Compassion Fatigue
Jum'at, 14 Agustus 2015 - 09:53 WIB
Compassion Fatigue
A
A
A
Lelah menolong orang. Letih berbagi kasih sayang. Itulah kira-kira makna dari judul di atas. Istilah compassion fatigue lazim dijumpai dalam kajian psikologi, yaitu fenomena keletihan emosi yang mendekati frustrasi karena merasa gagal atau sia-sia usahanya membantu mengatasi problem orang lain.
Seorang polisi, misalnya, yangbertugasmemberantasnarkoba, ketika menghadapi kenyataan bahwa peredaran narkoba tambah meluas, sementara terdapat oknum-oknum polisi yang justru terlibat peredaran narkoba, sangat berpotensi mengalamihaldemikian. Situasiseperti itu sangat mungkin menimbulkan campassion fatigue.
Perasaan serupa bisa juga dialami oleh mereka yang sangat peduli dan gigih memperjuangkan hukum demi tegaknya kejujuran dan keadilan, tetapi dihadapkan pada kenyataan maraknya pelanggaran hukum, bahkan melibatkan aparat penegak hukum sehingga sangat bisa jadi membuat letih dan putus asa bagi para pejuang hukum.
Demikianlah, dugaan dan contoh mereka yang terkena sindrom compassion fatigue tentu bisa diperluas lagi. Saya sendiri sering mendengar langsung dari kalangan intelektual, ulama, pendidik, aktivis sosial yang kadang merasa letih, pesimistis, dan mendekati sikap putus asa. Seakan usaha mereka sia-sia dalam mendidik, mengajak, dan berteriak-teriak untuk membangun kehidupan politik dan sosial yang berkeadaban.
Menjauhkan diri dari sikap rakus, menipu, dan jegal-menjegal demi terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan rakyat demi membangun Indonesia yang bermartabat. Tapi, lagi-lagi, kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara semakin jauh dari yang dicitacitakan para leluhur pejuang kemerdekaan.
Kita semakin miskin politisi-negarawan, semakin langka ilmuwan-intelektual yang jadi idola dan penyebar inspirasi bagi anak-anak bangsa, khususnya generasi muda. Kita mengalami defisit kebanggaan sebagai warga bangsa karena langka prestasi dalam berbagai panggung kompetisi dunia. Sebagai praktisi pendidikan, saya sering mendengar keluhan dan kekecewaan para guru dan dosen melihat sekian banyak sarjana terjerat kasus korupsi yang kemudian menjadi penghuni penjara.
Mereka bertanyatanya, apa yang salah dengan muatan, proses, dan hasil pendidikan yang berlangsung selama ini? Apakah pendidikannya yang gagal atau memang terdapat kekuatan luar yang memiliki daya rusak yang teramat dahsyat? Atau memang keduanya sama-sama runyam? Melihat ini semua ini tak pelak lagi kadang melahirkan rasa letih. Seakan sia-sia.
Sekian triliun APBN, tenaga, dan pikiran yang telah dikeluarkan, hasilnya mengecewakan. Yang juga memunculkan compassion fatigue adalah berbagai peristiwa, kebijakan, dan proses politik yang tengah berlangsung. Kita ingat, ketika Pak Harto tampil sebagai presiden menggantikan Bung Karno, salah satu agendanya yang disampaikan dalam pidato resmi adalah memberantas korupsi, membangun pemerintahan yang bersih.
Ironisnya, ketika gerakan reformasi tampil dengan agenda menurunkan Pak Harto, lagi-lagi, salah satu agendanya adalah memberantas korupsi dengan cara melaksanakan demokrasi serta desentralisasi. Dan kini ketika kita sudah masuk pada era post -Orde Baru, yang menjadi musuh utama kita adalah juga korupsi. Bahkan korupsi ini banyak dilakukan aktivis dan pimpinan teras parpol yang dulu berteriak-teriak antikorupsi.
Beberapa tokoh dan pimpinan teras parpol sekarang ini mendekam di penjara. Bahkan muncul lagi penyakit baru berupa kekuatan gurita dinastiisme yang membajak pemerintahan daerah dengan kendaraan parpol dan mekanisme pilkada. Mereka menang semata karena kekuatan uang untuk membeli suara pemilih. Ini semua mengingatkan kita pada pepatah klasik, anjing menggonggong kafilah berlalu.
Meminjam bahasa Alquran, hatinya sudah mengeras, telinganya tuli, penglihatannya buta sehingga tidak tembus oleh peringatan dan ajakan moral oleh siapa pun yang menyampaikan. Pada kondisi seperti ini yang cocok adalah diingatkan dengan tongkat Musa karena tak mempan lagi dengan bahasa yang halus, baik, dan benar.
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat
Seorang polisi, misalnya, yangbertugasmemberantasnarkoba, ketika menghadapi kenyataan bahwa peredaran narkoba tambah meluas, sementara terdapat oknum-oknum polisi yang justru terlibat peredaran narkoba, sangat berpotensi mengalamihaldemikian. Situasiseperti itu sangat mungkin menimbulkan campassion fatigue.
Perasaan serupa bisa juga dialami oleh mereka yang sangat peduli dan gigih memperjuangkan hukum demi tegaknya kejujuran dan keadilan, tetapi dihadapkan pada kenyataan maraknya pelanggaran hukum, bahkan melibatkan aparat penegak hukum sehingga sangat bisa jadi membuat letih dan putus asa bagi para pejuang hukum.
Demikianlah, dugaan dan contoh mereka yang terkena sindrom compassion fatigue tentu bisa diperluas lagi. Saya sendiri sering mendengar langsung dari kalangan intelektual, ulama, pendidik, aktivis sosial yang kadang merasa letih, pesimistis, dan mendekati sikap putus asa. Seakan usaha mereka sia-sia dalam mendidik, mengajak, dan berteriak-teriak untuk membangun kehidupan politik dan sosial yang berkeadaban.
Menjauhkan diri dari sikap rakus, menipu, dan jegal-menjegal demi terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan rakyat demi membangun Indonesia yang bermartabat. Tapi, lagi-lagi, kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara semakin jauh dari yang dicitacitakan para leluhur pejuang kemerdekaan.
Kita semakin miskin politisi-negarawan, semakin langka ilmuwan-intelektual yang jadi idola dan penyebar inspirasi bagi anak-anak bangsa, khususnya generasi muda. Kita mengalami defisit kebanggaan sebagai warga bangsa karena langka prestasi dalam berbagai panggung kompetisi dunia. Sebagai praktisi pendidikan, saya sering mendengar keluhan dan kekecewaan para guru dan dosen melihat sekian banyak sarjana terjerat kasus korupsi yang kemudian menjadi penghuni penjara.
Mereka bertanyatanya, apa yang salah dengan muatan, proses, dan hasil pendidikan yang berlangsung selama ini? Apakah pendidikannya yang gagal atau memang terdapat kekuatan luar yang memiliki daya rusak yang teramat dahsyat? Atau memang keduanya sama-sama runyam? Melihat ini semua ini tak pelak lagi kadang melahirkan rasa letih. Seakan sia-sia.
Sekian triliun APBN, tenaga, dan pikiran yang telah dikeluarkan, hasilnya mengecewakan. Yang juga memunculkan compassion fatigue adalah berbagai peristiwa, kebijakan, dan proses politik yang tengah berlangsung. Kita ingat, ketika Pak Harto tampil sebagai presiden menggantikan Bung Karno, salah satu agendanya yang disampaikan dalam pidato resmi adalah memberantas korupsi, membangun pemerintahan yang bersih.
Ironisnya, ketika gerakan reformasi tampil dengan agenda menurunkan Pak Harto, lagi-lagi, salah satu agendanya adalah memberantas korupsi dengan cara melaksanakan demokrasi serta desentralisasi. Dan kini ketika kita sudah masuk pada era post -Orde Baru, yang menjadi musuh utama kita adalah juga korupsi. Bahkan korupsi ini banyak dilakukan aktivis dan pimpinan teras parpol yang dulu berteriak-teriak antikorupsi.
Beberapa tokoh dan pimpinan teras parpol sekarang ini mendekam di penjara. Bahkan muncul lagi penyakit baru berupa kekuatan gurita dinastiisme yang membajak pemerintahan daerah dengan kendaraan parpol dan mekanisme pilkada. Mereka menang semata karena kekuatan uang untuk membeli suara pemilih. Ini semua mengingatkan kita pada pepatah klasik, anjing menggonggong kafilah berlalu.
Meminjam bahasa Alquran, hatinya sudah mengeras, telinganya tuli, penglihatannya buta sehingga tidak tembus oleh peringatan dan ajakan moral oleh siapa pun yang menyampaikan. Pada kondisi seperti ini yang cocok adalah diingatkan dengan tongkat Musa karena tak mempan lagi dengan bahasa yang halus, baik, dan benar.
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah
@komar_hidayat
(bbg)