1,7 Juta Anak Indonesia Terpaksa Bekerja

Senin, 03 Agustus 2015 - 11:09 WIB
1,7 Juta Anak Indonesia...
1,7 Juta Anak Indonesia Terpaksa Bekerja
A A A
JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat 1,7 juta anak Indonesia masih terpaksa bekerja untuk membantu orang tuanya.

Dari jumlah itu, 400.000 di antaranya terjebak dalam pekerjaan yang membahayakan. Di antaranya perbudakan, pelacuran, pornografi, perjudian, pelibatan pada narkoba. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengatakan Kemenaker akan menarik 16.000 pekerja anak yang berada di 24 provinsi.

Selama ini, menurut Hanif, Kemenaker telah membuka dan memberikan kesempatan kepada para pekerja anak dari keluarga rumah tangga sangat miskin untuk mendapatkan akses pendidikan maupun pelatihan keterampilan. Salah satunya melalui Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (RAN-PBPTA). Hal ini sebagai amanat dari Keputusan Presiden No 59 Tahun 2002 tentang RAN-PBPTA yang pada tahun ini memasuki tahap III atau periode 10 tahun kedua (2013-2022).

”Program dan kegiatan RAN-PBPTA tahap III telah dituangkan dalam peta jalan (roadmap ) menuju Indonesia bebas dari pekerja anak tahun 2022. Kita butuh gerakan nasional untuk mencapaitargetyangcukupberatini,” ujar Hanif di Jakarta kemarin. Program penarikan pekerja anak ini dilakukan untuk mendukung Program Keluarga Harapan (PKH). Kegiatan ini diarahkan dengan sasaran utama anak bekerja dan putus sekolah yang berasal rumah tangga sangat miskin (RTSM) dan berusia 7-15 tahun.

Menurut dia, pemberdayaan ekonomi keluarga pun harus menjadi bagian penting dalam penarikan pekerja anak. ”Unsur pemerintah, pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh maupun masyarakat umum harus dilibatkan dalam program ini,” kata Hanif. Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan danPerlindunganAnak(PPPA) Yohana Yembise mengatakan, angka kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat.

Pihaknya mencatat sedikitnya pada 2014 ada 3.500 lebihkasuskekerasanterhadap anak. Tindakan asusila ini tidak hanya dominan di wilayah timur Indonesia, melainkan juga sudah merata di seluruh penjuru Tanah Air. ”Salah satu penyebabnya adalah situs internet yang memicu prostitusi online. Maka saya ingatkan orang tua agar rutin mengecek handphone anaknya,” ungkapnya.

Yohana mengatakan, penggunaan telepon seluler harus dikontrol, apalagiketikasianak menginjak SMP. Sebab guru juga tidak mungkin mengawasi muridnyasatupersatu. Apalagi jumlah seluruh siswa dalam satu kelas sebanyak 35-45 anak. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi angka kekerasan seksual terhadap anak.

Neneng zubaidah
(ars)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Berita Terkini
Sidang Banding Nadiem...
Sidang Banding Nadiem Makarim Digelar 5 Agustus 2026
Menaker: Pemerintah...
Menaker: Pemerintah Komitmen Cegah PHK dengan Berbagai Program Nyata
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia...
Update! 36 Kapolda Se-Indonesia usai Pelantikan oleh Kapolri Juli 2026, Ini Nama-namanya
Korban Penipuan Haji...
Korban Penipuan Haji Ilegal Capai 3.550 Orang, DPR Desak Kemenhaj Perkuat Pengawasan
Profil Irjen Totok Suharyanto,...
Profil Irjen Totok Suharyanto, Kakortastipidkor Polri yang Ungkap Megakorupsi Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved