Perbedaan Pendapat Harus Dihargai, Bukan Lantas Dianggap Lawan

Rabu, 01 Juli 2020 - 14:05 WIB
loading...
Perbedaan Pendapat Harus...
KH Muflich Chalif Ibrahim. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Gejala radikalisasi yang menyasar generasi muda atau milenial seringkali disebabkan oleh pemahaman yang dangkal terhadap ajaran agama.

Karena itu, penanaman dan pengembangan Islam wasathiyah di kalangan generasi muda menjadi sangat penting agar mereka memiliki cara pandang yang luas tentang agama.

Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) dari Syarikat Islam Indonesia, KH Muflich Chalif Ibrahim mengakui menerapkan moderasi beragama sangat diperlukan, apalagi bagi generasi muda.

Hal itu dikatakannya sebagai upaya untuk mengajarkan agama. Bukan hanya untuk membentuk individu yang saleh secara personal, tetapi juga mampu menjadikan agamanya sebagai instrumen untuk menghargai umat agama lain.

“Yang pas memang ya moderasi beragama dengan menerapkan wasathiyah itu karena artinya kita dapat menerima perbedaan yang ada. Tapi tetap masalah utama seperti yang juga pernah saya sampaikan di kantor Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) beberapa pekan lalu seperti masalah kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan ini juga harus diselesaikan,” ujar KH Muflich di Jakarta, Selasa 30 Juni 2020.

Kendati demikian, kata dia, moderasi beragama harus digalakkan, terutama di kalangan generasi milenial. Tujuannya agar milenial juga dapat menerima perbedaan, termasuk perbedaan pendapat yang ada di internal Islam sendiri.

“Yang kita tahu sekarang ada orang yang berbeda pandangan politik, berbeda pendapat itu dianggap lawan, padahal harusnya tidak seperti itu. Sedangkan yang kita tahu dan kita alami dengan tokoh-tokoh di masa peralihan Orde Baru, perbedaan pendapat itu betul-betul dihargai. Tidak dianggap lawan orang-orang yang berbeda pendapat itu,” katanya. (Baca juga: HUT Polri, Puan Berikan Tumpeng ke Polantas Perempatan Kuningan )

Muflich juga mengungkapkan keprihatinannya mengenai masih adanya perbedaan pandangan, baik pandangan politik maupun pandangan ideologi bangsa ini.

“Saya juga prihatin ada banyak orang yang memiliki perbedaan pendapat dan pandangan politik justru dikatakan anti-Pancasila, pengkhianat Pancasila dan sebagainya. Padahal sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita bahwa berdemokrasi dan bermusyawarah itu dengan berdasarkan kemanusiaan. Itu hal lumrah,” ucap Muflich.

Dia juga menyampaikan untuk mewujudkan moderasi beragama khususnya kepada para generasi muda, penyelenggara negara juga harus memberikan contoh atau keteladanan kepada mereka.

“Butuh keteladanan, contoh nyata dari para pejabat negara. Baik eksekutif, legislatif dan yudikatifnya. Dari tingkat pusat sampai ke daerah. Kalau pejabat negaranya sudah memberikan keteladanan tentunya masyarakat akan lebih mudah mengikutinya apalagi generasi mudanya,” tuturnya.

Muflich juga menilai, mereka-mereka yang terpapar paham radikal terorisme adalah golongan yang sumbu pendek yang mudah dihasut karena tidak memahami agama Islam secara mendalam. Untuk itu, dia mengingatkan agar umat Islam mempelajari Islam secara mendalam agar tidak mudah terhasut yang berakibat mudah terpapar paham radikal terorisme tersebut.

“Jadi jangan sampai kita dihasut oleh pihak-pihak yang ingin membenturkan agama dengan negara, Islam dan Pancasila dan seterusnya. Jadi moderasi beragama ini sebenarnya bentuk tanggung jawab kita kepada agama kita, yang Islam ya kepada Islam, yang Kristen kepada Kristen dan sebagainya termasuk kepada generasi setelah kita, yaitu para generasi muda,” tuturnya.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Densus Ungkap 247 Anak...
Densus Ungkap 247 Anak Terpapar Radikalisme dan Kekerasan Sepanjang 2026
Din Syamsuddin Desak...
Din Syamsuddin Desak Polisi Hentikan Laporan ke JK Kasus Dugaan Penistaan Agama
Stafsus Menag Dialog...
Stafsus Menag Dialog dengan Paroki Santo Fransiskus Asisi Aek Nabara, Jamin Hak Beribadah
Sinergi Sekolah-Densus...
Sinergi Sekolah-Densus 88: Perkuat Guru sebagai Lini Terdepan Pelindung Remaja dari Radikalisme
Sambut 1 Muharram, Ulama...
Sambut 1 Muharram, Ulama Ajak Masyarakat Tolak Provokasi dan Jaga Persatuan Umat
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
Kemenag Fasilitasi Penyelesaian...
Kemenag Fasilitasi Penyelesaian GMS Bantul, Stafsus Menag: Kedepankan Musyawarah
Rekomendasi
Aden Indonesia Sinergi...
Aden Indonesia Sinergi Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Routa
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Berita Terkini
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Asosiasi Dosen Ilmu...
Asosiasi Dosen Ilmu Hukum dan Kriminologi Indonesia: Jokowi Apresiasi UU Polri Baru
Dukung Penangkapan Roy...
Dukung Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Peradi Bersatu Minta Polisi Tak Tunduk Tekanan Opini Publik
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Refly Harun Ungkap Dokter...
Refly Harun Ungkap Dokter Tifa Pakai Baju Tahanan atas Kesadaran Sendiri: Biar Dunia Tahu Kalau Kezaliman Terjadi
Jokowi dan PSI Dinilai...
Jokowi dan PSI Dinilai Satu Paket Politik, Ini Temuan Survei LPI
Infografis
Perbedaan Amnesti dan...
Perbedaan Amnesti dan Abolisi, Ini Tokoh yang Pernah Mendapatkannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved