Psikolog Ini Sebut Suatu Keadaan Bisa Bentuk Perilaku Seseorang
Jum'at, 11 November 2016 - 16:04 WIB
Psikolog Ini Sebut Suatu Keadaan Bisa Bentuk Perilaku Seseorang
A
A
A
DEPOK - Psikolog dari Universitas Stanford, Amerika Serikat (AS), Prof Philip Zimbardo mengatakan, dalam suatu keadaan bisa membentuk perilaku seseorang.
Pendapat itu dikatakan Zimbardo, karena berdasarkan penelitian yang dilakukannya. Dalam penelitian tersebut, Zimbardo ini membagi sekelompok pemuda menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berperan sebagai tahanan, kelompok lainnya sebagai penjaga.
Mereka ditempatkan di ruangan mirip penjara yang dibangun di bawah tanah gedung jurusan psikologi Stanford. Penjara dibangun tanpa jendela dan tidak disediakan jam, sehingga subjek tidak mengetahui lamanya waktu berjalan.
Sebelum ditempatkan di penjara, para tahanan ini ditangkap di kediaman masing-masing. Mereka diborgol di hadapan umum oleh polisi. Ketika sampai di penjara, diperlakukan layaknya napi yang baru tiba. Digeledah, ditelanjangi dan diberikan pakaian seragam penjara, lengkap dengan borgol di kaki.
Dalam satu hari, keadaan menjadi tidak terkendali. Para ‘penjaga’ mulai menggunakan aksi kekerasan pada narapidana. Penelitian ini seharusnya dilaksanakan selama dua minggu.
Saat menjadi keynote speaker dalam sebuah konferensi internasional, di Universitas Indonesia (UI), Depok, Zimbardo mengatakan, kebrutalan yang dilakukan para penjaga dan penderitaan yang dialami tahanan sudah sangat memprihatinkan.
"Alhasil pada hari keenam, penelitian ini dihentikan. Bagaimana pun, penelitian ini telah memperlihatkan ilustrasi yang jelas bagaimana suatu keadaan bisa membentuk perilaku seseorang," kata Zimbardo dalam siaran pers, Jumat (11/11/2016).
Menurut Zimbardo, para penjaga bertingkah sedemikian brutal karena mereka begitu menyelami peran sebagaimana dirinya yang berperan sebagai pengawas penjaga.
"Agresi para penjaga merupakan konsekuensi alami dari penggunaan seragam penjaga dan menegaskan kekuatan yang melekat pada peran tersebut," tandasnya.
Pendapat itu dikatakan Zimbardo, karena berdasarkan penelitian yang dilakukannya. Dalam penelitian tersebut, Zimbardo ini membagi sekelompok pemuda menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berperan sebagai tahanan, kelompok lainnya sebagai penjaga.
Mereka ditempatkan di ruangan mirip penjara yang dibangun di bawah tanah gedung jurusan psikologi Stanford. Penjara dibangun tanpa jendela dan tidak disediakan jam, sehingga subjek tidak mengetahui lamanya waktu berjalan.
Sebelum ditempatkan di penjara, para tahanan ini ditangkap di kediaman masing-masing. Mereka diborgol di hadapan umum oleh polisi. Ketika sampai di penjara, diperlakukan layaknya napi yang baru tiba. Digeledah, ditelanjangi dan diberikan pakaian seragam penjara, lengkap dengan borgol di kaki.
Dalam satu hari, keadaan menjadi tidak terkendali. Para ‘penjaga’ mulai menggunakan aksi kekerasan pada narapidana. Penelitian ini seharusnya dilaksanakan selama dua minggu.
Saat menjadi keynote speaker dalam sebuah konferensi internasional, di Universitas Indonesia (UI), Depok, Zimbardo mengatakan, kebrutalan yang dilakukan para penjaga dan penderitaan yang dialami tahanan sudah sangat memprihatinkan.
"Alhasil pada hari keenam, penelitian ini dihentikan. Bagaimana pun, penelitian ini telah memperlihatkan ilustrasi yang jelas bagaimana suatu keadaan bisa membentuk perilaku seseorang," kata Zimbardo dalam siaran pers, Jumat (11/11/2016).
Menurut Zimbardo, para penjaga bertingkah sedemikian brutal karena mereka begitu menyelami peran sebagaimana dirinya yang berperan sebagai pengawas penjaga.
"Agresi para penjaga merupakan konsekuensi alami dari penggunaan seragam penjaga dan menegaskan kekuatan yang melekat pada peran tersebut," tandasnya.
(maf)