16 Orang Tewas Akibat Gempa di Malaysia
Selasa, 09 Juni 2015 - 10:37 WIB
16 Orang Tewas Akibat Gempa di Malaysia
A
A
A
KUNDASANG - Otoritas Malaysia menyatakan, korban tewas akibat gempa yang mengguncang Gunung Kinabalu, Malaysia pada akhir pekan lalu mencapai 16 orang. Sebagian besar merupakan pendaki.
Di antara mereka ada lima siswa dan satu guru asal Singapura yang mengikuti program pendakian dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Gunung Kinabalu merupakan destinasi populer bagi para pencinta alam Singapura. Begitupun Indonesia. Nahas, kegiatan mereka di gunung setinggi 4.095 meter itu harus berakhir dengan kenyataan buruk.
Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang Malaysia hingga menyebabkan tebing Gunung Kinabalu mengalami longsor. Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura K Shanmugam mengonfirmasi enam jenazah itu setelah melakukan identifikasi. Beberapa siswa dan guru Singapura yang lain masih ada yang hilang.
Pemerintah Malaysia menyatakan siswa tersebut berusia antara12- 13 tahun. Selain itu, beberapa orang yang masuk dalam daftar hilang masih belum dapat dipastikan. Namun, mereka kemungkinan berasal dari Malaysia, China, Jepang, dan Filipina. Meski demikian, polisi Malaysia belum bisa memberikan informasi yang detail karena sulitnya proses identifikasi di sekitar wilayah terdampak.
Kepala Polisi Kota Ranau dekat Gunung Kinabalu Mohammad Farhan Lee Abdullah mengatakan, pihaknya menemukan bagian tubuh manusia di beberapa bagian Gunung Kinabalu. ”Kekuatan longsor itu sangat hebat,” ujar Farhan, dikutip AFP. ”Tubuh manusia bisa terbagi- bagi seperti itu, mungkin karena tertimpa batu dan reruntuhan. Tapi, kami perlu melakukan pemeriksaan forensik terlebih dahulu,” sambungnya.
Menteri Pariwisata Negara Bagian Sabah, Malaysia, Masidi Manjun, mengatakan, penyelidikan awal menunjukkan wilayah paling buruk terdampak yaitu Via Ferrata. ”Di sana banyak batu yang berjatuhan dari atas gunung,” katanya.
Berdasarkan laporan Straits Times, siswa dan guru asal Singapura itu juga mengambil rute Via Ferrata. Tim pencarian dan penyelamatan berhasil mengevakuasi 137 pendaki ke tempat aman setelah mereka terperangkap selama18 jam diatas Gunung Kinabalu.
Pendaki asal Australia, Vee Jin Dumlao, mengkritik Pemerintah Malaysia karena lambat dalam menangani korban selamat, baikterlukaatautidak, dan kurang cekatan. ”Anggota tim penyelamat tampak kebingungan. Pemandu gununglah yang justru berkontribusi besar,” katanya.
Pemerintah mengatakan jarak pandang di Gunung Kinabalu buruk sehingga berbahaya. ”Mudah mencari kelemahan upaya tim penyelamat. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan,” tandas Masidi.
Muh shamil
Di antara mereka ada lima siswa dan satu guru asal Singapura yang mengikuti program pendakian dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Gunung Kinabalu merupakan destinasi populer bagi para pencinta alam Singapura. Begitupun Indonesia. Nahas, kegiatan mereka di gunung setinggi 4.095 meter itu harus berakhir dengan kenyataan buruk.
Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang Malaysia hingga menyebabkan tebing Gunung Kinabalu mengalami longsor. Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura K Shanmugam mengonfirmasi enam jenazah itu setelah melakukan identifikasi. Beberapa siswa dan guru Singapura yang lain masih ada yang hilang.
Pemerintah Malaysia menyatakan siswa tersebut berusia antara12- 13 tahun. Selain itu, beberapa orang yang masuk dalam daftar hilang masih belum dapat dipastikan. Namun, mereka kemungkinan berasal dari Malaysia, China, Jepang, dan Filipina. Meski demikian, polisi Malaysia belum bisa memberikan informasi yang detail karena sulitnya proses identifikasi di sekitar wilayah terdampak.
Kepala Polisi Kota Ranau dekat Gunung Kinabalu Mohammad Farhan Lee Abdullah mengatakan, pihaknya menemukan bagian tubuh manusia di beberapa bagian Gunung Kinabalu. ”Kekuatan longsor itu sangat hebat,” ujar Farhan, dikutip AFP. ”Tubuh manusia bisa terbagi- bagi seperti itu, mungkin karena tertimpa batu dan reruntuhan. Tapi, kami perlu melakukan pemeriksaan forensik terlebih dahulu,” sambungnya.
Menteri Pariwisata Negara Bagian Sabah, Malaysia, Masidi Manjun, mengatakan, penyelidikan awal menunjukkan wilayah paling buruk terdampak yaitu Via Ferrata. ”Di sana banyak batu yang berjatuhan dari atas gunung,” katanya.
Berdasarkan laporan Straits Times, siswa dan guru asal Singapura itu juga mengambil rute Via Ferrata. Tim pencarian dan penyelamatan berhasil mengevakuasi 137 pendaki ke tempat aman setelah mereka terperangkap selama18 jam diatas Gunung Kinabalu.
Pendaki asal Australia, Vee Jin Dumlao, mengkritik Pemerintah Malaysia karena lambat dalam menangani korban selamat, baikterlukaatautidak, dan kurang cekatan. ”Anggota tim penyelamat tampak kebingungan. Pemandu gununglah yang justru berkontribusi besar,” katanya.
Pemerintah mengatakan jarak pandang di Gunung Kinabalu buruk sehingga berbahaya. ”Mudah mencari kelemahan upaya tim penyelamat. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan,” tandas Masidi.
Muh shamil
(bhr)