Hari Santri, Kesenjangan dan Kerentanan Sosial di Pesantren Jadi Sorotan
Selasa, 25 Oktober 2022 - 13:11 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hari Santri, Kemenag Berikan Akses Pendidikan Terbaik kepada Para Santri
Tantangan kaum santri saat ini menurut Sa'dullah, tentu tidaklah sama dengan era sebelumnya. Kesenjangan politik nyaris tidak lagi terjadi di era keterbukaan ini.
Dikatakan dia, setiap orang bebas untuk menyampaikan aspirasi politik dan pendapatnya masing-masing selama tidak mengganggu ketertiban umum atau bertentangan dengan peraturan yang ada.
"Meski demikian, kesenjangan ekonomi dan kerentanan sosial masih kita saksikan bersama, di mana jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin semakin menganga. Inilah salah satu tantangan kaum pesantren, dan pesantren, dewasa ini," jelasnya.
"Bagaimana memberdayakan kaum santri secara ekonomi, bukan hanya mandiri untuk dirinya sendiri, namun juga mampu menjadi penggerak bagi lingkungannya," tambahnya.
Menurut Sa'dullah, kaum santri (pesantren) dewasa ini, harus mulai bergerak kembali dengan paradigma ekonomi kerakyatan sebagaimana dicita-citakan para founding father seperti Muhammad Hatta maupun KH Wahab Chasbullah yang menggagas Nahdlatul Tujjar.
"Sebuah wadah persatuan bagi para saudagar muslim dan ulama karena tergugah dengan kondisi kemiskinan rakyat akibat kolonialisme Belanda lebih dari satu abad yang lalu (1918)," ungkapnya.
Tantangan kaum santri saat ini menurut Sa'dullah, tentu tidaklah sama dengan era sebelumnya. Kesenjangan politik nyaris tidak lagi terjadi di era keterbukaan ini.
Dikatakan dia, setiap orang bebas untuk menyampaikan aspirasi politik dan pendapatnya masing-masing selama tidak mengganggu ketertiban umum atau bertentangan dengan peraturan yang ada.
"Meski demikian, kesenjangan ekonomi dan kerentanan sosial masih kita saksikan bersama, di mana jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin semakin menganga. Inilah salah satu tantangan kaum pesantren, dan pesantren, dewasa ini," jelasnya.
"Bagaimana memberdayakan kaum santri secara ekonomi, bukan hanya mandiri untuk dirinya sendiri, namun juga mampu menjadi penggerak bagi lingkungannya," tambahnya.
Menurut Sa'dullah, kaum santri (pesantren) dewasa ini, harus mulai bergerak kembali dengan paradigma ekonomi kerakyatan sebagaimana dicita-citakan para founding father seperti Muhammad Hatta maupun KH Wahab Chasbullah yang menggagas Nahdlatul Tujjar.
"Sebuah wadah persatuan bagi para saudagar muslim dan ulama karena tergugah dengan kondisi kemiskinan rakyat akibat kolonialisme Belanda lebih dari satu abad yang lalu (1918)," ungkapnya.
Lihat Juga :