Filipina Abaikan Ancaman China

Selasa, 26 Mei 2015 - 10:40 WIB
Filipina Abaikan Ancaman...
Filipina Abaikan Ancaman China
A A A
MANILA - Angkatan Udara dan pesawat komersial Filipina menyatakan akan tetap terbang di sekitar wilayah yang disengketakan di Laut Cina Selatan. Mereka mengabaikan peringatan yang dikeluarkan China untuk menghindari wilayah yang diklaim milik China.

”Kami tetap akan terbang sesuai rute berdasarkan hukum internasional dari berbagai konvensi,” ujar Presiden Filipina Benigno Aquino ketika ditanya apakah Filipina menerima klaim China atas wilayah Laut China Selatan, dikutip AFP kemarin . Sebelumnya militer China mengusir pesawat pengintai Amerika Serikat (AS) P-8 Poseidon yang terbang diatas pulau-pulau Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan.

KementerianLuarNegeri Chinabersikeras menyatakan wilayah itu masuk kedaulatan perairan mereka, begitu juga wilayah udara yangberada diataspulautersebut. Menurut China, pesawat pengintai AS, P-8 Poseidon yang terbang di atas Laut China Selatan melakukan tindakan berisiko. ”Tindakan AS menimbulkan ancaman terhadap keamanan maritim China dan mungkin akan menyebabkan insiden yang tidak diinginkan. Itu sangat tidak bertanggung jawab dan berbahaya,” kata Hong Lei, dikutip AFP.

China mendesak AS untuk tidak mengambil tindakan provokatif. China mengklaim hampir semua Laut China Selatan, termasuk perairan dekat pantai Filipina dan tetangga negara Asia lainnya. Klaim tersebut memicu tindakan agresif negara lain untuk ikut mengklaim wilayah di Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Klaim China ditandai dengan reklamasi pulau di Spratly yang terletak antara Vietnam dan Filipina. Reklamasi ini mengubah terumbu karang menjadi pulau yang dapat digunakan sebagai landasan dan fasilitas militer. Spratly merupakan daratan terdekat China dan salah satu kepulauan terbesar dan paling strategis di Laut China Selatan.

Aquino secara tegas mengatakan, Filipina tidak akan menyerahkan wilayahnya ke China meski mengakui perbedaan kemampuan militer mereka dengan China. ”Kami masih akan menggunakan hak atas zona ekonomi eksklusif kami. Intinya semua harus jelas. Kami akan mempertahankan hak kami dan memberikan yang terbaik dari kemampuan kami,” katanya.

Ananda nararya
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Ubedilah Badrun: Kritik...
Ubedilah Badrun: Kritik Rocky Gerung pada Tiyo Ardianto Itu Keliru
Operasional Haji 2026...
Operasional Haji 2026 Selesai, Menhaj: Seluruh Jemaah Sudah Kembali ke Tanah Air
Imparsial Minta Polisi...
Imparsial Minta Polisi dan Komnas HAM Ikut Usut Kematian 5 Calon Manajer Kopdes
1 Polisi Gugur dan 2...
1 Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Residivis Narkoba, Bareskrim Buru Bandar
Brigjen Pol LMI Jadi...
Brigjen Pol LMI Jadi Tersangka Korupsi MBG, Pengamat Apresiasi Sikap Tegas Polri
Mendorong Kebijakan...
Mendorong Kebijakan Energi Berkelanjutan Demi Lingkungan dan Kesejahteraan
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved