Konflik Berpotensi Jadi Pemicu Aksi Terorisme
Jum'at, 09 September 2022 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
"Konsep moderasi beragama secara definitif, harus kita gelorakan kepada masyarakat, bahwa dengan beragama seharusnya kita menjauh dari kebencian, caci-maki dan perpecahan. Secara utuh diperlukan satu sikap resistensi dan ketegasan dari masyarakat secara bersama menolak ajaran dan kehadiran kelompok radikal tersebut," tuturnya.
Islah juga menyinggung regulasi pemerintah yang hanya mengatur hingga preventive strike. Aturan itu memang sudah mencukupi untuk melakukan penindakan secara hukum kepada kelompok radikal, tetapi ia memandang perlu mengatur preemptive strike.
"Sebenarnya undang-undang (UU) kita sudah mencukupi untuk melakukan penindakan secara hukum. Tetapi aturan dan perundangan yang menyentuh preemptive strike ini belum punya. Pelarangan terhadap aliran atau ajaran masih sebatas materil, misalnya seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) hanya dibubarkan organisasinya, tapi ajarannya tidak dapat kita bendung," kata Islah.
Terkait hal tersebut, Jaringan Moderat Indonesia memiliki cara tersendiri guna menggelorakan semangat toleransi dan moderasi melalui gerakan perlawananan melalui jalur digital dan media sosial. Hal ini dikarenakan infiltrasi dan indoktrinasi bergerak secara senyap, tanpa batas, serta konten di dunia digital saat ini, lebih efektif menyentuh kalangan generasi muda.
"Ini yang harus kita lakukan bersama. Jangan berpangku tangan, kita harus secara massal melakukan ini supaya kelompok radikal ini teralienasi dari konten digital yang selama ini sudah ada," kata Islah.
Islah juga menyinggung regulasi pemerintah yang hanya mengatur hingga preventive strike. Aturan itu memang sudah mencukupi untuk melakukan penindakan secara hukum kepada kelompok radikal, tetapi ia memandang perlu mengatur preemptive strike.
"Sebenarnya undang-undang (UU) kita sudah mencukupi untuk melakukan penindakan secara hukum. Tetapi aturan dan perundangan yang menyentuh preemptive strike ini belum punya. Pelarangan terhadap aliran atau ajaran masih sebatas materil, misalnya seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) hanya dibubarkan organisasinya, tapi ajarannya tidak dapat kita bendung," kata Islah.
Terkait hal tersebut, Jaringan Moderat Indonesia memiliki cara tersendiri guna menggelorakan semangat toleransi dan moderasi melalui gerakan perlawananan melalui jalur digital dan media sosial. Hal ini dikarenakan infiltrasi dan indoktrinasi bergerak secara senyap, tanpa batas, serta konten di dunia digital saat ini, lebih efektif menyentuh kalangan generasi muda.
"Ini yang harus kita lakukan bersama. Jangan berpangku tangan, kita harus secara massal melakukan ini supaya kelompok radikal ini teralienasi dari konten digital yang selama ini sudah ada," kata Islah.
(abd)
Lihat Juga :