Sistem Proporsional Tertutup dalam Pemilu Dinilai Langkah Mundur Demokrasi
Sabtu, 31 Desember 2022 - 13:54 WIB
loading...
A
A
A
"Cukup hanya tokoh utama partai yang berkampanye keliling. Partai menang, caleg nomor urut 1 terpilih. Kasihan caleg nomor 2 yang kerja keras mungkin tidak terpilih. Sementara nomor urut 3 dan seterusnya cuma pelengkap, hampir tidak ada harapan terpilih," kata Henry yang saat ini fokus melakukan aksi sosial di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Memang ada kritikan sistem proporsional terbuka menyebabkan biaya politik tinggi, karena persaingan antarcalon di dalam partai. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan politik uang. Padahal politik uang tidak berasal dari sistem pemilu, tapi justru pada budaya politik masyarakat dan elite itu sendiri.
"Kalau soal politik biaya tinggi, itu relatif, tergantung orangnya dan daerahnya, serta campaign financing system. Apalagi, sekarang bisa menggunakan medsos secara gratis," katanya.
Menurutnya, sistem proporsional terbuka menghasilkan anggota Parlemen dengan akuntabilitas kuat kepada rakyat. Seorang petahana pun tidak ada jaminan terpilih kembali meski nomor urut 1. Lolos tidaknya tergantung bagaimana penilaian rakyat terhadap kinerjanya sebagai wakil rakyat.
Hal berbeda terjadi jika menggunakan sistem proporsional tertutup. Seseorang bisa terpilih kembali meski kinerjanya sebagai wakil rakyat tidak jelas. Selama dekat dengan pimpinan partai, maka bisa terus dapat nomor urut 1, dan kemungkinan besar terpilih kembali.
Memang ada kritikan sistem proporsional terbuka menyebabkan biaya politik tinggi, karena persaingan antarcalon di dalam partai. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan politik uang. Padahal politik uang tidak berasal dari sistem pemilu, tapi justru pada budaya politik masyarakat dan elite itu sendiri.
"Kalau soal politik biaya tinggi, itu relatif, tergantung orangnya dan daerahnya, serta campaign financing system. Apalagi, sekarang bisa menggunakan medsos secara gratis," katanya.
Menurutnya, sistem proporsional terbuka menghasilkan anggota Parlemen dengan akuntabilitas kuat kepada rakyat. Seorang petahana pun tidak ada jaminan terpilih kembali meski nomor urut 1. Lolos tidaknya tergantung bagaimana penilaian rakyat terhadap kinerjanya sebagai wakil rakyat.
Hal berbeda terjadi jika menggunakan sistem proporsional tertutup. Seseorang bisa terpilih kembali meski kinerjanya sebagai wakil rakyat tidak jelas. Selama dekat dengan pimpinan partai, maka bisa terus dapat nomor urut 1, dan kemungkinan besar terpilih kembali.
Lihat Juga :