Profil Sariamin Ismail, Novelis Perempuan Pertama Indonesia yang Punya Banyak Nama Samaran
Senin, 26 September 2022 - 14:36 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, dirinya juga cukup aktif sebagai Ketua Serikat Kaum Ibu Sumatera Cabang Padangpanjang, pengurus PNS (Pengawas Daerah Karesidenan Sumbar), serta pengurus Meisyekring.
Pada tahun 1939, Sariamin Ismail pindah ke Aceh sebelum akhirnya menetap di Kuantan pada 1941. Dalam kurun waktu tersebut, dia mengisi waktunya sebagai guru. Disela-sela kesibukannya, dia juga sering mengadakan pertunjukan sandiwara bertendens di Kuantan, Pekanbaru, hingga Tanjung Pinang.
Setelah bekerja sekitar 34 tahun, pada 1968 Sariamin pensiun dan berencana untuk menikmati masa pensiunnya.
Beralih ke kehidupannya sebagai novelis, Sariamin Ismail menerbitkan karya pertamanya berupa novel yang berjudul Kalau Tak Untung pada tahun 1933. Perilisan novel ini menjadikannya sebagai novelis perempuan pertama di Indonesia.
Setelah novel ini sukses mengangkat namanya, pada 1937 dia menerbitkan kembali sebuah novel berjudul Pengaruh Keadaan. Sebagai seorang pengarang, Sariamin diketahui pernah mengalami masa ‘mandul’ atau dalam artian tidak membuat karya, yakni dari kurun tahun 1942 hingga dengan 1970.
Baca juga : Menilik 5 Festival Besar Sastra, Anak Sastra Wajib Tahu
Pada tahun 1939, Sariamin Ismail pindah ke Aceh sebelum akhirnya menetap di Kuantan pada 1941. Dalam kurun waktu tersebut, dia mengisi waktunya sebagai guru. Disela-sela kesibukannya, dia juga sering mengadakan pertunjukan sandiwara bertendens di Kuantan, Pekanbaru, hingga Tanjung Pinang.
Setelah bekerja sekitar 34 tahun, pada 1968 Sariamin pensiun dan berencana untuk menikmati masa pensiunnya.
Beralih ke kehidupannya sebagai novelis, Sariamin Ismail menerbitkan karya pertamanya berupa novel yang berjudul Kalau Tak Untung pada tahun 1933. Perilisan novel ini menjadikannya sebagai novelis perempuan pertama di Indonesia.
Setelah novel ini sukses mengangkat namanya, pada 1937 dia menerbitkan kembali sebuah novel berjudul Pengaruh Keadaan. Sebagai seorang pengarang, Sariamin diketahui pernah mengalami masa ‘mandul’ atau dalam artian tidak membuat karya, yakni dari kurun tahun 1942 hingga dengan 1970.
Baca juga : Menilik 5 Festival Besar Sastra, Anak Sastra Wajib Tahu
Lihat Juga :