Bangun Budaya Sadar Bencana Sejak Dini
Sabtu, 26 November 2022 - 14:14 WIB
loading...
A
A
A
Saat gempa terjadi, risiko besar mengintai anak-anak terutama saat berada di dalam kelas. Data menunjukkan banyak sekali bangunan sekolah yang berada di daerah bencana. Dilansir bukuPendidikan Tangguh Bencana(Kemendikbud, 2019), sejumlah satuan pendidikan dasar dan menengah berada di wilayah risiko bencana sedang dan tinggi.
Sebanyak 52.902 sekolah (24,05%) berada di wilayah rawan gempa, 2.417 sekolah (1,10%) berada di wilayah rawan tsunami, 1.685 sekolah (0,77%) berada di wilayah rawan letusan gunung api, 54.080 sekolah (24,59%) berada di wilayah rawan banjir, 15.597 sekolah (7,09%) berada di wilayah rawan longsor.
Melihat data di atas, maka tidak ada pilihan lain selain membekali anak-anak pengetahuan tentang kebencanaan. Pemahaman yang diberikan sejak dini akan menjadi bekal bagi mereka saat tumbuh dewasa sehingga menjadikan dirinya pribadi yang tanggap dan antisipatif.
Umum terjadi, isu tentang pentingnya pendidikan kebencanaan mengemuka tatkala bencana besar terjadi. Namun, setelah itu, isu kerap meredup lalu tidak lagi menjadi perbincangan utama. Sejak lama muncul usulan agar pendidikan mitigasi bencana dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, namun faktanya itu belum menjadi kenyataan.
Sebenarnya upaya sudah dilakukan pemerintah denganmenerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Pemendikbud) Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggraaan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Melalui SPAB berbagai petunjuk teknis diberikan untuk menumbuhkan sikap dan keterampilan mengelola bencana baik pada fase sebelum, pada saat terjadi, dan pascabencana.
Sebanyak 52.902 sekolah (24,05%) berada di wilayah rawan gempa, 2.417 sekolah (1,10%) berada di wilayah rawan tsunami, 1.685 sekolah (0,77%) berada di wilayah rawan letusan gunung api, 54.080 sekolah (24,59%) berada di wilayah rawan banjir, 15.597 sekolah (7,09%) berada di wilayah rawan longsor.
Melihat data di atas, maka tidak ada pilihan lain selain membekali anak-anak pengetahuan tentang kebencanaan. Pemahaman yang diberikan sejak dini akan menjadi bekal bagi mereka saat tumbuh dewasa sehingga menjadikan dirinya pribadi yang tanggap dan antisipatif.
Umum terjadi, isu tentang pentingnya pendidikan kebencanaan mengemuka tatkala bencana besar terjadi. Namun, setelah itu, isu kerap meredup lalu tidak lagi menjadi perbincangan utama. Sejak lama muncul usulan agar pendidikan mitigasi bencana dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, namun faktanya itu belum menjadi kenyataan.
Sebenarnya upaya sudah dilakukan pemerintah denganmenerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Pemendikbud) Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggraaan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Melalui SPAB berbagai petunjuk teknis diberikan untuk menumbuhkan sikap dan keterampilan mengelola bencana baik pada fase sebelum, pada saat terjadi, dan pascabencana.
Lihat Juga :