Dua Kubu PPP Formulasikan Islah
Kamis, 28 Mei 2015 - 04:57 WIB
Dua Kubu PPP Formulasikan Islah
A
A
A
JAKARTA - Dua kubu PPP yakni, hasil Muktamar Jakarta kepemimpinan Djan Faridz, dan PPP hasil Muktamar Surabaya kepemimpinan Romahurmuziy (Romi) tengah memformulasikan rencana islah. Islah dinilai menjadi salah satu pilihan bijak agar PPP dapat mengikuti Pilkada Serentak 2015 mendatang.
"Islah kan bagus, ya mungkin islah karena PPP partai Islam dan cinta damai. Proses menuju islah, akan kita bahas pada rapimnas tanggal 1-2 Juni di DPP. Itu alternatif yang utama," kata Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PPP kubu Djan, Achmad Dimyati Natakusumah saat dihubungi Koran SINDO, Rabu (27/5/2015).
Dimyati berpandangan, setidaknya dengan proses konsolidasi ini, PPP bisa mencapai islah terbatas agar PPP bisa mengikuti Pilkada Serentak 2015. Namun tidak menutup kemungkinan jika PPP bisa melakukan islah secara keseluruhan, dan bersatu dalam satu kepengurusan.
"Minimalnya sih islah terbatas, maksimalnya islah paripurna, semua jangan ada yang pecah, jangan ada yang bentuk partai baru," tegas Anggota Komisi I DPR itu.
Mengenai proses hukum, menurut Dimyati, pihaknya ingin menunggu hasil putusan banding di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) sebelum melakukan islah. Tapi, itu bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, kalau proses hukum ingin terus dilanjutkan selama islah, pihaknya akan mengikuti.
Menurutnya, akan lebih baik jika proses hukum yang ada dihentikan, termasuk juga banding yang diajukan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly.
"Yasonna ini yang ingin pecah belah, orang sudah mau damai pakai banding, harusnya jangan banding Yasonna Laoly itu, biar islah dan disatukan oleh tokoh dan ulamanya," ujar Wakil Ketua BURT DPR itu.
Adapun tokoh yang akan menengahi islah PPP, Dimyati mengatakan di PPP banyak tokoh ulama dan kyai, termasuk juga Kyai Maimoen Zubair (Mbah Moen). Mbah Moen merupakan tokoh yang sangat bijaksana karena berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist. Terlebih, tidak ada yang berani melawan titah Mbah Moen.
"Siapa yang berani lawan Mbah Moen? Bisa kualat nanti, enggak berani lawan kyai itu. saya enggak tahu kelompok yang berani lawan titah Mbah Moen," terang Dimyati.
Oleh karena itu, Dimyati sangat yakin jika PPP bisa berdamai. Karena, dia percaya bahwa Romi masih punya nurani, dan sebagai keturunan santri dari Jawa, Romi pasti akan menuruti nasihat Mbah Moen untuk islah. Pihaknya pun sudah membicarakan upaya ini kepada Mbah Moen.
"Pak Djan Faridz kan NU, Romi NU, tinggal disatukan. Tapi kan ada orang-orang yang memecah belah, yang membuat konflik mencari kesempatan dalam kesempitan, diantaranya Yasonna Laoly lah," tandasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PPP kubu Romi, Arsul Sani mengatakan, sejak Rapimnas PPP bulan Maret lalu pihaknya sudah membicarakan perihal islah ini. Bahkan, hal ini sudah sering dikonsolidasikan dengan kader daerah dalam Muswil.
"Kita dari sekarang siap bicara soal islah, itu pintu yang tidak pernah kita tutup," kata Juru Bicara DPP PPP kubu Romi itu saat dihubungi Koran SINDO.
Namun, menurut Arsul, persoalannya ketika islah itu, tidak boleh ada kesepakatan yang keluar dari koridor AD/ART PPP. Dan masalahnya, Djan Faridz meminta untuk menjadi Ketua Umum, dan itu menabrak AD/ART PPP karena Djan tidak pernah menjadi pengurus di DPP PPP periode sebelumnya.
"Syarat untuk menjadi ketua umum dan sekjen PPP, minimal harus pernah jadi pengurus selama satu periode penuh. Itu yang jadi problem," ujar Anggota Komisi III DPR itu.
Adapun Mbah Moen yang akan dipilih sebagai mediator islah, dia menilai hal itu bukan masalah. Pihaknya akan menerima itu, karena mereka juga menghormati Mbah Moen. Bahkan, kalau Mbah Moen mengundang pihaknya, PPP Romi bersedia memenuhi undangan itu.
"Secara formal belum bicarakan soal islah (dengan PPP Djan), tapi kalau informal sering kan biasa ketemu di DPR. Targetnya memang kita islah sebelum pendaftaran pilkada," pungkasnya.(ico)
"Islah kan bagus, ya mungkin islah karena PPP partai Islam dan cinta damai. Proses menuju islah, akan kita bahas pada rapimnas tanggal 1-2 Juni di DPP. Itu alternatif yang utama," kata Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PPP kubu Djan, Achmad Dimyati Natakusumah saat dihubungi Koran SINDO, Rabu (27/5/2015).
Dimyati berpandangan, setidaknya dengan proses konsolidasi ini, PPP bisa mencapai islah terbatas agar PPP bisa mengikuti Pilkada Serentak 2015. Namun tidak menutup kemungkinan jika PPP bisa melakukan islah secara keseluruhan, dan bersatu dalam satu kepengurusan.
"Minimalnya sih islah terbatas, maksimalnya islah paripurna, semua jangan ada yang pecah, jangan ada yang bentuk partai baru," tegas Anggota Komisi I DPR itu.
Mengenai proses hukum, menurut Dimyati, pihaknya ingin menunggu hasil putusan banding di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) sebelum melakukan islah. Tapi, itu bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, kalau proses hukum ingin terus dilanjutkan selama islah, pihaknya akan mengikuti.
Menurutnya, akan lebih baik jika proses hukum yang ada dihentikan, termasuk juga banding yang diajukan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly.
"Yasonna ini yang ingin pecah belah, orang sudah mau damai pakai banding, harusnya jangan banding Yasonna Laoly itu, biar islah dan disatukan oleh tokoh dan ulamanya," ujar Wakil Ketua BURT DPR itu.
Adapun tokoh yang akan menengahi islah PPP, Dimyati mengatakan di PPP banyak tokoh ulama dan kyai, termasuk juga Kyai Maimoen Zubair (Mbah Moen). Mbah Moen merupakan tokoh yang sangat bijaksana karena berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist. Terlebih, tidak ada yang berani melawan titah Mbah Moen.
"Siapa yang berani lawan Mbah Moen? Bisa kualat nanti, enggak berani lawan kyai itu. saya enggak tahu kelompok yang berani lawan titah Mbah Moen," terang Dimyati.
Oleh karena itu, Dimyati sangat yakin jika PPP bisa berdamai. Karena, dia percaya bahwa Romi masih punya nurani, dan sebagai keturunan santri dari Jawa, Romi pasti akan menuruti nasihat Mbah Moen untuk islah. Pihaknya pun sudah membicarakan upaya ini kepada Mbah Moen.
"Pak Djan Faridz kan NU, Romi NU, tinggal disatukan. Tapi kan ada orang-orang yang memecah belah, yang membuat konflik mencari kesempatan dalam kesempitan, diantaranya Yasonna Laoly lah," tandasnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PPP kubu Romi, Arsul Sani mengatakan, sejak Rapimnas PPP bulan Maret lalu pihaknya sudah membicarakan perihal islah ini. Bahkan, hal ini sudah sering dikonsolidasikan dengan kader daerah dalam Muswil.
"Kita dari sekarang siap bicara soal islah, itu pintu yang tidak pernah kita tutup," kata Juru Bicara DPP PPP kubu Romi itu saat dihubungi Koran SINDO.
Namun, menurut Arsul, persoalannya ketika islah itu, tidak boleh ada kesepakatan yang keluar dari koridor AD/ART PPP. Dan masalahnya, Djan Faridz meminta untuk menjadi Ketua Umum, dan itu menabrak AD/ART PPP karena Djan tidak pernah menjadi pengurus di DPP PPP periode sebelumnya.
"Syarat untuk menjadi ketua umum dan sekjen PPP, minimal harus pernah jadi pengurus selama satu periode penuh. Itu yang jadi problem," ujar Anggota Komisi III DPR itu.
Adapun Mbah Moen yang akan dipilih sebagai mediator islah, dia menilai hal itu bukan masalah. Pihaknya akan menerima itu, karena mereka juga menghormati Mbah Moen. Bahkan, kalau Mbah Moen mengundang pihaknya, PPP Romi bersedia memenuhi undangan itu.
"Secara formal belum bicarakan soal islah (dengan PPP Djan), tapi kalau informal sering kan biasa ketemu di DPR. Targetnya memang kita islah sebelum pendaftaran pilkada," pungkasnya.(ico)
(kur)