Mengenal Sosok Bagindo Aziz Chan, Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat
Jum'at, 21 Oktober 2022 - 17:12 WIB
loading...
A
A
A
Bagindo Aziz Chan memutuskan kembali ke Padang pada 1935. Ia kemudian mengabdi sebagai guru di Padang dan beberapa kota lain sambil aktif di organisasi perjuangan kemerdekaan.
Baca juga: Sering Jadi Nama Jalan, Berikut Sepak Terjang Jenderal TNI Gatot Subroto
Sikap pemberani dan pantang mundur, ia tunjukkan ketika tentara Sekutu yang diboncengi Belanda kembali setelah Indonesia merdeka. Bagindo Aziz Chan saat itu menjadi pemimpin melawan Belanda. Ia juga menerbitkan surat kabar perjuangan, Republik Indonesia Jaya. Perlawanan semakin memanas dan mencengkam sampai bulan-bulan berikutnya, hingga akhirnya Aziz Chan memutuskan menerima jabatan sebagai Wali Kota Padang pada 1946.
Buya Hamka menceritakan tentang pemilihan Bagindo Aziz Chan menjadi Wali Kota Padang.
"Setelah Pemerintah Belanda meluaskan kekuasaan di Kota Padang dan sekitarnya, TRI mundur ke daerah "darat" (pedalaman). Namun tempat-tempat penting masih dalam kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Ketika dipertimbangkan siapa yang akan diangkat menjadi Wali Kota Padang, sebab markas tentara dan Pemerintah Republik telah dipindahkan ke Bukittinggi, seorang pun tidak ada yang berani. Akhirnya jatuhlah pilihan kepada Bagindo Aziz Chan. Jabatan penting yang berbahaya ini, diterima beliau dengan ucapan Bismillah," kata Buya dikutip dari makalah berjudul Tegarlah Indonesia, Mengenang Seratus Tahun Aziz Chan (1910-2010) karya Mertika Zed, Jumat (21/10/2022).
Tujuan Bagindo Aziz Chan menerima menjabat Wali Kota Padang adalah untuk berdiskusi dengan pihak Sekutu terkait keamanan kota. Awalnya pihak Sekutu setuju dengan perjanjian tersebut, tetapi dalam praktiknya, tentara Sekutu, terutama Belanda, seringkali melanggar kesepakatan tersebut. Kerap kali terdengar letusan senapan, dentuman mortir, bahkan ledakan granat di beberapa titik Kota Padang. Tak hanya itu, orang-orang yang dicurigai sebagai ekstremis pun ditangkap oleh tentara Belanda.
Pada 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatan dengan malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya Sekutu dan melakukan penggeledahan dan penangkapan di rumah-rumah.
Baca juga: Sering Jadi Nama Jalan, Berikut Sepak Terjang Jenderal TNI Gatot Subroto
Sikap pemberani dan pantang mundur, ia tunjukkan ketika tentara Sekutu yang diboncengi Belanda kembali setelah Indonesia merdeka. Bagindo Aziz Chan saat itu menjadi pemimpin melawan Belanda. Ia juga menerbitkan surat kabar perjuangan, Republik Indonesia Jaya. Perlawanan semakin memanas dan mencengkam sampai bulan-bulan berikutnya, hingga akhirnya Aziz Chan memutuskan menerima jabatan sebagai Wali Kota Padang pada 1946.
Buya Hamka menceritakan tentang pemilihan Bagindo Aziz Chan menjadi Wali Kota Padang.
"Setelah Pemerintah Belanda meluaskan kekuasaan di Kota Padang dan sekitarnya, TRI mundur ke daerah "darat" (pedalaman). Namun tempat-tempat penting masih dalam kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Ketika dipertimbangkan siapa yang akan diangkat menjadi Wali Kota Padang, sebab markas tentara dan Pemerintah Republik telah dipindahkan ke Bukittinggi, seorang pun tidak ada yang berani. Akhirnya jatuhlah pilihan kepada Bagindo Aziz Chan. Jabatan penting yang berbahaya ini, diterima beliau dengan ucapan Bismillah," kata Buya dikutip dari makalah berjudul Tegarlah Indonesia, Mengenang Seratus Tahun Aziz Chan (1910-2010) karya Mertika Zed, Jumat (21/10/2022).
Tujuan Bagindo Aziz Chan menerima menjabat Wali Kota Padang adalah untuk berdiskusi dengan pihak Sekutu terkait keamanan kota. Awalnya pihak Sekutu setuju dengan perjanjian tersebut, tetapi dalam praktiknya, tentara Sekutu, terutama Belanda, seringkali melanggar kesepakatan tersebut. Kerap kali terdengar letusan senapan, dentuman mortir, bahkan ledakan granat di beberapa titik Kota Padang. Tak hanya itu, orang-orang yang dicurigai sebagai ekstremis pun ditangkap oleh tentara Belanda.
Pada 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatan dengan malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya Sekutu dan melakukan penggeledahan dan penangkapan di rumah-rumah.
Lihat Juga :