Ketua DPR Jelaskan Kronologi Pertemuan dengan Donald Trump
Senin, 14 September 2015 - 10:22 WIB
Ketua DPR Jelaskan Kronologi Pertemuan dengan Donald Trump
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPR Setya Novanto telah tiba di Indonesia usai lawatan dari Amerika Serikat. Mulai hari ini, dia sudah ngantor di Kompleks Senayan, Jakarta Selatan. Saat ditemui wartawan, ia menjawab semua tuduhan dugaan pelanggaran kode etik saat dirinya bertemu Donald Trump di Amerika Serikat, pekan lalu.
Berdasarkan pengamatan Seetya terhadap pemberitaan media massa dan arus informasi di media sosial, setidaknya ada dua tanggapan masyarakat terhadap pertemuan antara Setya dan Donald Trump. Sebagian pihak memandang dari sisi etika, sebagian lainnya memandang dari sisi fungsi, tugas dan kewenangan DPR RI.
Setya mengatakan, kunjungannya beserta beberapa anggota DPR RI lainnya dalam rangka mengikuti agenda sidang The 4th World Conference of Speakers Inter Parliamentary Union (IPU) di New York, Amerika Serikat.
Setelah agenda tersebut, lanjut Setya, dirinya bertemu dengan Donald Trump. Menurutnya, pertemuan tersebut di luar agenda. Karena itu, pertemuan lebih bersifat spontan.
"Pertemuan sebagai teman biasa, kebetulan yang bersangkutan juga merupakan salah satu pengusaha yang banyak terlibat dalam aktivitas investasi di Indonesia," kata Setya, Senin (14/9/2015)
Dia memaparkan, pertemuan dengan bos hotel dan real estate itu berawal dari inisiasi Donald Trump yang menghubunginya untuk menyempatkan diri berkunjung ke gedung miliknya.
Pertemuan akhirnya digelar. Berlangsung pada Pukul 13.30 waktu setempat. Sementara itu, agenda acara IPU sedang rehat hingga Pukul 15.00 waktu setempat.
Diakui Novanto, perbincangan dengan Donald Trump lebih banyak tentang investasi di Indonesia. Menurutnya, perbincangan itu sangat penting, mengingat saat ini, kondisi perekonomian Indonesia sedang melambat, sehingga membutuhkan pertumbuhan yang salah satunya bersumber dari investasi.
Lanjut politikus Golkar ini, hasil pertemuannya dengan Donald Trump juga mendapatkan respons positif dari Asosiasi Pengusaha Amerika Serikat dan ASEAN yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council. Di mana Setya juga diminta untuk berbicara dalam forum tersebut.
Pertemuan dengan Donald Trump tidak berlangsung lama. Usai pertemuan, kata Setya, Donald Trump meninggalkan pertemuan untuk turun ke bawah menghadiri jumpa pers. Setya bersama anggota DPR RI lainnya pun beranjak dari pertemuan dan mempersiapkan diri kembali ke agenda IPU.
Seusai jumpa pers, Donald Trump melihat Setya bersama anggota DPR lainnya hendak meninggalkan gedung. Saat itulah Donald Trump menyapa dan memperkenalkan Setya di hadapan peserta jumpa pers sebagai Ketua DPR RI.
"Sebagai penganut adat ketimuran, saya bersama Anggota DPR RI lainnya merasa tidak etis meninggalkan gedung tersebut tanpa pamit kepada Trump," katanya.
Akibatnya, sebagian publik memandang pertemuan tersebut tidak layak secara etika, mengingat jabatan ketua DPR RI, termasuk anggota DPR RI, tidak patut bertemu dengan salah satu figur yang juga berniat mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat. Belum lagi, figur Donald Trump yang dikenal sinis dalam pandangan sebagian orang.
"Secara pribadi, saya tidak memiliki kepentingan sedikitpun terkait niat Donald Trump dalam mencalonkan diri sebagai Presiden AS. Sebagai pribadi, saya semata-mata memandang yang bersangkutan sebagai teman, yang kebetulan bertemu di sebuah tempat yang juga (kebetulan) menjadi tempat konperensi pers," tutur Setya.
