Harmonisasi Perbedaan Agama Jadi Kelebihan di Indonesia

Jum'at, 21 Agustus 2015 - 12:07 WIB
Harmonisasi Perbedaan...
Harmonisasi Perbedaan Agama Jadi Kelebihan di Indonesia
A A A
JAKARTA - Menguatnya paham radikalisme berkedok agama di kawasan Timur Tengah yang anti terhadap keberagaman tengah menjadi ancaman bagi umat manusia.

Melalui konsep fikih kebinekaan, para intelektual Islam di Indonesia mencoba menyodorkan solusi bagi tantangan global tersebut.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul Fikih Kebinekaan; Pandangan Islam Indonesia Tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Melalui buku karya Wawan Gunawan Abdul Wahid dan kawan-kawan, pembaca diajak melihat perkara keberagaman melalui sudut pandang fikih yang mengedepankan hubungan sosial yang harmonis, tanpa diskrimimasi dan demokratis.

Dalam diskusi itu, Wawan mengatakan, masyarakat sering dihadapkan dengan cara pandang berbeda terhadap agama. Salah satu penyebabnya kata dia, adalah bahan bacaan yang memang berbeda.

"Perbedaan bacaan itulah yang menghasilkan Islam yang beragam. Mulai dari sanad yang lunak hingga sanad yang keras," kata Wawan.

Dalam kesempatan itu, Wawan menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad memberi contoh kepada umatnya agar Islam selalu menjadi agama pengayom.

Menurut Wawan, saat peristiwa hijrah ke Madinah (saat itu masih bernama Yastrib), Nabi Muhammad menyewa seorang petunjuk jalan dari kalangan nonmuslim.

Demikian juga saat peristiwa Fathul Makkah, nabi juga memercayakan pembukaan pintu Kakbah kepada seseorang dari kalangan nonmuslim.

"Kunci pintu Kakbah itu Nabi serahkan kepada seorang nonmuslim. Padahal, para sahabat mengira mereka akan mengemban tugas tersebut," ucap Wawan.

"Makanya saya setuju jika Islam di Indonesia itu mirip kondisinya dengan di Yastrib, sangat beragam. Di sini kita berdampingan dengan Hindu, Buddha, Kristen, yang visinya ingin membangun Indonesia jaya," imbuh Wawan.

Pilihan:

Mengingat Kembali Kelahiran KPK

Luhut Sindir Rizal Ramli Belum Berasa Jadi Menteri
(maf)
Berita Terkait
Jejak Buddha Nusantara,...
Jejak Buddha Nusantara, Komitmen MNSBDI untuk Kerukunan dan Budaya
Kemenag Siapkan Regulasi...
Kemenag Siapkan Regulasi Khusus Rumah Doa untuk Perkuat Kerukunan
PKUB Kemenag Inisiasi...
PKUB Kemenag Inisiasi Festival Kerukunan di Desa, Warga: Luar Biasa
Ratusan Orang Muda Lintas...
Ratusan Orang Muda Lintas Agama dan Kepercayaan Rawat Toleransi
Menjaga Kerukunan Umat...
Menjaga Kerukunan Umat Beragama: Menuju Indonesia Emas Tahun 2024
Revitalisasi Paradigma...
Revitalisasi Paradigma Trilogi Kerukunan untuk Kebutuhan Umat Saat ini
Berita Terkini
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Imigrasi Nonaktifkan...
Imigrasi Nonaktifkan Pejabat yang Diperiksa KPK, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Berjalan
Dua Truk Towing Masuk...
Dua Truk Towing Masuk Rumah Silmy Karim saat KPK Lakukan Penggeledahan
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved