Kemenkes Gandeng PT Biofarma dan BPOM Atasi Kelangkaan Vaksin Meningitis
Kamis, 20 Oktober 2022 - 20:46 WIB
loading...
A
A
A
Noer Alya Fitra menerangkan aturan vaksin ini masih tertuang dalam kebijakan Kemenkes Arab Saudi untuk Haji dan Umrah 1443 hijriah. Dalam beleid itu dinyatakan jamaah harus sudah divaksin selambat-lambatnya 10 hari sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Beberapa waktu lalu, Dia mengatakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah melakukan komunikasi dengan Kementerian Haji Arab Saudi mengenai adanya informasi bahwa vaksin MM sudah tidak menjadi syarat wajib untuk jamaah umrah.
“Memang dijawab oleh pejabat di kementerian haji (Arab Saudi) bahwa itu (sekarang) disarankan. Artinya, lebih afdol disuntik (vaksin MM). Tapi, kami belum mendapatkan keterangan resmi dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi yang punya regulasi itu. Dan, memang kondisi di lapangan ketika orang sampai di Bandara Arab Saudi pengecekan vaksin meningitis tidak dilakukan per jamaah,” ucapnya.
Pihak berwenang di bandara tempat kedatangan di Arab Saudi melakukan pengecekan dengan model sampling atau acak. Mereka hanya melihat beberapa jamaah saja, apakah sudah memiliki buku kuning atau sertifikat vaksinasi internasional atau tidak. Meskipun Pemerintah Arab Saudi sudah melonggarkan aturan, namun Kemenkes Indonesia masih mensyaratkan vaksin MM. Kemenag dan asosiasi telah mengajukan permintaan agar ada toleransi untuk tidak menjadikan vaksin MM sebagai syarat wajib, terutama ketika terjadi kelangkaan pasokan seperti sekarang.
Menurut Noer Alya, penyelenggaraan umrah berbeda dengan haji yang memiliki kuota dan waktu tertentu. Lantaran seperti perjalanan wisata, maka Kemenag tidak bisa membatasi masyarakat yang ingin menjalankannya. Umrah ini diselenggarakan oleh biro perjalanan yang sudah diizinkan Kemenag.
Saat ini, yang dilakukan PPIU adalah mempersiapkan calon jamaah dengan sebaik mungkin. Mereka hanya akan memberangkatkan calon jamaah yang sudah divaksin. “Jika ada yang belum divaksin, tapi waktu keberangkatan sudah mepet, keberangkatan calon jamaah tersebut akan dijadwal ulang,” terangnya.
Noer Alya mengakui meskipun Kemenkes menyatakan telah menyiapkan vaksin sebanyak 250.000 pada Oktober ini, namun beberapa daerah diketahui masih melaporkan adanya langka stok. Untuk di luar Jawa, menurutnya, tidak bermasalah karena permintaan vaksinnya tidak terlalu banyak. Beberapa daerah di luar Jawa yang permintaannya tinggi adalah Sulawesi Selatan, Medan, dan Kalimantan Selatan.
Beberapa waktu lalu, Dia mengatakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah melakukan komunikasi dengan Kementerian Haji Arab Saudi mengenai adanya informasi bahwa vaksin MM sudah tidak menjadi syarat wajib untuk jamaah umrah.
“Memang dijawab oleh pejabat di kementerian haji (Arab Saudi) bahwa itu (sekarang) disarankan. Artinya, lebih afdol disuntik (vaksin MM). Tapi, kami belum mendapatkan keterangan resmi dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi yang punya regulasi itu. Dan, memang kondisi di lapangan ketika orang sampai di Bandara Arab Saudi pengecekan vaksin meningitis tidak dilakukan per jamaah,” ucapnya.
Pihak berwenang di bandara tempat kedatangan di Arab Saudi melakukan pengecekan dengan model sampling atau acak. Mereka hanya melihat beberapa jamaah saja, apakah sudah memiliki buku kuning atau sertifikat vaksinasi internasional atau tidak. Meskipun Pemerintah Arab Saudi sudah melonggarkan aturan, namun Kemenkes Indonesia masih mensyaratkan vaksin MM. Kemenag dan asosiasi telah mengajukan permintaan agar ada toleransi untuk tidak menjadikan vaksin MM sebagai syarat wajib, terutama ketika terjadi kelangkaan pasokan seperti sekarang.
Menurut Noer Alya, penyelenggaraan umrah berbeda dengan haji yang memiliki kuota dan waktu tertentu. Lantaran seperti perjalanan wisata, maka Kemenag tidak bisa membatasi masyarakat yang ingin menjalankannya. Umrah ini diselenggarakan oleh biro perjalanan yang sudah diizinkan Kemenag.
Saat ini, yang dilakukan PPIU adalah mempersiapkan calon jamaah dengan sebaik mungkin. Mereka hanya akan memberangkatkan calon jamaah yang sudah divaksin. “Jika ada yang belum divaksin, tapi waktu keberangkatan sudah mepet, keberangkatan calon jamaah tersebut akan dijadwal ulang,” terangnya.
Noer Alya mengakui meskipun Kemenkes menyatakan telah menyiapkan vaksin sebanyak 250.000 pada Oktober ini, namun beberapa daerah diketahui masih melaporkan adanya langka stok. Untuk di luar Jawa, menurutnya, tidak bermasalah karena permintaan vaksinnya tidak terlalu banyak. Beberapa daerah di luar Jawa yang permintaannya tinggi adalah Sulawesi Selatan, Medan, dan Kalimantan Selatan.
Lihat Juga :