Tak Mampu Rebut Pemerintahan, Oposisi Tetap Sadar Diri
Senin, 31 Agustus 2015 - 10:26 WIB
Tak Mampu Rebut Pemerintahan, Oposisi Tetap Sadar Diri
A
A
A
SINGAPURA - Potensi kemenangan Partai Aksi Rakyat (PAP) dalam pemilu Singapura pada 11 September mendatang hampir mustahil diganggu deretan partai oposisi.
Kendati demikian, sejumlah partai oposisi seperti Partai Pekerja (WP) dan Partai Solidaritas Nasional (NSP) akan tetap memberikan perlawanan. Target mereka tidak muluk-muluk. Cukup hanya dengan merebut beberapa kursi di jajaran parlemen. Hal tersebut memang bukan tanpa peluang. Sepeninggal Lee Kuan Yew, masyarakat Singapura menunjukkan kekecewaan terhadap partai pemerintah menyusul melesunya ekonomi yang ditimbulkan China dan krisis di negeri tetangga, Thailand.
Masyarakat Singa Putih kecewa dengan kebijakan pemerintahnya yang pro-imigrasi dan semakin melebarnya jurang kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin. Pemimpin WP Sylvia Lim mengatakan, partainya optimistis dapat kembali meraih beberapa kursi. Namun, dia juga sadar tidak akan sanggup mengalahkan PAP.
”PAP selalu menjadi lawan yang berat. PAP merupakan partai pemerintah dengan jaringan yang besar. Kami akan bekerja keras untuk meraih kursi dalam pemilu nanti,” katanya, dikutip Straits Times . Pada pemilu 2011 WP juga pernah menjadi pesaing PAP, meski tertinggal jauh. Saat itu mereka sukses mendapatkan enam kursi dengan perolehan suara mencapai 258.510. Menjelang pemilu, WP mengumumkan programnya dalam buku setebal 47 halaman dengan slogan ”Memberdayakan Masa Depan Anda” pada Sabtu (29/8) lalu.
Fokus program WP adalah menyerukan upah minimum dan meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja. Menurut Anggota Dewan Eksekutif WP, Gerald Gim, terdapat beberapa programutamaPAP, termasukmemperhatikan nilai warga Singapura seperti menghentikan anak muda untuk memiliki anak. ”Skema pencocokan pekerja berdasarkan kepercayaan diri warga juga menjadi program andalan,” ujar Gim dikutip Channel News Asia .
Mengenai ekonomi, kata dia, Singapura tidak membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang buta, tetapi pertumbuhan yang penuh kasih dan adil. Saat ini WP sudah siap menghadapi pemilu. Pada Jumat (28/8) pekan kemarin WP kembali membuka tirai para kandidat. Pada gelombang ketiga, Lim dan anggota parlemen dari WP, Png Eng Huat, memperkenalkan empat kandidat baru di markas WP di Syed Alwi Road. Mereka adalah He Ting Ru, Ron Tan, L. Somasundaram, dan Adrian Sim. He, seorang pengacara korporat, bergabung dengan WP pada 2013 silam.
Menurut He, banyak anak muda Singapura yang masih ketar ketir dengan harga rumah dan biaya merawat anak, begitu pula dengan biaya merawat orang tua serta kakek nenek. ”Beberapa anak muda Singapura tidak lagi bermimpi bisa hidup lebih baik,” kata He. Senada dengan He, Sim juga menyoroti tantangan nyata yang sedang dihadapi generasi muda pada abad modern.
”Saya mengerti bagaimana mereka harus berjuang di dunia ini,” imbuh Sim yang mengaku pernah menjadi tukang loper koran untuk menopang ekonomi keluarganya. Dua tahun sebelumnya, Sim hanya menjadi sukarelawan WP. Dalam sepekan WP telah memperkenalkan delapan kandidat baru, termasuk Cheryl Denise, Firuz Khan, Terenca Tan, dan Luke Koh. Koh sempat mengaku ingin mengubah sistem pendidikan di Singapura.
Saat ini banyak anak muda Singapura yang menjalankan sekolah sambil terpaksa bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara, Tan menyatakan khawatir dengan ekonomi Singapura dalam jangka panjang jika pemerintah tidak mengambil langkah yang lebih besar.
”Saya sangat yakin pemerintah saat ini terlalu fokus dalam penggalangan ekonomi dalam jangka pendek tanpa memikirkan dampak dalam jangka panjang,” tandas Tan, dilansir Yahoo News . Koh juga mengkritik kebijakan Pemerintah Singapura, antara lain kebijakan dua anak, ibu pasca-sarjana, dan target populasi sebesar 6,9 juta di dalam Kertas Putih-program pemerintah.
”Singapura memerlukan lebih banyak anggota parlemen dari Partai Pekerja untuk mencegah krisis yang lebih besar dalam 20 atau 30 tahun mendatang. Jika terpilih, saya ingin meningkatkan pendidikan,” katanya.
Muh shamil
Kendati demikian, sejumlah partai oposisi seperti Partai Pekerja (WP) dan Partai Solidaritas Nasional (NSP) akan tetap memberikan perlawanan. Target mereka tidak muluk-muluk. Cukup hanya dengan merebut beberapa kursi di jajaran parlemen. Hal tersebut memang bukan tanpa peluang. Sepeninggal Lee Kuan Yew, masyarakat Singapura menunjukkan kekecewaan terhadap partai pemerintah menyusul melesunya ekonomi yang ditimbulkan China dan krisis di negeri tetangga, Thailand.
Masyarakat Singa Putih kecewa dengan kebijakan pemerintahnya yang pro-imigrasi dan semakin melebarnya jurang kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin. Pemimpin WP Sylvia Lim mengatakan, partainya optimistis dapat kembali meraih beberapa kursi. Namun, dia juga sadar tidak akan sanggup mengalahkan PAP.
”PAP selalu menjadi lawan yang berat. PAP merupakan partai pemerintah dengan jaringan yang besar. Kami akan bekerja keras untuk meraih kursi dalam pemilu nanti,” katanya, dikutip Straits Times . Pada pemilu 2011 WP juga pernah menjadi pesaing PAP, meski tertinggal jauh. Saat itu mereka sukses mendapatkan enam kursi dengan perolehan suara mencapai 258.510. Menjelang pemilu, WP mengumumkan programnya dalam buku setebal 47 halaman dengan slogan ”Memberdayakan Masa Depan Anda” pada Sabtu (29/8) lalu.
Fokus program WP adalah menyerukan upah minimum dan meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja. Menurut Anggota Dewan Eksekutif WP, Gerald Gim, terdapat beberapa programutamaPAP, termasukmemperhatikan nilai warga Singapura seperti menghentikan anak muda untuk memiliki anak. ”Skema pencocokan pekerja berdasarkan kepercayaan diri warga juga menjadi program andalan,” ujar Gim dikutip Channel News Asia .
Mengenai ekonomi, kata dia, Singapura tidak membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang buta, tetapi pertumbuhan yang penuh kasih dan adil. Saat ini WP sudah siap menghadapi pemilu. Pada Jumat (28/8) pekan kemarin WP kembali membuka tirai para kandidat. Pada gelombang ketiga, Lim dan anggota parlemen dari WP, Png Eng Huat, memperkenalkan empat kandidat baru di markas WP di Syed Alwi Road. Mereka adalah He Ting Ru, Ron Tan, L. Somasundaram, dan Adrian Sim. He, seorang pengacara korporat, bergabung dengan WP pada 2013 silam.
Menurut He, banyak anak muda Singapura yang masih ketar ketir dengan harga rumah dan biaya merawat anak, begitu pula dengan biaya merawat orang tua serta kakek nenek. ”Beberapa anak muda Singapura tidak lagi bermimpi bisa hidup lebih baik,” kata He. Senada dengan He, Sim juga menyoroti tantangan nyata yang sedang dihadapi generasi muda pada abad modern.
”Saya mengerti bagaimana mereka harus berjuang di dunia ini,” imbuh Sim yang mengaku pernah menjadi tukang loper koran untuk menopang ekonomi keluarganya. Dua tahun sebelumnya, Sim hanya menjadi sukarelawan WP. Dalam sepekan WP telah memperkenalkan delapan kandidat baru, termasuk Cheryl Denise, Firuz Khan, Terenca Tan, dan Luke Koh. Koh sempat mengaku ingin mengubah sistem pendidikan di Singapura.
Saat ini banyak anak muda Singapura yang menjalankan sekolah sambil terpaksa bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara, Tan menyatakan khawatir dengan ekonomi Singapura dalam jangka panjang jika pemerintah tidak mengambil langkah yang lebih besar.
”Saya sangat yakin pemerintah saat ini terlalu fokus dalam penggalangan ekonomi dalam jangka pendek tanpa memikirkan dampak dalam jangka panjang,” tandas Tan, dilansir Yahoo News . Koh juga mengkritik kebijakan Pemerintah Singapura, antara lain kebijakan dua anak, ibu pasca-sarjana, dan target populasi sebesar 6,9 juta di dalam Kertas Putih-program pemerintah.
”Singapura memerlukan lebih banyak anggota parlemen dari Partai Pekerja untuk mencegah krisis yang lebih besar dalam 20 atau 30 tahun mendatang. Jika terpilih, saya ingin meningkatkan pendidikan,” katanya.
Muh shamil
(ars)