Menhan Cari Biang Kerok Penyebar Isu dan Atribut PKI

Jum'at, 13 Mei 2016 - 23:06 WIB
Menhan Cari Biang Kerok...
Menhan Cari Biang Kerok Penyebar Isu dan Atribut PKI
A A A
JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengaku tengah mencari biang kerok di balik mencuatnya isu dan maraknya atribut komunisme akhir-akhir ini yang dianggap meresahkan.

Sebab, tidak menutup kemungkinan penyebaran isu komunis ini merupakan bagian dari agenda asing yang ingin menciptakan proxy war dan memecah belah rakyat Indonesia.

"Mungkin (proxy war) itu yang sedang kita cari, ini siapa ini biang keroknya. Kalau dia sudah berani-berani pasti sudah ada mbahnya. Kita harus cari, kalau dia negara saya akan akan ngomong," ujarnya di Kantor Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (13/5/2016).

Ryamizard menegaskan, apapun yang berbau komunis di Indonesia dilarang dan ada hukumannya. Hal itu sudah diatur dalam UU No 27 Tahun 1999 tentang Perubahan KUHP yang berkaitan dengan keamanan negara.

Dalam Pasal 107 disebutkan, barang siapa yang melawan hukum di muka dengan lisan, tulisan atau media apapun, mengajarkan dan mengembangkan ajaran komunisme, marxisme di pidana paling lama 12 tahun hingga 20 tahun penjara.

"Jadi semua yang dilakukan itu berdasarkan UU enggak ngarang-ngarang. Saya Menhan enggak ingin ribut-ribut. Apalagi terjadi perkelahian, pertumpahan darah. Saya ingin aman damai. Saya bukan provokasi, tapi mengingatkan, yang dulu jangan diutak atik, diungkit-ungkit lagi. Kalau dipancing-pancing pasti akan kejadian, kita enggak mau," jelasnya.

Mengenai penyebaran buku-buku dan atribut komunisme yang marak di internet, Ryamizard mengaku, ada menteri terkait yang akan menanganinya. "Nanti caranya bagaimana ada menteri yang bersangkutan. Tentara sibuk karena yang jadi korban itu tentara, pahlawan revolusi. Selanjutnya di serahkan ke polisi. Kalau polisi saja tidak sanggup," tegasnya.

Begitu juga dengan pelaksanaan simposium. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini mengaku, sangat menyesalkan penyelenggaraan kegiatan tersebut.

"Soal simposium saya sangat menyesalkan. Sudah satu itu saja menjawab simposium sebelumnya, enggak usah lagi-lagi. Itu simposium berpihak pada yang kiri. Nanti balas membalas, saya enggak mau. Ngapain dibangkit-bangkitkan kembali. Kalau bangsa ini mau bagus, mari berdamailah," ujarnya.

Ryamizard juga menyebut, orangtua yang menyuruh anaknya mengenakan baju berlambang komunis sebagai pengecut. "Ibu bapaknya saja belum lahir saat itu. Dan lebih parah lagi, anak kecil enggak tahu disuruh-suruh pakai komunis. Gila itu. Dia aja (bapaknya) kalau mau. Tanggung jawab orang tuanya mana? Kalau terjadi apa-apa dengan anaknya siapa yang tanggung jawab. Ini kan massa besar yang enggak suka komunis. Itukan tidak jantan," tegasnya.
(kri)
Berita Terkait
PKS Bantah Isue Komunisme...
PKS Bantah Isue Komunisme dalam RUU HIP sebagai Upaya Pembodohan Terhadap Publik
Polisi Dalami Penemuan...
Polisi Dalami Penemuan Bendera Merah Putih Bergambar Palu Arit di Unhas
PM Thongloun Ditunjuk...
PM Thongloun Ditunjuk Menjadi Pemimpin Baru Partai Komunis Laos
Partai Komunis Afrika...
Partai Komunis Afrika Selatan: Israel Negara Jahat yang Harus Dihancurkan
2 Negara Komunis yang...
2 Negara Komunis yang Jadi Anggota ASEAN, Salah Satunya Jarang Diketahui
Fadli Zon Sebut Ideologi...
Fadli Zon Sebut Ideologi Komunis Ganas dan Kejam
Berita Terkini
Sangkal Menkeu dan Gubernur...
Sangkal Menkeu dan Gubernur BI Diganti, Mensesneg: Justru Harus Kita Perkuat
Usai Silmy Karim Ditahan...
Usai Silmy Karim Ditahan KPK, Kursi Wamen Imipas Dibiarkan Kosong
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved