Geledek Datang Jamaah Bertakbir dan Angkat Tangan
Selasa, 15 September 2015 - 07:27 WIB
Geledek Datang Jamaah Bertakbir dan Angkat Tangan
A
A
A
MEKKAH - Peristiwa ambruknya crane di Masjidilharam masih terus membekas di ingatan Doni Wahidul Akbar (26) mahasiswa semester akhir Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir yang menjadi petugas haji.
Dia merupakan salah satu warga Indonesia yang menjadi saksi sekaligus yang pertama kali mengevakuasi para korban yang berjatuhan dalam insiden pada Jumat 11 September.
Mahasiswa ini tiba di Mekkah pada Kamis 10 September atau sehari sebelum kejadian. Sehari usai kedatangan, Doni berniat umrah bersama teman-temannya. Dengan hati mantap dan berpakaian ihram, dia berangkat ke Masjidilharam.
“Saya datang jam 16.45 waktu setempat, kemudian salat Ashar berjamaah dengan tiga teman saya. Selanjutnya sekitar jam 17.00 saya ke tempat tawaf. Cuaca masih baik. Jamaah Indonesia banyak yang dipinggir tempat tawaf,” katanya memulai pembicaran.
Saat dia mendekati lampu hijau untuk memulai tawaf, debu mulai muncul. Sekitar dua menit kemudian mulai terasa terjangan angin kencang, dan jam 17.10 terjadi hujan.
Berselang tiga menit kemudian ada geledek (petir) yang kencang. “Saat terjadi geledek jamaah semua pada mengangkat tangan sambil berteriak Allahu Akbar,” tuturnya.
Warga Tanah Abang ini menuturkan, hujan deras dan geledek tak menyurutkan para jamaah untuk melakukan tawaf. Dengan kain ihram yang basah mereka khusuk mengelilingi Kakbah.
Doni masih ingat di sekitar lokasi tempat bandul crane jatuh relatif sepi dari jamaah. “Lintasan ketiga lurus dengan maqam Ibrahim masih sepi, tapi ada beberapa jamaah yang di situ,” tuturnya.
Posisinya saat itu sekitar 50 meter dari lokasi. Ternyata belakangan diketahui saat hujan deras disertai debu dan badai itu crane sudah mulai goyang.
Doni dan puluhan ribu jamaah yang berada di dalam area tawaf maupun yang ada di tempat sai tak menyadari bahaya yang mengancam. Tak lama kemudian crane itu ambruk disertai suara menggelegar, bruakkk.
Lengan katrol yang panjang jatuh menimpa atap bangunan lantai 4 yang sedang dibangun. Prakkk, atapnya beton jebol sampai ke lantai tiga menimpa jamaah yang sedang melaksanakan sai.
Pecahan beton, keramik pun berhamburan menimpa jamaah. Dalam sepersekian detik, korban pun berjatuhan. Peristiwa belum usai karena ternyata bandul diujung craine itu terlepas saat lengan crane membentur pinggir atap lantai 4. Bandul kemudian jatuh ke bawah dalam posisi seperti diayunkan.
“Bandulnya sebesar lemari, warnanya merah. Getarannya begitu kuat, sehingga sampai dinding temboknya banyak yang bolong,” ungkapnya.
Melihat peristiwa itu, Doni beserta tiga temannya kaget sekaligus shock. Saat dia menoleh, seorang pria yang hanya berdiri di dekatnya sudah bersimbah darah.
Kepalanya terluka. Seketika, Doni terketuk untuk menyelamatkan jamaah yang terluka. “Saat saya melangkah, saya melihat korban yang tergeletak di lantai. Kondisinya sudah meninggal. Sepertinya berasal dari negara Eropa bagian timur,” terangnya.
Diapun kemudian beranjak ke tempat sai. Kondisi lantai yang tergenang air serta cipratan darah seperti memerintahkannya untuk bertindak cepat.
“Saya bagi tugas dengan teman saya. Yang pertama kali saya temukan adalah seorang jamaah perempuan dari embarkasi BTH (Batam). Ibu itu terluka di kepala, dia masih hidup. Saya panggil petugas yang biasanya mendorong kursi roda. Ibu itu saya naikkan ke kursi roda. Petugas itu yang mendorong, sedangkan saya mencari jalan. Kondisi lantai saat itu sudah tergenang,” paparnya.
Setengah berlari, mereka akhirnya menuju pintu keluar 19 di Babussalam yang lokasinya berada di bawah tempat sai. Kabel yang berseliweran di dekat pintu ditembus.
“Ibu itu kami bawa ke Medical Center,” terangnya. Jaraknya sekitar 100 meter dari pintu. Saat itu ambulans belum datang.
“Dokter yang berjaga pun hanya satu,” urainya. Setelah diserahkan ke dokter, Doni dengan jantung berdegap kencang berangkat lagi sambil membawa segepok kapas yang diberikan paramedis untuk menolong jamaah yang lain.
“Saya masuk lagi lewat pintu 19. Tiga teman saya nggak bisa masuk karena tak membawa ID Card petugas haji. Karena tergenang air, saya sempat diminta hati-hati karena ada yang tersengat aliran listrik,” jelasnya. (bersambung)
Dia merupakan salah satu warga Indonesia yang menjadi saksi sekaligus yang pertama kali mengevakuasi para korban yang berjatuhan dalam insiden pada Jumat 11 September.
Mahasiswa ini tiba di Mekkah pada Kamis 10 September atau sehari sebelum kejadian. Sehari usai kedatangan, Doni berniat umrah bersama teman-temannya. Dengan hati mantap dan berpakaian ihram, dia berangkat ke Masjidilharam.
“Saya datang jam 16.45 waktu setempat, kemudian salat Ashar berjamaah dengan tiga teman saya. Selanjutnya sekitar jam 17.00 saya ke tempat tawaf. Cuaca masih baik. Jamaah Indonesia banyak yang dipinggir tempat tawaf,” katanya memulai pembicaran.
Saat dia mendekati lampu hijau untuk memulai tawaf, debu mulai muncul. Sekitar dua menit kemudian mulai terasa terjangan angin kencang, dan jam 17.10 terjadi hujan.
Berselang tiga menit kemudian ada geledek (petir) yang kencang. “Saat terjadi geledek jamaah semua pada mengangkat tangan sambil berteriak Allahu Akbar,” tuturnya.
Warga Tanah Abang ini menuturkan, hujan deras dan geledek tak menyurutkan para jamaah untuk melakukan tawaf. Dengan kain ihram yang basah mereka khusuk mengelilingi Kakbah.
Doni masih ingat di sekitar lokasi tempat bandul crane jatuh relatif sepi dari jamaah. “Lintasan ketiga lurus dengan maqam Ibrahim masih sepi, tapi ada beberapa jamaah yang di situ,” tuturnya.
Posisinya saat itu sekitar 50 meter dari lokasi. Ternyata belakangan diketahui saat hujan deras disertai debu dan badai itu crane sudah mulai goyang.
Doni dan puluhan ribu jamaah yang berada di dalam area tawaf maupun yang ada di tempat sai tak menyadari bahaya yang mengancam. Tak lama kemudian crane itu ambruk disertai suara menggelegar, bruakkk.
Lengan katrol yang panjang jatuh menimpa atap bangunan lantai 4 yang sedang dibangun. Prakkk, atapnya beton jebol sampai ke lantai tiga menimpa jamaah yang sedang melaksanakan sai.
Pecahan beton, keramik pun berhamburan menimpa jamaah. Dalam sepersekian detik, korban pun berjatuhan. Peristiwa belum usai karena ternyata bandul diujung craine itu terlepas saat lengan crane membentur pinggir atap lantai 4. Bandul kemudian jatuh ke bawah dalam posisi seperti diayunkan.
“Bandulnya sebesar lemari, warnanya merah. Getarannya begitu kuat, sehingga sampai dinding temboknya banyak yang bolong,” ungkapnya.
Melihat peristiwa itu, Doni beserta tiga temannya kaget sekaligus shock. Saat dia menoleh, seorang pria yang hanya berdiri di dekatnya sudah bersimbah darah.
Kepalanya terluka. Seketika, Doni terketuk untuk menyelamatkan jamaah yang terluka. “Saat saya melangkah, saya melihat korban yang tergeletak di lantai. Kondisinya sudah meninggal. Sepertinya berasal dari negara Eropa bagian timur,” terangnya.
Diapun kemudian beranjak ke tempat sai. Kondisi lantai yang tergenang air serta cipratan darah seperti memerintahkannya untuk bertindak cepat.
“Saya bagi tugas dengan teman saya. Yang pertama kali saya temukan adalah seorang jamaah perempuan dari embarkasi BTH (Batam). Ibu itu terluka di kepala, dia masih hidup. Saya panggil petugas yang biasanya mendorong kursi roda. Ibu itu saya naikkan ke kursi roda. Petugas itu yang mendorong, sedangkan saya mencari jalan. Kondisi lantai saat itu sudah tergenang,” paparnya.
Setengah berlari, mereka akhirnya menuju pintu keluar 19 di Babussalam yang lokasinya berada di bawah tempat sai. Kabel yang berseliweran di dekat pintu ditembus.
“Ibu itu kami bawa ke Medical Center,” terangnya. Jaraknya sekitar 100 meter dari pintu. Saat itu ambulans belum datang.
“Dokter yang berjaga pun hanya satu,” urainya. Setelah diserahkan ke dokter, Doni dengan jantung berdegap kencang berangkat lagi sambil membawa segepok kapas yang diberikan paramedis untuk menolong jamaah yang lain.
“Saya masuk lagi lewat pintu 19. Tiga teman saya nggak bisa masuk karena tak membawa ID Card petugas haji. Karena tergenang air, saya sempat diminta hati-hati karena ada yang tersengat aliran listrik,” jelasnya. (bersambung)
(sms)