50% Sekolah Masih di Bawah Standar

Selasa, 16 Juni 2015 - 10:03 WIB
50% Sekolah Masih di...
50% Sekolah Masih di Bawah Standar
A A A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan 50% sekolah di Indonesia masih di bawah standar nasional pendidikan. Dari delapan standar yang telah ditetapkan, standar proses dan standar kelulusan yang paling rendah mutunya.

Kasubbid Pemetaan Mutu Pendidikan Dasar, Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu Pendidikan (PPMP-BPSDMPK dan PMP) Kemendikbud Anies Muktiyani mengatakan, perbaikan pendidikan harus melibatkan berbagai pihak.

”Dalam RPJMN ditargetkan 95% indeks efektivitas satuan pendidikan akan meningkat pada 2019,” katanya pada Pelatihan Capacity Building tingkat nasional di Jakarta kemarin. Anies menjelaskan, program penjaminan mutu pendidikan baru ada 2011 lalu. Sayangnya, dalam restrukturisasi organisasi, kementerian penjaminan mutu pendidikan belum tampak di mana-mana. Padahal, penjaminan mutu pendidikan di negara lain seperti di ASEAN sudah dibangun secara ajek di satu kementerian.

Sementara itu, Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan yang dulu berada di bawah BPSDM danPMPdantahuniniakandihapus, kini masuk dalam Ditjen Pendidikan Dasar. Dia mengaku tugasnya akan semakin berat, namun peninjauan terhadap standar proses dan kelulusan mesti dilakukan supaya ada perubahanprosespembelajaran. Kepala PPMP-BPSDMPK dan PMP Kemendikbud Bastari mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform Innovation and Opportunities for Reaching Indonesias Teachers, Administrators, and Students) melatih 280-an fasilitator.

Pelatihan ini untuk melatih dan mendampingi guru, dan kepala sekolah jenjang sekolah menengah pertama untuk memperkuat praktik yang baik dalam pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah (MBS) dalam rangka pengembangan sekolah berbasis standar nasional pendidikan (SBSNP) di 33 provinsi. Dia menjelaskan, pihaknya melatih para fasilitator yang terdiri atas pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, widyaiswara LPMP, dan dosen LPTK.

Mereka akan melatih lebih dari 400 SMP yang akan melaksanakan program SBSNP dalam rangka mempercepat pencapaian standar nasional pendidikan yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Sekolah tersebut diharapkan dapat meningkat efektivitas mutunya dan menjadi contoh bagi sekolah lainnya. Bastari pun mengatakan, 81 wali kota dan bupati telah menandatangani nota kesepahaman sebagai wujud komitmen untuk melaksanakan program SBSNP.

Bastari berharap penyelenggaraan pelatihan dapat membantu para peserta yang berasal dari LPMP, dinas pendidikan, dan LPTK, dalam mendampingi guru dan kepala sekolah mengimplementasikan standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar pengelolaan sebagai bagian program dalam mewujudkan SMP SBSNP.

SBSNP merupakan sekolah percontohan praktik pengembangan mutu pendidikan dalam memenuhi delapan standar nasional pendidikan, di antaranya standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar biaya. ”Pelatihan ini bagian dari program penjaminan mutu pendidikan agar mutu sekolah mencapai standar nasional pendidikan,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMEO SEAMOLEC) Gatot Hari Priowiryanto mengatakan, peningkatan kualitas proses pembelajaran merupakan cara yang efektif untuk menyiapkan lulusan yang kompetitif. Pihaknya sendiri saat ini sedang merintis program untuk mengurangi disparitas kualitas pendidikan antar negara di Asia Tenggara.

Direktur Program USAID PRIORITAS Stuart Weston menyampaikan, capacity building tingkat nasional merupakan bagian dari upaya secara simultan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. ”Mutu sekolah sangat bergantung pada kualitas guru, supaya sekolah berkualitas dari segi pembelajaran, tidak ada cara lain selain sekolah harus mengembangkan keprofesionalan guru secara terusmenerus,” kata Stuart.

Sebelumnya pemerintah telah bertekad untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Langkah tersebut sebagai bagian untuk menyambut bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia. Karena itu, kurikulum dan guru kualitasnya dinaikkan sehingga para siswa memiliki kualitas yang tinggi. Salah satu program perbaikan kualitas pendidikan dilakukan melalui Kurikulum 2013.

Neneng zubaidah
(ars)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Berita Terkini
Kisah Haru Anak Kuli...
Kisah Haru Anak Kuli Bangunan Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira TNI di Istana
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Amanat Lengkap Presiden...
Amanat Lengkap Presiden Prabowo di Upacara Prasetya Perwira TNI-Polri Tahun 2026
Jenderal Agus Subiyanto...
Jenderal Agus Subiyanto Pastikan TNI Siap Dukung Swasembada Beras
PN Jakarta Selatan Tunda...
PN Jakarta Selatan Tunda Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 3 Pekan Depan
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Jilid 3 Roy Suryo Digelar di PN Jakarta Selatan Hari Ini
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved