongres Nasional I Keluarga Alumni KAMMI di Ballroom Hotel Kartika Chandra, Minggu (13/11/2016).
"Terutama Islam dan kesadaran untuk hidup berbangsa, tetaplah menjadi gagasan yang unik, asli, dan mendekati ideal dan bisa menjadi jawaban atas kegelisahan bangsa kita menghadapi terpa gelombang perubahan ekstrim di berbagai belahan dunia," imbuhnya.
Sebagai sebuah gerakan kaum muda Islam di Indonesia, Keluarga Alumni KAMMI berkomitmen menjaga Indonesia, menjaga perjalanan demokrasi, menjaga kebhinnekaan, menjaga kibar merah putih.
"Alumni KAMMI ingin menegaskan diri sebagai sebuah generasi baru Indonesia dan dengan begitu, ingin juga mewakili generasi baru Indonesia yang dengan lantang mampu menyatakan bahwa kitalah para pemilik sah negeri ini," ucap Fahri.
Menurutnya, sebagai pewaris Indonesia yang telah diantarkan oleh para founding father, sebagai umat muslim punya kewajiban untuk menjaga umur bangsa.
"Kita, Indonesia, ingin hidup seribu tahun lagi dan selamanya. Maka komitmen kita pada bangsa harus diwujudkan dalam sebuah sikap dan rangkaian kerja tanpa pernah berhenti, untuk terus merawat kebhinnekaan, merentangkan kebersamaan, memupuk optimisme, menapuk harapan," ungkap Fahri.
Menurutnya, Alumni KAMMI adalah generasi baru Indonesia yang sedang bertumbuh dengan segala dinamikanya. Sebagai organisasi alumni mahasiswa yang baru, Alumni KAMMI tidak bisa melepaskan diri dari riak terkini yang menunjukkan gejala disharmoni antara ummat Islam dan negara.
Fahri mengaku, Alumni KAMMI prihatin dengan gejala ini seraya mengingatkan pemerintah agar waspada. "Ada gejala bahwa negara sedang dirasuki oleh ideologi dan anasir yang tidak mengerti bagaimana gejolak jiwa ummat Islam," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, negara seperti tak tanggap akan riak yang membesar perihal kegelisahan sosial di tengah ummat. Ketidakmengertian dan ketidaktanggapan ini akan memicu situasi sosial politik yang mengarah pada ketidakstabilan.
"Ini bisa menjadi tanda akan retasnya ikatan kebangsaan, tanda menuju ketidakpuasan umat, dan akhirnya, tanda menuju delegitimasi pemerintah," tandas Fahri.
Setelah Indonesia lahir dan menjadi bangsa, religiusitas Islam menjadi pengisi relung pikiran dan renungan para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia.
Presiden Keluarga Alumni (KA) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Fahri Hamzah mengatakan, Islam juga menjadi warna dalam laku aktivitas kebangsaan, menuju perikehidupan yang paling ideal.
"Pancasila sebagai sebuah manifestasi dari religiusitas agama," kata Fahri Hamzah saat menutup kongres Nasional I Keluarga Alumni KAMMI di Ballroom Hotel Kartika Chandra, Minggu (13/11/2016).
"Terutama Islam dan kesadaran untuk hidup berbangsa, tetaplah menjadi gagasan yang unik, asli, dan mendekati ideal dan bisa menjadi jawaban atas kegelisahan bangsa kita menghadapi terpa gelombang perubahan ekstrim di berbagai belahan dunia," imbuhnya.
Sebagai sebuah gerakan kaum muda Islam di Indonesia, Keluarga Alumni KAMMI berkomitmen menjaga Indonesia, menjaga perjalanan demokrasi, menjaga kebhinnekaan, menjaga kibar merah putih.
"Alumni KAMMI ingin menegaskan diri sebagai sebuah generasi baru Indonesia dan dengan begitu, ingin juga mewakili generasi baru Indonesia yang dengan lantang mampu menyatakan bahwa kitalah para pemilik sah negeri ini," ucap Fahri.
Menurutnya, sebagai pewaris Indonesia yang telah diantarkan oleh para founding father, sebagai umat muslim punya kewajiban untuk menjaga umur bangsa.
"Kita, Indonesia, ingin hidup seribu tahun lagi dan selamanya. Maka komitmen kita pada bangsa harus diwujudkan dalam sebuah sikap dan rangkaian kerja tanpa pernah berhenti, untuk terus merawat kebhinnekaan, merentangkan kebersamaan, memupuk optimisme, menapuk harapan," ungkap Fahri.
Menurutnya, Alumni KAMMI adalah generasi baru Indonesia yang sedang bertumbuh dengan segala dinamikanya. Sebagai organisasi alumni mahasiswa yang baru, Alumni KAMMI tidak bisa melepaskan diri dari riak terkini yang menunjukkan gejala disharmoni antara ummat Islam dan negara.
Fahri mengaku, Alumni KAMMI prihatin dengan gejala ini seraya mengingatkan pemerintah agar waspada. "Ada gejala bahwa negara sedang dirasuki oleh ideologi dan anasir yang tidak mengerti bagaimana gejolak jiwa ummat Islam," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, negara seperti tak tanggap akan riak yang membesar perihal kegelisahan sosial di tengah ummat. Ketidakmengertian dan ketidaktanggapan ini akan memicu situasi sosial politik yang mengarah pada ketidakstabilan.
"Ini bisa menjadi tanda akan retasnya ikatan kebangsaan, tanda menuju ketidakpuasan umat, dan akhirnya, tanda menuju delegitimasi pemerintah," tandas Fahri.
(maf)