Jawa Tengah Darurat Kekeringan

Sabtu, 15 Agustus 2015 - 09:39 WIB
Jawa Tengah Darurat...
Jawa Tengah Darurat Kekeringan
A A A
SEMARANG - Daerah-daerah di Jawa Tengah (Jateng) yang mengalami kekeringan makin meluas. Pemerintah Provinsi Jateng pun menyatakan darurat kekeringan di wilayahnya hingga Oktober mendatang. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, ada sekitar 17 kabupaten/kota yang sudah mengalami kekeringan. Daerah- daerah itu meliputi Rembang, Blora, Grobogan, Pati, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Purworejo, Jepara, Demak, dan Kebumen.

”Kami sudah menyatakan darurat bencana kekeringan untuk wilayah Jateng,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang kemarin. Dengan pernyataan itu, lanjut Ganjar, maka sumber anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bisa diambil. Saat ini proposalnya sudah dalam proses pengajuan. ”Ada banyak potensi yang bisa dilakukan, tidak hanya uang. Termasuk, sistem dan peralatan bisa diminta ke BNPB,” tegas dia.

Ganjar mengungkapkan, pemerintahannya sudah menyiapkan antisipasi-antisipasi kekeringan, baik oleh Dinas Pertanian, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Untuk menangani bencana kekeringan di beberapa daerah, tindakan yang dilakukan adalah memasok air sebanyak-banyaknya di daerah yang terdampak kekeringan. ”Penanganan jangka pendeknya ya memasok air. Kami telah mengerahkan pemerintah kabupaten/ kota, swasta, TNI, dan lainnya untuk membantu mengatasi persoalan ini,” kata Ganjar.

Sementara untuk jangka menengah, pemerintah akan membuat embung-embung di daerah. Bahkan, Ganjar menargetkan akan membangun 1.000 embung untuk mengatasi kekeringan. ”Sedangkan jangka panjangnya ya reboisasi di sektor hulu,” kata Ganjar.

Di sisi lain, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng Reni Kraningtyas menyarankan agar hujan buatan dilakukan pada akhir September atau awal Oktober.

Pasalnya, pada rentang waktu itu sudah muncul awan cumulus atau cumulonimbus, yaitu awan yang berpeluang memunculkan hujan lebat. ”Jika awan itu muncul, garam tinggal ditabur. Maka, proses konveksi diprediksi akan berhasil,” kata Reni.

Amin fauzi
(bbg)
Berita Terkait
5 Hidangan Maknyus Khas...
5 Hidangan Maknyus Khas Nusantara
Teh Pucuk Harum X BAKUL...
Teh Pucuk Harum X BAKUL Sarinah Hadirkan Kuliner Nusantara di Stasiun KCIC
Presiden Jokowi Buka...
Presiden Jokowi Buka Nusantara TNI Fun Run di IKN Nusantara
10 Konglomerat Indonesia...
10 Konglomerat Indonesia Siap Investasi di IKN Nusantara
Minta Beras ke Kades,...
Minta Beras ke Kades, Warga Miskin di Bengkulu Dipolisikan
Sultan Mahmud Badaruddin...
Sultan Mahmud Badaruddin II, Harimau Palembang yang Menolak Tunduk hingga Diasingkan
Berita Terkini
Sidang Perdana Dokter...
Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar 2 Juli 2026, Roy Suryo Tunggu Praperadilan
Beda dengan Roy Suryo,...
Beda dengan Roy Suryo, Dokter Tifa Tidak Ajukan Gugatan Praperadilan
Mahasiswa UBK Ngaku...
Mahasiswa UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Politikus Gerindra: Saya Yakin Tidak Ada Sangkut Paut dengan Mas Gibran
Ducati hingga Tas Dior...
Ducati hingga Tas Dior Rampasan Kasus Korupsi K3 Bakal Dilelang KPK Desember 2026
Tilep Rp2 Miliar, Mantan...
Tilep Rp2 Miliar, Mantan Ketua PN Kudus Dipecat
Kepala BSKDN Kemendagri:...
Kepala BSKDN Kemendagri: Inovasi Kunci Pembangunan Daerah
Infografis
Profil Sarifah Suraidah...
Profil Sarifah Suraidah Istri Gubernur Kaltim yang Viral di Tengah Polemik Pengadaan Mobdin Rp8,5 Miliar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved