Perempuan Miliki Bayi dari Jaringan Ovarium yang Dibekukan di Masa Remaja
Minggu, 14 Juni 2015 - 09:27 WIB
Perempuan Miliki Bayi dari Jaringan Ovarium yang Dibekukan di Masa Remaja
A
A
A
Pertama di dunia, seorang perempuan melahirkan bayi setelah operasi penanaman jaringan ovarium yang telah diambil saat dia masih remaja.
Perempuan itu masih berusia 14 tahun saat dia didiagnosa mengalami anemia akut sehingga memerlukan pengobatan yang merusak ovarium. Sebelum terapi, ovarium kanannya diambil dan dibekukan, dengan harapan dapat digunakan lagi jika dia di kemudian hari ingin menjadi ibu. Satu dekade kemudian, operasi di Belgia mencairkan beberapa bagian ovarium yang dibekukan itu dan memasangkannya lagi melalui operasi. Hasilnya, satu bayi laki-laki lahir pada November lalu.
”Beberapa bayi telah lahir dari jaringan yang diambil dari perempuan dewasa, tapi ini keberhasilan pertama dengan jaringan yang diambil sebelum masa puber,” ungkap para doktor dalam studi yang diterbitkan di jurnal Human Reproduction, dikutip kantor berita AFP. ”Ini terobosan penting dalam bidang tersebut karena anak itu merupakan pasien yang paling diuntungkan dari prosedur ini di masa depan,” papar Isabelle Demeestere di Erasmus Hospital, Brussels Free University, anggota tim yang melakukan transplantasi tersebut.
”Saat mereka didiagnosis dengan penyakit yang memerlukan perawatan yang dapat merusak fungsi ovarium, pembekuan jaringan ovarium merupakan satu-satunya opsi yang bisa untuk menjaga kesuburan mereka.” Pasien yang lahir di Republik Kongo itu didiagnosis menderita anemia sel sabit, kelainan darah genetika saat dia berusia lima tahun. Setelah dia pindah ke Belgia pada usia 11 tahun, para dokter mengetahui penyakit itu sudah sangat parah sehingga dia harus melakukan transplantasi sumsum tulang.
Prosedur ini memerlukan kemoterapi atau radioterapi untuk mematikan sistem imun sehingga tubuh tidak menolak sumsum transplantasi tersebut. Transplantasi itu berhasil, meski demikian gadis itu harus meneruskan dengan obat-obatan penekan kekebalan tubuh selama 18 bulan selanjutnya, dan ovarium bagian kirinya rusak.
Sepuluh tahun kemudian, perempuan yang namanya minta dirahasiakan itu, ingin memiliki keluarga. Pada tahap ini tim Demeestere menawarkan bantuannya. Mereka memasang empat bagian ovarium pada ovarium bagian kiri yang masih tersisa dan 11 bagian di tempat lain. Pasien mulai menstruasi secara rutin selama lima bulan kemudian tapi kemudian dia menghadapi masalah lain.
Suaminya tidak subur dan pasangan itu mencoba metode bayi tabung tapi tidak berhasil, hingga hubungan keduanya gagal. Lebih dari dua tahun setelah transplantasi, perempuan itu mengandung secara alami dengan pasangan baru pada usia 27 tahun. Bayi laki-laki lahir pada November lalu, dengan bobot 3,1 kilogram. Ovarium pasien itu masih berfungsi normal dan dia memiliki sisa bagian ovarium di tempat penyimpanan ovarium. Demeestere menjelaskan, prosedur ini bukan tanpa kontroversi karena dilakukan pada gadis yang masih sangat muda.
”Haruskah prosedur ini hanya diusulkan untuk pasien dengan risiko tinggi kerusakan ovarium atau bagi mereka dengan risiko rendah juga?” Pengamat independen memuji perkembangan ini sebagai langkah penting dalam mengatasi kemandulan, tapi mereka juga sepakat masih ada masalah etis.
Syarifudin
Perempuan itu masih berusia 14 tahun saat dia didiagnosa mengalami anemia akut sehingga memerlukan pengobatan yang merusak ovarium. Sebelum terapi, ovarium kanannya diambil dan dibekukan, dengan harapan dapat digunakan lagi jika dia di kemudian hari ingin menjadi ibu. Satu dekade kemudian, operasi di Belgia mencairkan beberapa bagian ovarium yang dibekukan itu dan memasangkannya lagi melalui operasi. Hasilnya, satu bayi laki-laki lahir pada November lalu.
”Beberapa bayi telah lahir dari jaringan yang diambil dari perempuan dewasa, tapi ini keberhasilan pertama dengan jaringan yang diambil sebelum masa puber,” ungkap para doktor dalam studi yang diterbitkan di jurnal Human Reproduction, dikutip kantor berita AFP. ”Ini terobosan penting dalam bidang tersebut karena anak itu merupakan pasien yang paling diuntungkan dari prosedur ini di masa depan,” papar Isabelle Demeestere di Erasmus Hospital, Brussels Free University, anggota tim yang melakukan transplantasi tersebut.
”Saat mereka didiagnosis dengan penyakit yang memerlukan perawatan yang dapat merusak fungsi ovarium, pembekuan jaringan ovarium merupakan satu-satunya opsi yang bisa untuk menjaga kesuburan mereka.” Pasien yang lahir di Republik Kongo itu didiagnosis menderita anemia sel sabit, kelainan darah genetika saat dia berusia lima tahun. Setelah dia pindah ke Belgia pada usia 11 tahun, para dokter mengetahui penyakit itu sudah sangat parah sehingga dia harus melakukan transplantasi sumsum tulang.
Prosedur ini memerlukan kemoterapi atau radioterapi untuk mematikan sistem imun sehingga tubuh tidak menolak sumsum transplantasi tersebut. Transplantasi itu berhasil, meski demikian gadis itu harus meneruskan dengan obat-obatan penekan kekebalan tubuh selama 18 bulan selanjutnya, dan ovarium bagian kirinya rusak.
Sepuluh tahun kemudian, perempuan yang namanya minta dirahasiakan itu, ingin memiliki keluarga. Pada tahap ini tim Demeestere menawarkan bantuannya. Mereka memasang empat bagian ovarium pada ovarium bagian kiri yang masih tersisa dan 11 bagian di tempat lain. Pasien mulai menstruasi secara rutin selama lima bulan kemudian tapi kemudian dia menghadapi masalah lain.
Suaminya tidak subur dan pasangan itu mencoba metode bayi tabung tapi tidak berhasil, hingga hubungan keduanya gagal. Lebih dari dua tahun setelah transplantasi, perempuan itu mengandung secara alami dengan pasangan baru pada usia 27 tahun. Bayi laki-laki lahir pada November lalu, dengan bobot 3,1 kilogram. Ovarium pasien itu masih berfungsi normal dan dia memiliki sisa bagian ovarium di tempat penyimpanan ovarium. Demeestere menjelaskan, prosedur ini bukan tanpa kontroversi karena dilakukan pada gadis yang masih sangat muda.
”Haruskah prosedur ini hanya diusulkan untuk pasien dengan risiko tinggi kerusakan ovarium atau bagi mereka dengan risiko rendah juga?” Pengamat independen memuji perkembangan ini sebagai langkah penting dalam mengatasi kemandulan, tapi mereka juga sepakat masih ada masalah etis.
Syarifudin
(ars)