Luhut Panjaitan Tegaskan Negara Tak Akan Minta Maaf kepada PKI

Senin, 30 Mei 2016 - 14:07 WIB
Luhut Panjaitan Tegaskan...
Luhut Panjaitan Tegaskan Negara Tak Akan Minta Maaf kepada PKI
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan memastikan negara tak akan meminta maaf kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) dan korban serta keluarga korban pelanggaran HAM berat masa lalu dalam tragedi 1965.

Hal itu ditegaskan Luhut saat memberi pembekalan dalam Upacara Pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Kader Bela Negara di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (30/5/2016).

"Anda harus paham ini, bahwa kita, negara ini tidak akan pernah minta maaf pada pemberontakan 1965‎. Sekali lagi saya minta para pelatih (Bela Negara) juga paham, bahwa kita tidak pernah ada pikiran sedikit pun untuk minta maaf pada PKI itu," ujar Luhut.

Menurut Luhut, sikap pemerintah jelas mengacu pada TAP MPRS 1966, UU Nomor 27 Tahun 1999 dan TAP MPR 2003 dalam upaya memerangi paham Marxisme, Leninisme dan Komunisme di Indonesia. Dia berpesan, kepada peserta bela negara agar tak terpengaruh dengan isu yang berkembang belakangan ini.

"Menyangkut masalah komunisme, sudah ada parameter yan‎g jadi pegangan kita. Jangan terbawa pembicaraan di luar. Bahwa partai komunis tidak bisa hidup di Indonesia dan organisasi yang tidak berasaskan Pancasila pun tidak punya hak untuk hidup di Indonesia. Pancasila adalah ideologi negara‎," jelasnya.

Terkait isu berkembang soal 'hidupnya' lagi paham komunisme, Luhut mengaku Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan pandangannya.

"Kemarin presiden dengan saya bincang-bincang panjang. Presiden menyampaikan statement sederhana, Pak Luhut itu kan pertikaian politik, untung yang menang TNI atau negara, kalau yang menang PKI habis juga kita dibunuh," tutur dia.

Meski begitu, Luhut menilai, negara tak boleh diam untuk terus menuntaskan tragedi pelanggaran HAM masa lalu. Namun, dia menolak jika disebutkan korban dari peristiwa itu mencapai sekira 400.000 jiwa.

"Tapi kita tidak bisa juga ignore atau memungkiri bahwa kita hidup dalam suasana dunia global. ‎Kita harus menunjukkan kepada mereka, bahwa bangsa ini bukan bangsa pembunuh. Kita tidak sepakat bahwa jumlah yang mati tahun 1965 yaitu 400 ribu orang."

"Bahwa ada korban, iya. Tapi jumlahnya jauh di bawah angka itu. Mungkin kita menyesalkan peristiwa tersebut, karena itu sejarah kelam bagi bangsa ini dan mungkin jadi salah satu pertimbangan kita," pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
PKS Bantah Isue Komunisme...
PKS Bantah Isue Komunisme dalam RUU HIP sebagai Upaya Pembodohan Terhadap Publik
Polisi Dalami Penemuan...
Polisi Dalami Penemuan Bendera Merah Putih Bergambar Palu Arit di Unhas
PM Thongloun Ditunjuk...
PM Thongloun Ditunjuk Menjadi Pemimpin Baru Partai Komunis Laos
Partai Komunis Afrika...
Partai Komunis Afrika Selatan: Israel Negara Jahat yang Harus Dihancurkan
Fadli Zon Sebut Ideologi...
Fadli Zon Sebut Ideologi Komunis Ganas dan Kejam
2 Negara Komunis yang...
2 Negara Komunis yang Jadi Anggota ASEAN, Salah Satunya Jarang Diketahui
Berita Terkini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Infografis
27 Negara Peringatkan...
27 Negara Peringatkan Warganya, Perang Dunia III Akan Terjadi?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved