Ironis, Data Pekerja Migran di BP2MI, Kemlu, dan Kemenaker Berbeda

Kamis, 09 Juli 2020 - 22:35 WIB
loading...
A A A
"Mereka diberikan kewenangan oleh negara untuk mengurus PMI, tapi mereka justru terlibat dalam kejahatan yang disebut pengiriman ilegal ke negara-negara penerima. Maka BP2MI menyatakan perang terhadap sindikasi pengiriman PMI ilegal karena ini merupakan kejahatan luar biasa, bisnis kotor yang seolah-olah bendera negara lebih rendah daripada bendera-bendera perusahaan," katanya.

Menurutnya, inilah saatnya negara hadir untuk memberantas praktik jahat sindikasi pengiriman PMI ilegal. "Saatnya negara harus hadir, hukum harus bekerja, dan posisi Bendera Merah Putih harus dikembalikan di atas lebih tinggi posisinya dari bendera-bendera perusahaan," katanya.(Baca juga: TKW Ety Bebas dari Hukuman Mati, Ini Kata Ridwan Kamil )

Dikatakan Benny, tantangan ke depan adalah bagaimana negara melindungi PMI sementara ada 5,3 juta PMI yang tidak ada dalam deteksi sistem BP2MI. Nama, daerah asal, dan di negara mana mereka bekerja tidak diketahui oleh negara. Karena itu, diperlukan modernisasi sistem yang terintegrasi dalam satu Big Single Data PMI. "Kalau ada sistem yang menghasilkan big single data maka otomatis negara bisa mengetahui warganya yang harus dilindungi," tuturnya.

Benny menargetkan big single data ini akan tercapai dalam enam bulan ke depan. Pihaknya juga bekerja sama dengan kerja sama dengan kementerian dan lembaga lain, baik Kemlu, Kemenaker, dan lainnya untuk kepentingan ini. "Modernisasi sistem telah disetujui Pak Presiden," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
SOKSI dan P2MI Teken...
SOKSI dan P2MI Teken MoU Dorong Pekerja Migran Terampil
ART asal Indonesia Dianiaya...
ART asal Indonesia Dianiaya di Malaysia, DPR Minta Kemlu Lobi agar Pelaku Dihukum Berat
Ratifikasi Konvensi...
Ratifikasi Konvensi ILO 188, Perlindungan Pekerja Laut Perlu Diperkuat
Prihatin Kapal TKI Ilegal...
Prihatin Kapal TKI Ilegal Tenggelam di Malaysia, DPR: Ada Indikasi Kuat Pelanggaran HAM
KBRI Kuala Lumpur Pulangkan...
KBRI Kuala Lumpur Pulangkan 3.570 WNI dari Malaysia
Kolaborasi UICI-KP2MI...
Kolaborasi UICI-KP2MI Tingkatkan Kualitas SDM Pekerja Migran
Kisah Deni Maulana,...
Kisah Deni Maulana, Anak PMI Yordania yang Sukses Jadi Mahasiswa Berprestasi UGM
KBRI Kuala Lumpur Pulangkan...
KBRI Kuala Lumpur Pulangkan 217 PMI dari Depot Imigrasi ke Tanah Air
Lindungi Hak PMI, May...
Lindungi Hak PMI, May God-Taiwan Teken MoU dengan Anak Usaha BPJS Ketenagakerjaan
Rekomendasi
Kemnaker Wajibkan Perusahaan...
Kemnaker Wajibkan Perusahaan Mitra MagangHub 2026 Terdaftar di WLKP
Pendaftaran Akun KIP...
Pendaftaran Akun KIP Kuliah 2026 Masih Dibuka hingga 31 Oktober, Simak Caranya
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Berita Terkini
Sekolah Garuda, Asa...
Sekolah Garuda, Asa bagi Anak Cerdas Kurang Mampu Raih Masa Depan
Bupati Sukoharjo Etik...
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Ditangkap KPK, PDIP Dukung Proses Hukum Berkeadilan
Prabowo: Banyak yang...
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling
Prabowo Minta Aparat...
Prabowo Minta Aparat Introspeksi Diri: Rakyat Tak Ingin Korupsi Dibiarkan!
Senapan Tentara Arab...
Senapan Tentara Arab Saudi Bakal Diproduksi PT Pindad, Prabowo: Senjata Kita Teruji
Polri Harus Bongkar...
Polri Harus Bongkar Aktor Intelektual dan Korporasi Dugaan Korupsi Batu Bara
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved