BMKG Ungkap 4 Pemicu Potensi Cuaca Ekstrem saat Nataru
Rabu, 21 Desember 2022 - 00:19 WIB
loading...
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut ada empat pemicu potensi cuaca ekstrem saat libur Natal dan Tahun Barua (Nataru). Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) memprediksi adanya potensi cuaca ekstrem yang bertepatan dengan libur mudik Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru) sampai dengan arus balik nanti. Dari hasil pantauan, terdapat empat fenomena yang menjadi pemicu cuaca ekstrem ini.
“Jadi biasanya satu persatu ya, tapi ini ada empat fenomena yang terjadi secara bersamaan. Mengakibatkan kondisi dinamika atmosfer ini memicu peningkatan curah hujan hingga lebat bahkan dikhawatirkan dapat mencapai ekstrem,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers BMKG secara daring, Selasa (20/12/2022) malam.
Dwikorita menguraikan, fenomena tersebut yakni pertama peningkatan aktivitas Monsun Asia yang memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
Baca juga: BMKG: Ada Potensi Cuaca Ekstrem saat Libur Nataru
Kedua, intensifikasi atau semakin intensifnya fenomena seruak dingin Asia yang dapat meningkatkan kecepatan angin permukaan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan “Serta meningkatkan pembentukan awan-awan hujan menjadi lebih intensif di sekitar Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara,” sambungnya.
“Jadi biasanya satu persatu ya, tapi ini ada empat fenomena yang terjadi secara bersamaan. Mengakibatkan kondisi dinamika atmosfer ini memicu peningkatan curah hujan hingga lebat bahkan dikhawatirkan dapat mencapai ekstrem,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers BMKG secara daring, Selasa (20/12/2022) malam.
Dwikorita menguraikan, fenomena tersebut yakni pertama peningkatan aktivitas Monsun Asia yang memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan selatan.
Baca juga: BMKG: Ada Potensi Cuaca Ekstrem saat Libur Nataru
Kedua, intensifikasi atau semakin intensifnya fenomena seruak dingin Asia yang dapat meningkatkan kecepatan angin permukaan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan “Serta meningkatkan pembentukan awan-awan hujan menjadi lebih intensif di sekitar Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara,” sambungnya.
Lihat Juga :