Yasonna Tak Kena Reshuffle, Jokowi Masih Ditekan Partai
Kamis, 13 Agustus 2015 - 12:37 WIB
Yasonna Tak Kena Reshuffle, Jokowi Masih Ditekan Partai
A
A
A
JAKARTA - Amannya posisi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly dari reshuffle (perombakan) susunan Kabinet Kerja memimbulkan sejumlah spekulasi.
Publik bertanya-tanya, mengapa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mencopot Yasonna yang disebut-sebut sebagai dalang kegaduhan politik negeri ini.
Said Salahudin dari Sinergi Masyarakat Indonesia untuk Demokrasi (Sigma) mengatakan, ada dua kemungkinan di balik amannya posisi Yasonna sebagai Menkumham. Pertama, presiden ingin mengganti, tapi tidak berdaya di depan partai pengusung Yasonna.
"Bila hal itu yang terjadi, menunjukkan kelemahan posisi presiden yang berada seperti di bawah tekanan partai," kata Said kepada Sindonews, Kamis (13/8/2015).
Kedua, presiden memang tidak berkenan mengganti Yasonna. Hal itu, kata Said, memberi kesan bahwa presiden sekurang-kurangnya terkait dengan konflik dua partai besar yang ada yakni Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
"Presiden menganggap langkah Yasonna sebagai langkah yang benar. Kalau presiden dalam posisi demikian, publik bisa menerka di balik perpecahan partai itu ada tangan presiden lewat Yasonna," ucap Said.
Pilihan:
Setelah Dicopot, Mereka Tak Diundang Acara Pelantikan
Kekuatan Marinir Indonesia Masuk Tiga Besar di Dunia
Publik bertanya-tanya, mengapa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mencopot Yasonna yang disebut-sebut sebagai dalang kegaduhan politik negeri ini.
Said Salahudin dari Sinergi Masyarakat Indonesia untuk Demokrasi (Sigma) mengatakan, ada dua kemungkinan di balik amannya posisi Yasonna sebagai Menkumham. Pertama, presiden ingin mengganti, tapi tidak berdaya di depan partai pengusung Yasonna.
"Bila hal itu yang terjadi, menunjukkan kelemahan posisi presiden yang berada seperti di bawah tekanan partai," kata Said kepada Sindonews, Kamis (13/8/2015).
Kedua, presiden memang tidak berkenan mengganti Yasonna. Hal itu, kata Said, memberi kesan bahwa presiden sekurang-kurangnya terkait dengan konflik dua partai besar yang ada yakni Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
"Presiden menganggap langkah Yasonna sebagai langkah yang benar. Kalau presiden dalam posisi demikian, publik bisa menerka di balik perpecahan partai itu ada tangan presiden lewat Yasonna," ucap Said.
Pilihan:
Setelah Dicopot, Mereka Tak Diundang Acara Pelantikan
Kekuatan Marinir Indonesia Masuk Tiga Besar di Dunia
(maf)