PILIHAN:
Target Pansus Pelindo Versi Fraksi PPP
Kegaduhan Kasus Pelindo Dinilai Bersumber dari Jokowi
Berdasarkan pengamatan Seetya terhadap pemberitaan media massa dan arus informasi di media sosial, setidaknya ada dua tanggapan masyarakat terhadap pertemuan antara Setya dan Donald Trump. Sebagian pihak memandang dari sisi etika, sebagian lainnya memandang dari sisi fungsi, tugas dan kewenangan DPR RI.
Setya mengatakan, kunjungannya beserta beberapa anggota DPR RI lainnya dalam rangka mengikuti agenda sidang The 4th World Conference of Speakers Inter Parliamentary Union (IPU) di New York, Amerika Serikat.
Setelah agenda tersebut, lanjut Setya, dirinya bertemu dengan Donald Trump. Menurutnya, pertemuan tersebut di luar agenda. Karena itu, pertemuan lebih bersifat spontan.
"Pertemuan sebagai teman biasa, kebetulan yang bersangkutan juga merupakan salah satu pengusaha yang banyak terlibat dalam aktivitas investasi di Indonesia," kata Setya, Senin (14/9/2015)
Dia memaparkan, pertemuan dengan bos hotel dan real estate itu berawal dari inisiasi Donald Trump yang menghubunginya untuk menyempatkan diri berkunjung ke gedung miliknya.
Pertemuan akhirnya digelar. Berlangsung pada Pukul 13.30 waktu setempat. Sementara itu, agenda acara IPU sedang rehat hingga Pukul 15.00 waktu setempat.
Diakui Novanto, perbincangan dengan Donald Trump lebih banyak tentang investasi di Indonesia. Menurutnya, perbincangan itu sangat penting, mengingat saat ini, kondisi perekonomian Indonesia sedang melambat, sehingga membutuhkan pertumbuhan yang salah satunya bersumber dari investasi.
Lanjut politikus Golkar ini, hasil pertemuannya dengan Donald Trump juga mendapatkan respons positif dari Asosiasi Pengusaha Amerika Serikat dan ASEAN yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council. Di mana Setya juga diminta untuk berbicara dalam forum tersebut.
Pertemuan dengan Donald Trump tidak berlangsung lama. Usai pertemuan, kata Setya, Donald Trump meninggalkan pertemuan untuk turun ke bawah menghadiri jumpa pers. Setya bersama anggota DPR RI lainnya pun beranjak dari pertemuan dan mempersiapkan diri kembali ke agenda IPU.
Seusai jumpa pers, Donald Trump melihat Setya bersama anggota DPR lainnya hendak meninggalkan gedung. Saat itulah Donald Trump menyapa dan memperkenalkan Setya di hadapan peserta jumpa pers sebagai Ketua DPR RI.
"Sebagai penganut adat ketimuran, saya bersama Anggota DPR RI lainnya merasa tidak etis meninggalkan gedung tersebut tanpa pamit kepada Trump," katanya.
Akibatnya, sebagian publik memandang pertemuan tersebut tidak layak secara etika, mengingat jabatan ketua DPR RI, termasuk anggota DPR RI, tidak patut bertemu dengan salah satu figur yang juga berniat mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat. Belum lagi, figur Donald Trump yang dikenal sinis dalam pandangan sebagian orang.
"Secara pribadi, saya tidak memiliki kepentingan sedikitpun terkait niat Donald Trump dalam mencalonkan diri sebagai Presiden AS. Sebagai pribadi, saya semata-mata memandang yang bersangkutan sebagai teman, yang kebetulan bertemu di sebuah tempat yang juga (kebetulan) menjadi tempat konperensi pers," tutur Setya.
PILIHAN:
Target Pansus Pelindo Versi Fraksi PPP
Kegaduhan Kasus Pelindo Dinilai Bersumber dari Jokowi
(kri)