Hadapi Perang Modern, Satuan Kavaleri Butuh Modernisasi Senjata, SDM, dan Organisasi
Rabu, 12 Oktober 2022 - 21:36 WIB
loading...
A
A
A
“Yang tidak relevan itu kalau masih ada yang bicara soal ego sektoral karena tema perang modern adalah kolaborasi, join forces dan combined arms, semua kesatuan saling melengkapi dan menutup kekurangan yang lain,” katanya.
Iftitah menambahkan, tantangan satuan kavaleri justru ada di ciri khasnya yaitu teknologi. Dengan bisa beradaptasi dengan teknologilah, satuan kavaleri itu tetap relevan. Memang ada lebih dari 2.400 tank Rusia yang dihancurkan di Ukraina. Akan tetapi, untuk menduduki sebuah wilayah yang dibutuhkan adalah satuan darat, seperti kavaleri.
Iftitah mengusulkan, Satuan Kavaleri mengembangkan ilmu yang ada di Perintah Jenis Tugas. “Kita juga belajar dari masa lalu kalau kehadiran teknologi sifatnya melengkapi, bukan menggantikan. Adanya tank tidak lantas menggantikan kuda yang masih terus dipakai di jalan-jalan sempit dan tertutup,” kata Iftitah yang pernah bertugas di Korps Kavaleri.
Iftitah mengaku, saat dirinya melakukan operasi lawan gerilya di Aceh pada 2003, satuan kavaleri sangat efektif. Apalagi ketika di masa awal operasi militer, perekonomian lumpuh. Dengan kavaleri, jalur-jalur perbekalan umum bisa dijaga, demikian juga pergeseran manusia dan barang.
Namun, Iftitah menggarisbawahi perlunya pengembangan tank di industri pertahanan dalam negeri. “Dulu waktu di Aceh, tank Scorpion yang datang 28 yang operasional cuma 2. Kemudian diganti panser dari Pindad, dari 16 cuma 2 rusak ringan itu pun bisa diperbaiki,” katanya.
Iftitah menambahkan, tantangan satuan kavaleri justru ada di ciri khasnya yaitu teknologi. Dengan bisa beradaptasi dengan teknologilah, satuan kavaleri itu tetap relevan. Memang ada lebih dari 2.400 tank Rusia yang dihancurkan di Ukraina. Akan tetapi, untuk menduduki sebuah wilayah yang dibutuhkan adalah satuan darat, seperti kavaleri.
Iftitah mengusulkan, Satuan Kavaleri mengembangkan ilmu yang ada di Perintah Jenis Tugas. “Kita juga belajar dari masa lalu kalau kehadiran teknologi sifatnya melengkapi, bukan menggantikan. Adanya tank tidak lantas menggantikan kuda yang masih terus dipakai di jalan-jalan sempit dan tertutup,” kata Iftitah yang pernah bertugas di Korps Kavaleri.
Iftitah mengaku, saat dirinya melakukan operasi lawan gerilya di Aceh pada 2003, satuan kavaleri sangat efektif. Apalagi ketika di masa awal operasi militer, perekonomian lumpuh. Dengan kavaleri, jalur-jalur perbekalan umum bisa dijaga, demikian juga pergeseran manusia dan barang.
Namun, Iftitah menggarisbawahi perlunya pengembangan tank di industri pertahanan dalam negeri. “Dulu waktu di Aceh, tank Scorpion yang datang 28 yang operasional cuma 2. Kemudian diganti panser dari Pindad, dari 16 cuma 2 rusak ringan itu pun bisa diperbaiki,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :